Main Menu

Kementan Kembangkan 13 Komoditas Substitusi Impor

Iwan Sutiawan
06-09-2018 14:45

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman (GATRA/Agriana Ali/yus4)

Denpasar, Gatra.com - Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mengembangkan 13 komoditas substitusi impor yakni gandum, tebu, sapi atau daging sapi, kedelai, kapas, susu, bawang putih, kacang tanah, dan pati ubi kayu untuk mendukung upaya pemerintah mengendalikan neraca perdagangan.

 

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan keterangan tersebut dalam acara penandatanganan nota kesepahaman dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) tentang Stabilisasi Ketersediaan Pasokan Pangan dan Percepatan Ekspor Komoditas Pertanian di The Anvaya Beach and Resort Bali pada Kamis (6/9).

Menurutnya, komoditas tersebut sangat dimungkinkan untuk disubstitusi dengan komoditas yang sama atau komoditas lain yang dapat dikembangkan di Indonesia. Untuk mewujudkannya, diperlukan investasi komoditas substitusi impor sebesar Rp68,08 triliun atau Rp13,62 triliun per tahun.

Investasi tersebut akan memberikan penciptaan total kesempatan kerja sebesar 1,87 juta orang, atau 0,37 juta orang per tahun, serta potensi penghematan devisa Rp 83,76 T selama 5 tahun.

"Hal ini sangat dimungkinkan karena Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha," kata Amran.

Untuk mendorong iklim investasi, Kementan pada 15 Mei 2018 telah meluncurkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) atau Padu Satu Kementan yang berlokasi di Lantai Dasar Gedung B Kantor Pusat Kementan. Cukup melakukan satu kali aplikasi, pelaku usaha bisa melakukan beragam proses yang melibatkan lintas kementerian atau lembaga, dan pemerintah daerah.

Menurutnya, Layanan Padu Satu mengedepankan prinsip trust, sehingga pelaku usaha tidak dituntut beragam persyaratan yang memberatkan untuk memulai usaha. Tentu dengan pola pengawasan yang lebih intensif.

"Saat ini, investasi pertanian yang mencapai Rp45 triliun di 2017, atau naik 14 persen per tahun sejak 2013," ujar Amran.

Sementara deregulasi 141 aturan yang selama ini menghambat iklim investasi di bidang pertanian, telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tren nilai investasi pertanian PMA-PMDN selama 2014-2017 naik 42.94% atau 10.74% per tahunnya.

Seiring dengan upaya substitusi impor tersebut, Kementan juga telah berhasil meningkatkan dan terus mengupayakan peningkatan produksi dan ekspor komoditas pertanian, serta menjaga inflasi tetap rendah.

"Berbagai upaya Kemetan selama 4 tahun dalam meningkatkan produksi komoditas strategis, ekspor, dan investasi, terutama dengan mengangkat potensi pertanian daerah telah terbukti dapat menekan laju inflasi dan meningkatkan daya saing komoditas. Laju inflasi rata-rata nasional menurun dari 6,38 persen pada tahun 2015 menjadi 3,25 persen pada tahun 2018," kata Amran.

Iwan Sutiawan
06-09-2018 14:45