Main Menu

Ini Alasan Anak Anak Menghisap Rokok Elektrik

Dani Hamdani
11-08-2016 14:23

Gerai rokok elektrik atau e-rokok (AFP)

Jakarta, GATRAnews - Wacana menaikan cukai rokok sehingga satu bungkus dihargai Rp. 50.000 atau naik lebih dua kali lipat, banyak didukung karena bakal mengurangi jumlah perokok. Kebijakan itu berjalan cukup baik di banyak negara maju, namun tunggu dulu. Kehadiran rokok elektrik yang lebih murah bisa membuat pecandu nikotin ini pindah mengisap nikotin cair dan pemanas bertenaga baterei tersebut.
 
  
Penelitian terbaru yang dirilis di journal Pediatrics hari Senin (8/8/16) menunjukkan, anak anak muda di Amerika makin banyak yang menggunakan rokok elektrik, karena harganya murah.  
 
"Alasan terbesar mereka adalah karena harganya jauh lebih murah dari rokok yang dibakar, serta mereka masih bisa menghisap pipa itu di tempat yang dilarang merokok," demikian salah satu butir kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Yale School of Medicine tersebut. 
 
Harga mungkin bervariasi tergantung pada merek rokok elektrik (e-rokok) dan pajak tembakau di tiap negara bagian. Namun lanjut hasil penelitian tersebut, menurut perhitungan industri e-rokok, penghematan bisa mencapai ratusan dolar per tahun. 
 

Survey yang dilakukan di Connecticut itu dilakukan di dua sekolah menengah dan tiga sekolah menengah atas pada musim gugur 2013 dan musim semi 2014. Sebanyak 340 siswa dari 2.100 (16%) sudah biasa menggunakan e-rokok.

 

Lebih setengah dari anak-anak itu menghisap e-rokok karena rasa ingin tahu, 41,8% beralasan karena aromanya yang beragam dari mulai rasa permen karet hingga pizza.

 

Namun sekitar sepertiga anak anak itu menghisap e-rokok karena melihat teman mereka menggunakan batang berasap tersebut. Alasan lain, sekitar seperepat anak itu berpendapat e-rokok lebih sehat dibanding rokok tradisional. 

 

Hal lain dari penelitian itu yang mengejutkan adalah mayoritas anak anak yang mencoba jadi kecanduan. Hanya 6% yang berhenti setelah sebulan, namun sekitar 80% jadi pengguna tetap e-rokok.

 

"Semakin muda mereka memulai e-rokok, semakin mereka kecanduan menggunakan e-rokok," kata Krysten W. Bold, salah satu peneliti dan peserta program postdoctoral di Yale School of Medicine, seperti dilaporkan CBCnews.

 

Para peneliti itu mengingatkan pembuat kebijakan untuk menggunakan hasil penelitian itu mengingat semakin populernya penggunakan e-rokok di kalangan anak anak, dan resikonya buat kesehatan mereka.

 

Rokok elektronik (e-cigarette) (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Rokok elektronik (e-cigarette) (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

"Jika kita bisa mengidentifikasi siapa yang bakal menggunakan e-rokok ini enam bulan dari sekarang, kita bisa mengintervensi lebih awal langkah pencegahannya," kata Bold.

 ---------------------------------------

ROKOK ELEKTRIK SEHAT? 

MALAYSIA HARAMKAN ROKOK ELEKTRIK 

SUKABUMI AWASI PEREDARAN ROKOK ELEKTRIK

 --------------------------------------- 

Pada bulan Juni lalu, penelitian di Kanada pada 230 siswa kelas 9 di Ontario menunjukkan 75% penggunaan e-rokok ini tidak sesuai seperti maksud awal penggunaan batang berasap itu. E-rokok dimaksudkan untuk membantu menghentikan kecanduan pada nikotin. 

 

Di Kanada, e-rokok atau juga dikenal sebagai e-juice yang mengandung nikotin dilarang diperjual belikan. 

 

Saat penelitian itu dilakukan, pemerintah Amerika masih belum mengatur soal e-rokok. Memang banyak negara bagian sudah mulai mengatur penjualan dan pemasaran e-rokok.

 

Kini penjualan e-rokok di Amerika mulai perketat. Pada bulan Mei 2016 lalu, badan pengatur makanan dan obat, FDA (Food and Drug Administration) mengatur ketat penjualan e-rokok. Aturan yang baru akan 3 bulan itu, melarang industri e-rokok mengeluarkan jenis pipa baru tanpa ijin FDA.

 

Namun yang terjadi kemudian adalah, pabrikan e-rokok berlomba-lomba mengeluarkan jenis pipa dan aroma arima baru sebelum aturan itu mulai efektif berlaku pada Senin 8 Agustus lalu.

 

FDA juga melarang penjualan e-rokok pada anak dibawah 18 tahun. Para pengusaha  e-rokok besar masih berusaha mencegah aturan itu berlaku dengan menggugat ke pengadilan, juga mendesak dibuatnya undang-undang bari di Kongres.


Editor: Dani Hamdani 

 

Dani Hamdani
11-08-2016 14:23