Main Menu

Suka Duka Para Pencari Jenazah di Mekah

Dani Hamdani
10-10-2015 14:20

Tim inti Perlindungan Jamaah Pada Panitia Penyelengggaraan Ibadah Haji (PPIH) di depan Al Mu'ashim, Mekah (Dok Kemenag/Antara)

- Letkol Jaetul Muchlis Basyir tak pernah menduga tugasnya di Tanah Suci bakal berubah menjadi pencari jenazah. Sebagai Kepala Seksi Perlindungan Jamaah Haji di Mekah, tugasnya melindungi jamaah haji yang tersesat terutama saat ibadah di Masjidil Haram atau mereka yang sakit, terluka, dan meninggal di luar sarana kesehatan. Tim Linjam begitu biasanya disebut.
 
Namun dua musibah besar yang melanda jamaah haji tahun ini di Mekah dan Mina, memaksa tim yang beranggotakan TNI, Polri, dokter, dan Konjen RI ini berubah menjadi pencari jenazah di pemulasaran mayat. Jatuhnya Crane di Masjidil Haram yang menewaskan lebih 100 jamaah dan desak desakan di  Mina yang menewaskan lebih 1000 orang, membuat tugas identifikasi korban asal Indonesia tidak mudah.
 
 
Maklum sebagai negara pengirim jamaah haji terbesar, di hampir setiap sudut tempat peribadahan di tanah suci selalu saja ada orang Indonesia. Sehingga wajar bila ada peristiwa apapun ada jamaah indonesia. 
 
 
Tiap ada peristiwa besar yang menimbulkan banyak korban meninggal dan cidera, memang Tim Linjam inilah yang menjadi andalan terdepan untuk mendapat informasi terkini tentang kondisi jamaah di medan peristiwa. Mereka blusukan ke rumah sakit juga ke Al Mu'ashim, tempat semua korban meninggal dalam Peristiwa Mina maupun crane roboh dikumpulkan, sebelum dimakamkan.
 
 
"Makanya pekerjaan kami agak unik, mengusik-usik kamar-kamar jenazah (di rumah-rumah sakit) dan penampungan mayat yang ada di Arab Saudi," ujar Muchlis, Letkol dari TNI Angkatan Udara itu, dengan logat Sunda yang kental seperti dilaporkan Antara. 
 
 
Pekerjaan yang bagi sebagian orang mungkin menakutkan, namun bagi Muchlis, dr Taufik Tjahjadi, Fadhil Ahmad, dan Naif Bajri Basri Marjan yang menjadi tim inti identifikasi jenazah, nampak sangat dinikmat. Bukan hanya untuk melaksanakan amanah yang diberikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kepada mereka, tapi lebih dari itu untuk melayani para tamu Allah. 
 

"Kadang jamaah yang sedang kami cari sampai kebawa dalam mimpi," ujar Muchlis dengan nada serius, tanda ia tidak bergurau. 
 
Mereka juga ikut berduka ketika jamaah yang diinformasikan belum kembali ke pemondokan sejak Peristiwa Mina maupun crane roboh, tidak juga berhasil ditemukan atau mereka identifikasi.
 
 
Menembus Birokrasi Saudi
 
 
Salah satu tantangan terberat Tim ini adalah menembus birokrasi otoritas di Arab Saudi guna mendapatkan informasi terkait korban tidaklah mudah. 
 
 
Jika tidak pintar membaca peluang dan berstrategi, mereka yang datang untuk mencari informasi bisa kembali dengan tangan hampa. Hal itu juga tak jarang dialami Tim Linjam. 
 
 
Tapi hal yang tak kalah penting adalah informasi tentang jamaah yang hilang, dari pihak rombongan maupun keluarga. "Informasi sekecil apapun sangat berharga dan kami tindak lanjuti," kata Muchlis. 
 
 
Berdasar informasi itu tahap berikutnya menembus birokrasi atai petugas di Mekah yang biasanya kaku dan sulit berkomunikasi.
 

"Segala cara kami lakukan," ujar Muchlis lagi. Ia bahkan bersedia melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan di kampungnya. Seperti berpelukan dan mencium pipi kanan dan pipi kiri pada orang Arab yang baru ditemui. 
 

