Main Menu

Dunia Ketakutan Terhadap Wabah Global Baru

Rohmat Haryadi
29-01-2018 15:46

Ilustrasi

Davos, Gatra.com - Ketakutan akan pandemik global meningkat karena para ahli telah memperingatkan bahwa tidak ada 'cara menghentikan' penyakit pembunuh jutaan nyawa. Kekhawatiran, yang diangkat dalam Forum Ekonomi Dunia tahunan di Davos, Swiss,  tepat 100 tahun flu Spanyol 1918 yang menewaskan 50 juta orang. Virus H1N1 membunuh tiga kali lebih banyak dari korban Perang Dunia I, dan melakukannya lebih cepat daripada penyakit lain dalam sejarah.


Dan sekarang nama-nama terkemuka, memperingatkan pandemi lain tidak dapat dihindari di tengah kemudahan perjalanan internasional. Virus flu yang bermutasi merupakan ancaman terbesar, karena dapat bergabung bersama dengan strain lain untuk menjadi lebih mematikan.

Elhadj As Sy, sekretaris jenderal Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, mengatakan kepada AFP, "Pandemi menjadi ancaman nyata bagi kemanusiaan." Dr Sylvie Briand, seorang spesialis penyakit menular di Organisasi Kesehatan Dunia, menambahkan: "Kami tahu bahwa ini akan datang, tapi kami tidak dapat menghentikannya."

Pasangan tersebut berbicara tentang keprihatinan mereka pada diskusi Davos yang berjudul "Are We Ready For The Next Pandemic?". Dr Briand menambahkan: "Flu adalah virus pernafasan yang mudah menular dan orang bisa menularkan sebelum mereka menunjukkan gejala, jadi tidak mudah dikendalikan."

Bentuknya yang banyak dan bisa berikatan dengan virus dari burung atau babi dengan kombinasi baru yang mematikan. Proses inilah yang memicu pandemi flu babi tahun 2009 - yang menewaskan hampir 300.000 orang di seluruh dunia setelah menyerang sekitar 60 negara.

[column_item col="6"][message_box title="Bagaimana Flu Spanyol Menyerang 1918?" type="error" close="no"]

Tingkat kematian global yang sebenarnya dari pandemi 1918/1919 tidak diketahui. Virus flu mematikan menyerang lebih dari sepertiga populasi dunia, dan dalam beberapa bulan telah membunuh lebih dari 50 juta orang - tiga kali lebih banyak dari korban Perang Dunia I - dan melakukannya dengan lebih cepat daripada penyakit lain dalam sejarah.



Sebagian besar wabah influenza secara tidak proporsional membunuh pasien remaja, lanjut usia, atau sudah lemah. Sebaliknya, pandemi 1918 secara dominan membunuh orang dewasa muda yang sebelumya sehat. Untuk menjaga moral, sensor masa perang meminimalkan laporan awal tentang penyakit dan kematian di Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika.


Namun, surat kabar bebas melaporkan dampak epidemi di Spanyol, menciptakan kesan palsu bahwa Spanyol mengalami pukulan yang sangat keras - dan menyebabkan pandemi tersebut dinamai flu Spanyol. Tingkat kematian global dari pandemi 1918/1919 memang tidak diketahui. Namun, diperkirakan 10 persen sampai 20 persen dari mereka yang terinfeksi meninggal, dengan perkiraan jumlah kematian berkisar antara 50-100 juta orang.

[/message_box][/column_item]

Komentar tersebut muncul setelah wabah di Madagaskar - epidemi terbaru untuk mendapat bantuan internasional di tengah kekhawatiran akan menyebar. Lebih dari 200 orang tewas dalam wabah yang melanda pulau itu selama musim dingin, yang mendorong 10 negara Afrika di dekatnya dalam siaga tinggi.

Pandemi terbaru - yang didefinisikan sebagai penyebaran penyakit baru di seluruh dunia - adalah virus Zika yang ditularkan nyamuk yang mengguncang Amerika Selatan pada tahun 2016. Infeksi, yang melanda 70 negara, dapat menyebabkan microcephaly, atau bayi yang lahir dengan kepala kecil yang abnormal. Ini mengejutkan ilmuwan.

Dan Ebola, demam berdarah, membunuh 11.000 di Afrika Barat setelah menghancurkan wilayah tersebut antara 2014 dan 2015. Respons internasional terhadap wabah tersebut mendapat kritik karena terlalu lambat, dan para ilmuwan memperingatkan bahwa penyebarannya dengan cepat karena kemudahan perjalanan global.

Dr Briand, yang sebelumnya mengakui bahwa WHO membuat keputusan yang salah dalam menanggapi Ebola. "Ketika kita bepergian, virus-virus tersebut berjalan bersama kita. Kemanusiaan lebih rentan dalam menghadapi epidemi karena kita jauh lebih terhubung dan kita melakukan perjalanan jauh lebih cepat dari sebelumnya." katanya.

Wabah tersebut juga menimbulkan dampak ekonomi yang akut. Richard Hatchett, direktur Koalisi Inovasi Penyadaran Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), juga memperingatkan dampak ekonomi wabah. Pada tahun 2015, ratusan kasus sindrom pernafasan MERS merugikan Korea Selatan $ 10 miliar (£ 7 juta). Bill Gates memperkirakan pada Februari 2017 bahwa mempersiapkan untuk menanggapi pandemi global akan menelan biaya $ 3,4 miliar (£ 2,4 miliar) per tahun.

Biaya potensial jika dunia tidak siap menghadapi  wabah masa depan bisa membengkak menjadi  $ 570 miliar.  CEPI berusaha mengembangkan pengobatan untuk tiga virus yang saat ini tidak ada - MERS, demam Lassa dan Nipah. Dr Briand menambahkan: "Di WHO, kami mencoba mempersiapkan diri menghadapi malapetaka itu. Kami berharap bisa mengurangi dampaknya sebanyak mungkin," katanya.

"Mengembangkan vaksin melawan virus baru, bagaimanapun, berbahaya dan bisa memakan waktu hingga enam bulan, klaim WHO. Tapi harganya mencapai $ 200 juta (£ 140 juta). Dan tidak menyediakan motivasi besar untuk perusahaan obat karena 'tidak ada pasar komersial', kata Hatchett.


Editor: Rohmat Haryadi.

Rohmat Haryadi
29-01-2018 15:46