Main Menu

Kementan Manfaatkan Teknologi Iradiator Gamma untuk Dorong Ekspor Buah Segar

Iwan Sutiawan
21-09-2018 19:07

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, kunjungi IGMP. (Dok. Kementan/re1)

Tangerang Selatan, Gatra.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemanfaatan Fasiltas Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP) untuk mengatasi hama termasuk lalat buah yang merupakan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

 

"IGMP hendaknya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Teknologi ini dapat diterapkan untuk disinfestasi lalat buah sehingga semakin terbuka lebar peluang akselerasi ekspor produk buah segar Indonesia ke negara-negara memberlakukan persyaratan SPS [Sanitary and Phytosanitary] yang ketat," kata Sri Wijayanti Yusuf, Direktur Perlindungan Hortikultura.

Sri menyampaikan keterangan tersebut saat menyambangi Fasiltas IGMP di Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, pada Selasa (18/9). Menurutnya, Indonesia sebagai negara tropis mempunyai varian buah cukup tinggi.

Setiap daerah di Tanah Air memiliki produk unggulan dan sudah ditanam dalam skala cukup luas. Selain untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan luar negeri, kebun buah juga bisa menjadi sarana agrowisata menarik bila dikelola secara baik. Oleh karena itu pengembangan komoditas buah terus dikembangkan di berbagai daerah.

Produksi buah di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 yakni pisang 7.162.680 ton, mangga 2.203.791 ton, jeruk 2.165.189 ton, nanas 1.795.985 ton, durian 795.204 ton, salak 953.845 ton, rambutan 523.700 ton, papaya 875.108 ton, nangka 656.583 ton, alpukat 363.148 ton, manggis 161.750 ton, dan jambu 200.487 ton.

Mangga merupakan salah satu buah yang banyak dilirik oleh berbagai negara seperti Jepang, Korea, Australia, dan New Zealand. Dalam upaya akselerasi ekspor buah mangga segar, lalat buah menjadi hambatan non tarif.

"Lalat buah merupakan OPT Karantina bagi negara importir sehingga beberapa negara memberlakukan persyaratan teknis Sanitary and Phytosanitary World Trade Organisation (SPS-WTO), yaitu perlakuan disinfestasi lalat buah dengan tidak mengurangi kualitas dan rasa buah," ujar Sri.

Teknologi nuklir di bidang pengendalian hama penyakit dapat diaplikasikan untuk memenuhi persyaratan teknis tersebut. Teknologi tersebut telah tersedia di Indonesia namun belum banyak dimanfaatkan untuk persyaratan SPS dalam ekspor buah segar.

Adapun Fasilitas IGMP merupakan hasil kerja sama antara Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dengan pihak Isotop Hongaria. Fasilitas IGMP telah siap melayani para pelaku industri.

"Keuntungan dari pemanfaatan IGMP adalah proses efektif, dapat membunuh hama dan penyakit dan tidak ada residu kimia beracun. IGMP juga tidak merusak kandungan gizi pada bahan pangan, bisa untuk produk kemasan, dapat digunakan untuk sterilisasi serta aman dikonsumsi," kata Sri.

Pemberian dosis radiasi disesuaikan dengan Permenkes Nomor 701/Menkes/Per/VIII/2009. Implementasi perlakuan iradiasi terhadap bahan pangan dengan tujuan mengeradikasi OPT dan memperpanjang masa simpan. Parameter sasaran perlakuan iradiasi pada OPT meliputi kematian (mortalitas), kegagalan perkembangan imago, kemandulan (sterilitas), dan sifat dorman (inaktivasi).

Sementara itu, Supandi, Kepala Kelompok Iradiator BATAN menyatakan, siap bekerja sama untuk mendorong ekspor buah Indonesia ke seluruh dunia. "Kami siap bekerja sama untuk mendorong ekspor buah Indonesia ke seluruh dunia. Semoga nilai ekspor buah segar Indonesia semakin meningkat," ucapnya.

Iwan Sutiawan
21-09-2018 19:07