Main Menu

Haji Overstayers

Asrori S Karni
20-10-2016 17:16

Ilustrasi (Antara/Prasetyo Utomo/AK9)

Jakarta, GATRAnews -- Kasus baru seputar haji, tapi klise, yang kembali terjadi adalah penangkapan calon jemaah haji asal Indonesia tanpa visa haji dan berstus overstay. KJRI Jeddah melakukan pemeriksaan (BAP) terhadap 229 WNI yang digrebek di daerah Aziziyah, dekat Supermarket Bin Dawood, Mekah, Kamis, 8 September lalu.

Mereka terdiri atas 155 perempuan, 59 laki-laki dan 15 anak-anak. Mereka masuk Saudi dari Jeddah pada Jumat, 2 Agustus 2016. "Mereka bermaksud melaksanakan ibadah haji, tapi tanpa tasreh (surat izin)," kata Dicky Yunus, acting Konjen RI di Jeddah.

Perkembangan sampai Selasa malam, menurut Dicky, "Tercatat 147 WNI sudah diterbitkan exit oleh Pemerintah Saudi," katanya. "Mereka hanya dikenakan hukuman deportasi, serta dilarang masuk Saudi selama 10 tahun. Sisanya, 82 orang, menunggu hasil finger scan Imigrasi Saudi."

Mereka berada di tahanan sementara imigrasi, yang disebut tarhil shumayshi, sekitar 50 kilometer di antara Jeddah-Mekkah. "Kondisi mereka saat ini baik. Fasilitas tahanan imigrasi Saudi sangat lengkap. KJRI memiliki mandub tetap (staf penghubung) untuk berkomunikasi dengan WNI yang ditahan," Dicky menjelaskan.

WNI tersebut umumnya datang dengan visa umrah. "Semua awalnya legal," kata Dicky. Mereka menjadi overstayers setelah tinggal bersama teman satu daerah atau famili yang lebih dahulu bermukim di Saudi. "Mereka berdiam di Saudi melebihi batas tinggal dan mencari penghasilan menjelang musim haji dengan cara berdagang atau bekerja paruh waktu. Kesalahan teman-teman WNI hampir seragam, tinggal di Saudi melebihi batas waktu."

Mereka dipicu motif ekonomi untuk mencari penghidupan lebih baik di Saudi. Dengan moratorium pengiriman tenaga kerja informal, mereka memanfaatkan visa umrah untuk masuk Saudi. "Dari tiap wawancara staf kami, jelas faktor desakan ekonomi yang membuat mereka nekad mencari peruntungan ke Saudi," ujar Dicky.

Masuk Saudi dengan visa umrah, Saudi tidak membatasi. Umrah dibuka 10 bulan setahun. Sejak Agustus lalu, Saudi memberlakukan ongkos visa 2.000 riyal untuk mereka yang haji dan umrah kedua atau lebih. "Untuk haji dan umrah kali pertama, gratis," ujarnya.

Modus haji dengan cara overstay memang masalah lama yang tak kunjung diselesaikan. Para biro penyelenggara jasa haji dan umrah menyebut kelompok itu dengan julukan khas: ''umrah sandal jepit''. Berangkat umrah bulan Ramadan, berlanjut tinggal di Mekkah hingga musim haji. Musim haji 2006 malah pernah ditahan sampai 600 calon haji overstayers.


Asrori S. Karni

Artikel ini dimuat di Majalah Gatra Edisi 46 Tahun XXII, Tanggal 15-21 September 2016

Majalah Gatra dapat dibeli di sini

 

Asrori S Karni
20-10-2016 17:16