Main Menu

Kemenkes Gelar Vaksinasi Pneumokokus Konjugasi di Lombok

Aries Kelana
05-10-2017 15:21

Ilustrasi program vaksinasi (antaranesw/yus)

Gunungsari, GATRANews -- Angka Kematian Bayi (AKB) di Nusa Tenggara Barat cukup tinggi, yaitu di angka 6,3%. Prosentase sebesar itumerupakan angka yang disebabkan oleh pneumonia (radang paru).  Sementara itu, AKB kematian akibat pneumonia secara nasional sebesar 3,55%. Maka, Kementerian Kesehatan (Kemkes) mengeluarkan kebijakan pemberian program imunisasi pneumokokus konjugasi (PCV). Program tersebut akan dilaksanakan secara bertahap sejak Selasa (3/10) di wilayah tadi. Lombok Timur (Lotim) dan Lombok Barat (Lobar) ditunjuk sebagai pilot project.

Pada saat pencanangan Pencanangan Program Demonstrasi Imunisasi Pneumokokus Konyugasi (PCV) di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat, Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH, M.Si, menegaskan bahwa penyuntikan vaksin imunisasi pneumokokus kepada balita merupakan upaya pencegahan penyakit radang paru-paru yang sudah terbukti secara klinis paling efektif dan efisien.

Menurut Amin, pemberian imunisasi PVC merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak NTB, dalam rangka mewujudkan generasi emas tahun 2025. Karenanya ia meminta dukungan dari semua pihak untuk ikut berpartisipasi menyukseskan pelaksanaan imunisasi pneumokokus tersebut.

"Dalam rangka peningkatan kualitas hidup dan IPM Provinsi NTB, kami membutuhkan kerja sama dari para kepala desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai garda terdepan untuk mewujudkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas)," ujarnya seperti dilaporkan Hernawardi Wardi dari GATRANews (5/10/2017).

 Anak yang akan diimunisasi PVC mulai hari ini adalah anak yang yang berumur 2 bulan. Mereka juga  akan mendapatkan imunisasi DPT-HB-Hib 1. Jadi, mereka akan mendapatkan 2 jenis imunisasi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi, mengatakan, pneumonia merupakan penyebab kematian ketiga di NTB setelah asfiksia. Tanda-tanda penyakit ini, antara lain, bayi susah bernafas saat  lahir dan berat badan ketika lahir rendah. Pada 2017 penderita anak di atas 5 tahun tercatat 2.703 orang. Kategori balita sebanyak 11.138 orang penderita pneumonia, sedangkan kematian akibat pneumonia bayi dan balita hingga saat ini sebanyak 89 orang.

“Hanya saja persentase tahun 2015 sudah menurun setelah adanya program MDGs (millenium development goals), ditambah adanya program lainnya di bidang kesehatan. Dan dipilihnya Lobar dan Lotim sebagai pilot project karena memiliki penduduk terbanyak,” ujarnya.

Semantara itu, Ketua Umum ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization), Prof dr Sri Rezeki S Hadinegoro, memberi alasan dipilihnya Lombok menjadi lokasi pilot projek program Kemenkes tersebut. Sebab, NTB sempat menempati angka tertinggi kematian bayi dan balita meninggal akibat saluran pernafasan belum sempurna. Secara biologis, kekebalan tubuh pun masih melemah.

Sri menambahkan, di Lombok tedapat 46% bayi atau balita terdapat serotipe virus ganas yang disebabkan faktor lingkungan. Ini mengingat di Lombok, terutama rumah di pedalaman tidak dilengkapi ventilasi apalagi jendela. Selain itu juga diperparah lagi dengan kebiasaan memasak di dalam rumah menggunakan kayu bakar. Asap sangat berpengaruh terhadap kesehatan bayi, bahkan cepat menurunkan kekebalan tubuh bayi dan balita.

Lantas, Direktur Surveilanse dan Karantika Kesehatan (SKK), Dirjen Pencegahan Pengendalian Penyakit, Dr Jane Soepardi, mengatakan,  anggaran pilot projek PCV ini, sebesar Rp 34, 2 milyar bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.  Sumber lainnya berasal dari bantuan dari Clinton Health Access Initiative (CHAI), organisasi nirlaba dari Amerika Serikat yang didirikan mantan Presiden Bill Clinton, sebesar Rp 14,5 milyar selama tiga tahun.

Dikatakannya, pneumokokukus merupakan penyebab penting infeksi berat pada anak dan penyebab kematian yang dapat dicegah. Maka, Kemenkes mengatasi pheumonia dengan mengurangi risiko (protec), kemudian melalui imunisasi (preven), dan mencegah kematian (treat). “Sebanyak 130 negara telah memberikan PCV dalam program imunisasi nasional dengan hasil yang baik. Di Indonesia pun sama. Harus melakukan tiga hal tersebut. Dalam hal ini Kemenkes memberi perhatian. Banyak menggelontorkan dana biayai vaksin itu,” tuturnya.

Aries Kelana
05-10-2017 15:21