Main Menu

Kementan Dorong BUMN Bermitra dengan Peternak Tingkatkan Skala Usaha

Iwan Sutiawan
23-09-2018 23:56

Penandatanganan Kerja Sama Jasindo dan KAN. (Dok. Kementan/re1)

Malang, Gatra.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta menjalin kemitraan dengan peternak melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) untuk mendongkrak peningkatan populasi sapi dan produksi susu dalam negeri.

 

"Untuk meningkatkan skala usaha peternak sapi perah, Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH terus mendorong semua pihak, baik swasta maupun BUMN bermitra dengan peternak," kata Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan.

Fini menyampaikan keterangan tersebut saat menghadiri acara penandatanganan nota kesepahaman antara PT. Jasindo selaku BUMN dengan Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung di Malang, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (22/9).

Menurutnya, BUMN dan swasta harus menjalin kemitraan demi meningkatan produksi susu nasional yang saat ini masih jauh dari mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan nasional sehingga perlu untuk terus dikembangkan. Peningkatan skala usaha kepemilikan ternak bagi peternak merupakan salah satu solusi untuk mendongkrak peningkatan populasi sapi dan susu dalam negeri.

Fini menyebutkan, produksi susu segar nasional tahun 2017 masih rendah, yaitu 922,9 ribu ton dan sampai saat ini 79,2% kebutuhan susu masih diimpor dari luar negeri. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan perkembangan populasi dan produktivitas sapi perah masih belum sesuai harapan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, lanjut Fini, rumah tangga peternakan sapi perah nasional saat ini sebanyak 142 ribu yang sebagian besar merupakan peternak kecil dengan kepemilikan sapi perah dibawah 4 ekor.

Selama ini, pengembangan sapi perah dengan berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah, di antaranya bantuan ternak, program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), subsidi bunga Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR), bantuan premi asuransi, dan fasilitasi pengembangan investasi, dan kemitraan.

Namun, ujar Fini, dengan keterbatasan APBN, penambahan sapi belum bisa sepenuhnya difasilitasi oleh pemerintah. Untuk itu, diperlukan sumber-sumber pembiayaan yang murah melalui non-APBN.

Karena itu, Fini mengapresiasi langkah PT. Jasindo. Pasalnya, selain menjadi offtaker dan avalis, juga melakukan pendampingan dan pemberdayaan. Program kemitraan dari BUMN ini merupakan salah satu sumber pembiayaan yang murah, dengan bunga 3% dan lama pengembalian 3 tahun. Skema dengan bunga yang sama telah lama diusulkan oleh Ditjen PKH, namun baru disetujui melalui KUR dengan bunga 7%.

"Pemerintah memberikan apresiasi kepada PT. Jasindo yang telah percaya kepada usaha peternakan dan meluncurkan Program Kemitraan BUMN kepada 50 orang peternak anggota KAN Jabung dengan total pembiayaan Rp1 miliar. Pembiayaan ini akan digunakan untuk pembelian 50 ekor sapi perah oleh KAN Jabung," katanya.

Fini berharap ini merupakan langkah awal dan mamacu lebih banyak BUMN maupun swasta untuk mau bermitra dengan peternak kecil, sehingga percepatan peningkatan produksi susu sapi di dalam negeri lebih cepat terealisasi.

"Mari BUMN-BUMN yang ikut bersama-sama bersinergi membangun usaha peternakan lewat PKBL. Begitu juga swasta dengan memanfaatkan program Corporate Social Responsibility (CSR)," kata Fini.

"Kami berharap, lebih banyak lagi koperasi-koperasi bahkan swasta baik IPS maupun Farm ikut berperan sebagai pendamping, avalis, dan offtaker bagi peternak kecil, sehingga kita bersama-sama berkembang dan mewujudkan percepatan peningkatan produksi susu nasional," ujar Fini.

Selain PT. Jasindo di Jawa Timur, program kemitraan dengan peternak sapi perah juga dilaksanakan oleh Sucofindo dan PT. Pelindo III dengan Koperasi Setia Kawan di Kabupaten Pasuruan sebesar Rp15,2 miliar untuk 24 kelompok yang beranggotakan 554 orang dengan jumlah sapi yang dimiliki sebanyak 1.080 ekor.

Sucofindo juga telah memfasilitasi program Bina Lingkungan dengan mendukung pengembangan kampung susu sebagai agrowisata dan edukasi di Koperasi Setia Kawan Pasuruan. Fini meyakinkan, apabila PKBL ini dimanfaatkan dengan baik, maka akan lebih banyak lagi PKBL bagi peternak.

Bina Lingkungan untuk sapi perah dapat berupa sarana pengolahan biogas, pupuk, alat angkut susu berpendingin, alat pengolahan pakan, dan lain-lain. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain pemberdayaan dan pengembangan kemitraan usaha yang mewujudkan percepatan peningkatan produksi dan produktifitas, serta mensejahterakan.

Kemudian, peningkatan kepercayaan pada kemampulabaan sektor usaha peternakan, optimalisasi asuransi ternak sapi, khususnya untuk sapi perah dan peningkatan pemanfaatan asuransi ternak mandiri, serta terakhir replikasi pola kemitraan dengan memanfaatkan PKBL kepada pelaku usaha peternakan lain.

Iwan Sutiawan
23-09-2018 23:56