"Yaa kalau lazimnya orang sini harus peluk kiri kanan, cipika-cipiki (cium pipi kanan dan kiri) itu kami lakukan semua, yang penting dapat akses masuk untuk mendapatkan informasi," kata Alumni Seskoau tahun 2007 itu. 
 

Tidak itu saja, agar bisa lebih dekat dengan petugas yang punya otoritas untuk menembus akses data tentang jamaah yang menjadi korban meninggal, mereka pun mengobral janji. Muchlis biasa berjanji akan mengantar sang petugas kemanapun mereka ingin pergi bila berkunjung ke Indonesia.

"Pokoknya kami mengekspos apa aja yang mereka suka, yang penting terjadi harmoni dan bisa dapat akses yang luas," ujar ayah dari dua orang putra dan satu putri yang ramah itu. 


Untung ada Naif

Beruntung Tim Linjam memiliki Naif Bajri Basri Marjan (33). Pria berdarah Palembang, Sumatera Selatan, yang lahir dan besar di Arab Saudi. Akibatnya ia lebih pandai dan fasih berbahasa Arab ketimbang berbahasa Indonesia.
 
 
Selain itu, pemuda bertubuh tinggi dan berparas putih itu nampak paham betul kultur orang Arab. 

"Orang Arab itu suka kalau kita bantuin dia," ujar Naif dengan Bahasa Indonesia yang kadang terbalik-balik, pendek dan patah-patah.

 
Karena ringan membantu itu menjadi salah satu pintu masuk untuk menembus data dokumen jenazah yang ada di pemulasaran mayat, Naif dan anggota tim linjam lainnya melakukan aksi bantu-bantu merapihkan arsip di tempat tersebut. 

 
Tentunya, hal itu juga dimanfaatkan mereka untuk mencari dokumen tentang jenazah yang ditengarai berasal dari Indonesia. Satu paket atau file dokumen itu biasanya berisi semua yang melekat pada tubuh jenazah ketika ditemukan, seperti gelang tembaga yang menjadi identitas jamaah haji Indonesia, pakaian ihram, slayer, kartu penginapan, kartu bus, dan lain-lain. 

 
"Kami melakukan verifikasi berangkat dari kebiasaan orang Indonesia dan kelaziman mereka. Baik dari segi berpakaian dan raut muka (foto) serta hal lain yang khas seperti gelang dan slayer yang beraneka warna. Itu modal kami menelusuri keberadaan mereka yang diduga sebagai korban dalam peristiwa tersebut," kata Muchlis yang sudah beberapa kali memimpin tim linjam sehingga nampak paham betul karakter jamaah Indonesia hanya dengan melihat dari kejauhan.
 

Sampai hari ke-15 sejak peristiwa Mina, Tim Linjam tersebut telah berhasil menemukan 149 korban peristiwa Mina. Sebanyak 118 jamaah menjadi korban meninggal, empat jamaah menjadi korban luka dan masih di rumah sakit, 26 jamaah telah kembali ke pemondokan mereka. 

 
Sedangkan sisanya lima jamaah hingga Jumat 9 Oktober 2015 belum diketahui keberadaannya sejak peristiwa Mina terjadi. Namun, para pencari jenazah yang tidak mengenal lelah sebelum tugas dituntaskan itu, juga menemukan lima jamaah WNI yang telah bermukim di Arab Saudi, ikut menjadi korban dalam tragedy tersebut.

 
Sementara untuk korban crane roboh, mereka telah berhasil mengidentifikasi 55 jamaah Indonesia yang menjadi korban, 12 diantaranya meninggal dunia, dan 43 mengalami cidera ringan dan berat. 
 

"Kami berharap pada musim haji tahun depan, ada contingency plan (rencana darurat) untuk mengantisipasi kejadian luar biasa seperti ini, sehingga bila ada peristiwa besar bisa langsung action', tidak perlu terlalu banyak rapat dan briefing," ujar Kepala Subdinas Pembinaan Dinas Perawatan Personel di TNI-AU itu. 

Editor: Dani Hamdani  

Dani Hamdani
10-10-2015 14:20