Main Menu

Pakar Hipertensi Laksanakan Pertemuan Ilmiah InaSH Ke-11

Nur Hidayat
23-02-2017 16:36

Para pakar hipertensi dan pembicara dalam konferensi pers InaSH ke-11 (GATRAnews/Nur Hidayat)

Jakarta, GATRAnews - Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension - InaSH) kembali mengadakan pertemuan ilmiah. Dalam pertemuan ke-11 tahun ini, setidaknya akan hadir 1500-an pakar dan dokter hipertensi dari dalam dan luar negeri yang diselenggarakan di Sheraton Jakarta Gandaria City Hotel pada 24-26 Februari 2017.

"Event ini secara rutin diselenggarakan oleh InaSH dalam rangka memberikan informasi terbaru di bidang kardiovaskular," kata Dr Eka Harmeiwaty, SpS, Ketua Panitia 11th InaSH. Hasil penelitian ilmiah akan ditampilkan dalam bentuk seminar, workshop, presentasi jurnal ilmiah serta beberapa penghargaan yang bertaraf nasional maupun internasional.

[column_item col="3"]

Baca juga: InaSH 2017: Penderita Hipertensi Wanita Makin Meningkat!

Baca juga: Polusi Udara dan Kebisingan Lalu Lintas Memicu Hipertensi

Baca juga: Waspada! 1 dari 3 Warga Indonesia Kena Hipertensi[/column_item]InaSH ke-11 mengambil tema Hypertension 2017: The Science for Today's and Tomorrow's Practice. Sejumlah anggota organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), juga turut andil dalam acara ini.

"Kami cukup berbahagia karena terjadi peningkatan jumlah peserta dibandingkan dengan tahun lalu. Selain itu juga terjadi peningkatan kualitas. Misalnya kami menerima setidaknya 80-an hasil penelitian dari berbagai kalangan dokter. Bahkan juga dari kawasan terpencil di Indonesia. Inilah yang harus terus kita bina," kata Eka.

Dalam kesempatan itu, Ketua InaSH, Dr dr Yuda Turana, SpS, juga berharap InaHS tak hanya bermanfaat bagi para anggota, tetapi juga masyarakat luas, termasuk diantaranya para pejabat negara yang mengurusi bidang kesehatan. "Biaya sosial dan ekonomi yang dikeluarkan untuk pengobatan makin terlihat. Sebagian besar penyakit yang ditangani lewat BPJS Kesehatan saat ini, berawal dari hipertensi," katanya.

Data terakhir tentang biaya klaim kesehatan dari para peserta BPJS Kesehatan Indonesian-Case Based Groups (INA-CBGs) sampai dengan bulan bayar Januari 2016, menunjukkan penyakit jantung paling banyak Rp 6,9 triliun. Kemudian disusul penyakit kanker Rp 1,8 triliun, stroke Rp 1,5 triliun, ginjal Rp 1,5 triliun dan diabetes Rp 1,2 triliun.


Reporter: Nur Hidayat

 

Nur Hidayat
23-02-2017 16:36