Main Menu

Antibiotik dari Serum Darah Naga

Rohmat Haryadi
26-02-2017 05:41

Komodo dengan air liurnya (brithanica.com)

Jakarta GATRAnews- Komodo adalah kadal terbesar di dunia yang sering dijuluki sebagai naga. Air liurnya mengandung 57 spesies bakteri untuk melumpuhkan mangsanya. Menurut penelitian terbaru, darah Komodo bisa menjadi kunci untuk mengembangkan obat baru dalam memerangi super bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Demikian Dailymail, 22 Februari 2017.

 

Tim menggunakan metode yang dikenal sebagai 'bioprospecting,' mengungkapkan fragmen protein antimikroba dalam darah "Sang Naga" yang melindungi mereka terhadap infeksi. Dalam studi tersebut, peneliti dari College of Science di George Mason University, Amerika, menyelidiki apakah mereka bisa mengisolasi zat yang dikenal sebagai kationik peptida antimikroba (CAMP) dari darah komodo -- kadal besar yang tinggal di lima pulau kecil di Indonesia.

Zat CAMP ini merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh bawaan, dan tim yang sebelumnya telah melakukan ini dengan darah buaya. Dengan teknik yang disebut bioprospecting, mereka menginkubasi darah Komodo dengan partikel bermuatan negatif hidrogel untuk menangkap peptida bermuatan positif.
[columns grid="yes" ]
[column_item col="7"][message_box title="Ancaman Super Bakteri Tahan Antibiotik" type="error" close="no"]

Resistensi terhadap antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dan 'mengakali' atau menolak pengobatan antibiotik, sehingga hampir tidak mungkin untuk mengobati infeksi. Bakteri yang membawa gen resistensi terhadap banyak antibiotik yang berbeda disebut superbug.



Sebagian besar infeksi ini terjadi di rumah sakit atau di fasilitas perawatan medis, seperti rumah jompo. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengatakan bahwa lebih dari dua juta orang terinfeksi bakteri resisten antibiotik setiap tahun.



Lebih dari 23.000 orang meninggal akibat infeksi ini setiap tahun. Para ahli mengatakan bahwa jika epidemi tidak dikendalikan, super bisa membunuh lebih banyak orang daripada kanker pada 2050.[/message_box][/column_item]

Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi dan urutan 48 CAMP potensial dengan spektrometri massa. Semua ini, kecuali satu, berasal dari protein histon. Jenis protein yang dikenal memiliki aktivitas antimikroba.

Para peneliti kemudian mensintesis dan menguji keampuhannya 8 peptida komodo terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus.

Strain resisten antibiotik dari S. Aureus (MRSA) merupakan masalah yang berkembang di seluruh dunia. Hasil analisis menunjukkan bahwa tujuh dari peptida dari darah komodo kuat terhadap kedua bakteri itu. Peptida ke delapan hanya efektif terhadap P. aeruginosa.

Serum dari Komodo yang antibakteri, membuka jalan bagi terapi baru untuk mengobati bakteri yang tahan antibiotik. "Studi ini menunjukkan kekuatan dan menjanjikan pendekatan bioprospecting kamiterhadap kationik peptida antimikroba (CAMP). Penemuan mengungkapkan kehadiran sejumlah besar peptida antimikroba histon baru yang diturunkan dalam plasma komodo," demikian para peneliti menulis.

"Temuan ini mungkin memiliki implikasi yang lebih luas tentang peran histon dan peptida histon yang diturunkan dalam memaikan peran untuk melindungi tuan rumah (komodo) dari infeksi," katanya.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
26-02-2017 05:41