Main Menu

Ilmuwan Menemukan Vaksin Penjinak HIV

Rohmat Haryadi
09-09-2016 19:15

Bentuk virus HIV Aids (dok. americanpregnancy.org)

Jakarta, GATRANews - Pendekatan baru yang bisa memacu tubuh manusia memproduksi antibodi pemblokir HIV telah berhasil pada tikus. Meniru mekanisme sistem kekebalan tubuh manusia, demikian menurut lima studi yang dipublikasikan tiga jurnal Cell, Immunity, dan Science, hari ini (9/9/16).


Hasil tersebut merupakan karya para ilmuwan yang berafiliasi dengan International AIDS Vaccine Initiative (IAVI); The Scripps Research Institute (TSRI); U.S National Institute of Health's National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID); Howard Hughes Medical Institute (HHMI); Universitas Rockefeller; Ragon Institute of Massachusetts General Hospital, MIT and Harvard; Rumah Sakit Anak-Anak Boston; Massachusetts Institute of Technology (MIT); Harvard Medical School (HMS); Universitas Vanderbilt; Universitas Columbia; Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson (FHCRC); Duke University School of Medicine, dan Kymab Ltd.


"Ini karya awal, tapi kami berusaha untuk menulis ulang beberapa aturan pengembangan vaksin untuk mengatasi tantangan yang luar biasa dari HIV," kata William Schief, Profesor The Scripps Research Institute (TSRI) dan Direktur Pusat Desain Vaksin di TSRI. "Dalam upaya kolaborasi kami telah mencapai tonggak penting, termasuk bukti pertama bahwa imunisasi dengan protein rekayasa dapat menghasilkan  antibodi terhadap HIV. Hasil baru sangat mendukung pengembangan lebih lanjut pendekatan ini terhadap pengujian dalam studi klinis," katanya.


HIV beredar dalam tubuh seseorang bermutasi dalam banyak varian dan menghindari respon kekebalan tubuh dengan ligat. Sejak serangan virus, sel kekebalan yang seharusnya melawannya bersembunyi di sel, yang terus-menerus terinfeksi. Dengan mekanisme baru kini mampu kembali muncul dan menyerang balik setiap saat. Strategi vaksin tradisional selama ini gagal untuk bekerja melawan HIV. Pendekatan baru yang diperlukan untuk mengembangkan vaksin AIDS secara luas dan efektif.


Di laboratorium dan pengujian pada hewan, antibodi penetral (bNAbs) telah menunjukkan keunggulan dalam mencegah atau mengontrol infeksi berbagai varian HIV. Banyak peneliti percaya bNAbs adalah komponen penting dalam vaksinasi AIDS secara luas efektif di masa depan. Namun, secara alami hanya 10% sampai 20% pengidap HIV yang mengembangkan bNAbs dalam tubuhnya. Studi terbaru menunjukkan bahwa bisa membujuk atau merangsang sistem kekebalan tubuh manusia untuk membuat bNAbs guna melawan HIV.


Para peneliti menguji keampuhan pelatihan sistem kekebalan tubuh dengan menembakkan   imunogen (bahan aktif vaksin) untuk mengaktifkan sel-sel prekursor bNAb (sel germline B). Tembakan itu memicu mutasi pada antibodi sampai mereka mencapai bNAbs. Mereka melakukan ini pada tikus yang meniru sistem kekebalan manusia. Mereka bertujuan menghasilkan dua kelas bNAbs (VRC01 dan PGT121), karena diyakini bahwa untuk menetralisir berbagai varian HIV membutuhkan lebih dari satu jenis bNAbs.


Studi lain yang diterbitkan jurnal Science memperluas hasil sebelumnya dengan prime imunogen (EOD-GT8 60mer, nanopartikel yang terdiri dari 60 unit versi rekayasa dari domain luar amplop/bagian terluar protein HIV) yang menjanjikan model pada tikus yang lebih mirip manusia. Dennis Burton, Ketua Departemen Ilmu Imunologi dan Mikroba TSRI, memberikan imunogen pada tikus yang direkayasa untuk mengekspresikan antibodi manusia. Hasilnya, terjadi sel-sel prekursor B untuk VRC01 bNAbs dalam konsentrasi yang jauh lebih rendah daripada yang ditemukan pada manusia. Meskipun demikian, tikus-tikus itu memiliki jenis respon vaksin kekebalan efektif.


Dalam studi lain, yang diterbitkan jurnal Cell, yang dilakukan David Nemazee dan rekan-rekan, tikus yang direkayasa untuk membuat prekursor VRC01 bNAbs dirangsang dengan EOD-GT8 60mer, dan dua immunogens lainnya. Hasilnya, antibodi yang menimbulkan berbagi banyak fitur genetik dengan bnAbs yang matang, dan mampu menetralisir satu jenis HIV, dan mengisolasi beberapa modifikasi HIV. Para peneliti sekarang berpikir bahwa penguat tambahan diperlukan untuk pematangan bNAbs.

Penelitian kedua yang dipublikasikan dalam Cell berhasil dengan pendekatan yang sama. Mereka menunjukkan bahwa serangkaian pendekatan dengan EOD-GT6 60mer imunogen (versi sebelumnya dari 60mer EOD-GT8) meningkatkan antibodi dengan sifat dari bNAbs yang matang. Sistem kekebalan tubuh dapat memproduksi berbagai antibodi dalam skala yang lebih luas. Penelitian itu dilakukan oleh John Mascola dari Pusat Riset Vaksin di NIAID, dan Frederick Alt, seorang peneliti HHMI, bersama dengan rekan-rekannya.

Dengan studi ketiga yang diterbitkan Cell dan yang lain diterbitkan dalam Imunnity, Michel Nussenzweig dan tim di IAVI menunjukkan kemampuan yang berbeda pada penguat immunogens untuk pematangan penuh sebuah PGT121 bNAb yang mampu menetralkan beragam HIV isolat pada model tikus. Ini adalah bukti pertama bahwa imunisasi dengan serangkaian penguatan menggunakan protein rekayasa dapat menghasilkan bNAbs untuk melawan HIV.

Secara bersama-sama, hasil ini menawarkan wawasan yang mendorong untuk uji klinis pada EOD-GT8 60mer untuk mengembangkan penguat immunogens, dan menguji kemampuan mereka untuk memperoleh bNAbs pada manusia di masa depan. Pengembangan vaksin PGT121 dan pengujian pada tikus telah mendorong para peneliti mengembangkan pendekatan agar siap untuk studi klinis.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
09-09-2016 19:15