Main Menu

E-Rokok: Risiko Kanker Turun, Risiko Stroke dan Serangan Jantung Meningkat

Rohmat Haryadi
25-02-2017 18:53

Macam-macam e-rokok (www.fda.gov)

 

Jakarta GATRAnews - Dunia seolah baru kemarin diberitahu bahwa rokok elektronik (e-rokok) adalah cara paling aman untuk merokok. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengguna e-rokok sebenarnya jauh lebih berisiko mengalami stroke daripada pengguna rokok tembakau. Dalam sebuah studi pada tikus, paparan bahan kimia e-rokok meningkatkan gangguan pembekuan darah yang mematikan dengan merusak otak. Demikian Dailymail, 24 Februari 2017.


Para peneliti dari Texas Tech University memberikan paparan uap e-rokok, dan asap tembakau pada tikus. Mereka dinilai setelah 10 dan 30 hari untuk mempelajari dampaknya. Hasi studi itu dipresentasikan pada American Heart Association's International Stroke Conference di Houston.
Pengujian menunjukkan bahwa paparan uap e-rokok mengurangi kadar glukosa pada otak, bahan bakar yang diperlukan untuk meningkatkan kerja neuron. Uap juga menyebabkan kerusakan pada bahan kimia penting bagi pembekuan, membuat pendarahan otak lebih mungkin. Mereka mengatakan penelitian lebih ketat diperlukan untuk menyelidiki efek dari paparan e-rokok di otak.

Penulis studi Ali Ehsan Sifat mengatakan: “Paparan E-rokok menurun penyerapan glukosa di otak. Glukosa adalah bahan bakar bagi aktivitas otak.”

Dalam sebuah studi pada tikus, paparan bahan kimia e-rokok meningkatkan risiko pembekuan darah mematikan. “Kedua, paparan uap  e-cigarete dan asap tembakau selama 30 hari secara signifikan mengganggu tingkat sirkulasi enzim yang diperlukan untuk pembekuan - berpotensi meningkatkan risiko stroke dan memburuk cedera otak sekunder.”

E-rokok selama ini dianggap sebagai solusi masalah kesehatan bagi perokok. Mereka menggunakannya sebagai alternatif untuk bisa tetap bernafas bersama asap. E-rokok telah dicap sebagai 'pintu gerbang ke merokok', dengan beberapa ahli mengklaim mereka mendorong generasi baru perokok. Mereka memberikan nikotin tanpa racun tembakau.

Namun, penelitian awal bulan ini menemukan bahwa e-rokok meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung. Ilmuwan Universitas California Los Angeles menemukan pengguna e-rokok lebih mungkin memiliki peningkatan kadar adrenalin dalam jantung - faktor risiko pembunuh terkemuka di dunia.

Sementara sebuah studi oleh University College London berkesimpulan e-rokok jauh lebih aman, dan kurang beracun dibandingkan rokok tembakau. Mereka menemukan orang-orang yang beralih ke e-rokok tingkat racun penyebab kanker di dalam tubuh mereka turun hingga 97,5 persen.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
25-02-2017 18:53