Main Menu

Kontroversi Sperma Buatan Tiongkok

Dani Hamdani
25-03-2016 23:13

Ilustrasi Sprema (AFP)

Jakarta, GATRAnews - Joko, bukan nama sebenarnya, dan istrinya sudah 10 tahun berjuang untuk mendapat momongan. Pria 35 tahun ini menjalani sejumlah terapi untuk mengetahui kesulitan ini. Langkah pertama adalah berkonsultasi ke dokter ahli kandungan.

 

Pasangan yang bermukim di kawasan Jakarta Selatan ini diperiksa organ fertilitasnya. Si suami diperiksa sperma, sedangkan istri diperiksa darahnya. Walhasil, yang bermasalah adalah sang suami. Ia tidak memiliki bibit sperma yang bisa membuahi sel telur, atau azoospermia.

 

"Dia disebut azoo karena spermanya enggak keluar," ujar dokter. Setelah pemeriksaan lebih jauh, ternyata ada penyumbatan di saluran sperma. 
Pasangan suami-istri ini akhirnya menjalani program bayi tabung. Upaya itu membuahkan hasil. Pada awal tahun ini mereka memiliki momongan.  

 

Selain Joko, ada beberapa pria lain yang menderita karena tak bisa mendapatkan keturunan. Dalam banyak kasus, pria menyumbang angka 38% penyebab kemandulan. Penyebab mandul itu, antara lain kualitas dan kuantitas sperma rendah, saluran sperma tersumbat, dan faktor hormonal.

 

Maka, berbagai penelitian untuk membantu pria pun terus digalakkan. Salah satunya dengan mengembangkan sperma melalui sel punca.  

 

Adalah periset Chinese Academy of Science, Beijing and Nanjing Medical University, Cina, yang melakukan studi tersebut. Laman bbc.com menuliskan, akhir bulan lampau, tim yang dipimpin Xiao-Yang Zhao mengambil sel punca mencit.

 

Setelah dikombinasikan dengan bahan kimia, hormon, dan beberapa jaringan testis, sel tadi diarahkan ke spermatid, calon sperma yang belum matang. Pengkulturan di laboratorium dilakukan pada suhu 37 derajat Celcius, sesuai dengan suhu tubuh manusia.  

 

Sperma terbentuk tanpa kepala dan tak bisa berenang. Meski begitu, ia memiliki informasi genetik yang lengkap. Sel-sel tadi pun membelah diri secara meiois (pembelahan sel yang hanya terjadi pada fase reproduksi seksual). Untuk membuktikannya, Zhao dan koleganya memasukkan sel sperma ke sel telur mencit melalui pembuahan di luar kandungan. "Mencit tadi sehat dan hamil," ujarnya. 


Zhao mengatakan, keberhasilan risetnya bisa memberikan inspirasi bagi studi serupa yang akan diterapkan pada manusia. Toh, ia mengakui bakal mengalami hambatan etik dan risiko yang mungkin timbul. 

 

Riset ini merupakan keberhasilan pertama penciptaan sperma lewat teknologi sel punca. Sebelumnya beberapa peneliti melakukan hal serupa. Namun mereka gagal melakukan pembelahan sel-sel secara meiosis, yang melibatkan pula pembelahan asam dioksiribo nukleus (DNA) sel.  


Ambil contoh penelititian yang dilakukan tim dari Universitas Kyoto, Jepang pada 2011. Mereka berhasil menciptakan sel-sel sperma dari sel punca tikus. Namun tatkala mulai matang dan dimasukkan ke dalam testis, sperma tadi tidak dapat membelah diri secara meiosis.

 

Sedangkan yang terjadi pada riset peneliti Cina, "Mereka bisa menenuhi standar emas, membuat bayi," ujar May Ann Handel, biolog reproduktif Jackson Laborator, Br Harbour, yang membantu proses pada preparat. 

 

Tiga Tikus berusia 12 bulan hasil pembuahan oleh sperma buatan  peneliti Cina (Nature/Xiao-Yang Zhao/Qi Zhou/Jia-Hao Sha)

Tiga Tikus berusia 12 bulan hasil pembuahan oleh sperma buatan peneliti Cina (Nature/Xiao-Yang Zhao/Qi Zhou/Jia-Hao Sha)

 

Banyak ahli yang menilai riset Zhao akan berhasil pula diterapkan pada manusia. "Jika bekerja pada mencit, tak ada alasan tidak dapat berfungsi pada manusia," kata peneliti sel punca George Daley dari Harvard Medical School, Boston, Amerika Serikat.  

  

Namun tak sedikit pula yang skeptis. Biolog sel Mitinori Saitou dari Universitas Tokyo, menilai tak masuk akal menciptakan sperma pada suhu 37 derajat. Baginya, suhu itu lebih panas dari suhu testis menggantung di luar tubuh. Suhu testis 3 derajat lebih rendah.  


Menanggapi temuan tadi, Indra Gusti Mansur, androlog pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menyayangkan teknologi itu sebatas membuat spermatid, yang belum bisa bergerak.

 

Padahal proses pembuahan baru bisa dilakukan ketika spermatid itu masuk ke sel telur, seperti yang dilakukan spermatozoa yang bergerak dan memiliki ekor. Maka, pembuahan dengan spermatid itu hanya bisa dilakukan melalui proses bayi tabung. Namun, menurut Indra, tidak tertutup kemungkinan bila penelitian itu bisa sampai mengembangkan sperma yang bisa bergerak atau spermatozoa.  


Pada tahap spermatid, wanita dipersiapkan menjalani proses bayi tabung. "Jadi dia (perempuan) diberikan suntikan hormon agar produksi sel telurnya bertambah banyak," ujar Indra.  

 

Pada kondisi normal, wanita cuma mengeluarkan 1-2 sel telur. Jika keduanya dapat dibuahi, bisa terjadi bayi kembar. Pada proses bayi tabung, sel telur yang banyak dikeluarkan semua. Tapi dalam pembuahan di luar kandungan, hanya satu sel telur yang dibuahi. 


Meski secara teknologi memungkinkan, kata Indra, teknologi itu belum tentu diterima di semua negara, termasuk Indonesia. "Bank sperma saja di Indonesia enggak boleh," katanya kepada GATRA, Kamis pekan lampau. Selain itu, juga terbentur masalah etik, karena jaringan sperma dianggap sakral. Bayi yang diakui selama ini adalah bayi yang lahir dari sperma suami yang sah.  


Aries Kelana dan Taufiqurrohman 

Kesehatan, Majalah GATRA, Edisi No 21 Tahun XXII, Beredar Kamis, 24 Maret 2016

Dapatkan di toko buku terdekat, lewat GATRA KIOSK atau Toko Buku digital lain. 

  

 

Dani Hamdani
25-03-2016 23:13