Main Menu

Para Jompo yang Positif Memandang Kehidupan ’Memperlambat Penuaan Otak’

Rohmat Haryadi
20-02-2018 13:54

Ilustrasi Lansia Super Agers (Shutterstock/Barabasa)

Texas, Gatra.com -- Sebagian besar lansia super agers merokok, minum, menambah berat badan, minum kopi, tidak pernah pensiun. Tetapi otak mereka memiliki fungsi otak lebih baik daripada orang berusia 50-an. Lansia super ager adalah istilah yang merujuk pada kelompok lansia dengan kualitas kemampuan fisik dan mental yang secara umum lebih baik dibandingkan individu seusianya. Bahkan, tingkat kebugaran mereka bisa 20-30 tahun lebih muda daripada lansia lainnya yang sebaya.


Para ilmuwan bingung dengan paradoks yang muncul dari penelitian manula berusia 90 tahun lebih (90+) dimana orang berusia 80 sampai 100 tahun yang tampaknya tahan terhadap penurunan kognitif (kemampuan berfikir). Yang mengejutkan, mereka menemukan bahwa orang-orang dalam kelompok unik ini tidak memiliki ekspresi berlebihan gen APOE 22, yang dianggap protektif terhadap demensia (pikun).

Mereka aktif berbagi pandangan hidup yang lebih positif daripada teman sebayanya, mereka lebih memperhatikan hubungan dekat, mereka sangat aktif - dan pola makan (diet) tampaknya tidak ada hubungannya dengan hal itu. Pemindaian baru juga mengungkapkan bahwa super agers ini memiliki proporsi yang lebih tinggi di otak neuron langka yang disebut von Economo, neuron 'sosial' yang cenderung disfungsional pada orang dengan autisme, skizofrenia, dan gangguan bipolar.

Pakar medis tercengang saat mereka melakukan penelitian 'super-agers', yang meski memiliki banyak gejala yang berhubungan dengan demensia, nampaknya tidak terpengaruh kondisi tersebut. Menyajikan temuan baru Ahad lalu, Emily Rogalski, seorang profesor neurologi kognitif di Northwestern University di Chicago, mengatakan bahwa pandangan hidup sebagai bagian integral untuk menjaga fungsi kognitif.

"Temuan menunjukkan bahwa super agers memiliki profil kepribadian yang unik," katanya kepada Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan di Austin, Texas. "Kapasitas memori yang sangat baik secara biologis mungkin terjadi pada kehidupan akhir dan dapat dipertahankan selama bertahun-tahun bahkan bila ada beban neuropatologis yang signifikan," katanya.

Dengan memilih 10 super agers dari kelompok 74, tim Dr Rogalski mengikuti mereka selama 24 bulan kemudian menganalisis otak mereka setelah mereka meninggal. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa peserta tidak kehilangan protein tau yang menyebabkan demensia, namun mereka tidak memiliki gejala dan menjalani kehidupan aktif yang tak terbayangkan selama lebih dari 90 tahun.

Sebagian besar (71 persen) merokok atau pernah merokok sebelumnya, dan 83 persen masih minum alkohol secara teratur. Usia pensiun rata-rata adalah 68,5 tahun, namun Dr Rogalski mengatakan 18 persen super agers tidak pernah pensiun, dan sisanya cenderung untuk mengambil karir lain di kemudian hari, atau setidaknya sangat aktif di masyarakat.

Tidak ada 'peluru ajaib' dalam hal diet ('tidak, mereka tidak makan lebih banyak blueberry dan beberapa benar-benar menyukai hamburger dan kentang goreng mereka'), tapi mereka cenderung tidur setidaknya delapan jam semalam. Dibandingkan dengan teman sebayanya, mereka juga jauh lebih sosial - namun ada tanda lain bahwa kesepian adalah silent killer. "Ini didasarkan pada gagasan konsekuensi negatif dari kesepian dan konsekuensi positif dari hubungan positif," kata Dr Rogalski.

Belum jelas apakah ini adalah kekuatan pendorong, atau gejala, karena neuron von Economo yang terlalu banyak diekspresikan dalam super agers. Neuron ini hanya ditemukan di otak mamalia besar dan diyakini menawarkan koneksi berkecepatan tinggi antar daerah yang berbeda di dalam otak. Mereka diketahui berkembang pada tahap akhir kehamilan dan anak usia dini dan bisa kurang beruntung.

Studi Dr Rogalski dapat memberikan terobosan dalam penelitian demensia. Berbeda dengan sebagian besar penelitian demensia yang dilakukan sampai saat ini, tidak fokus untuk mencoba membalikkan penyebaran amyloid dan tau, protein cacat yang membentuk benjolan di otak penderita demensia.

Dr Claudia Kawas, profesor neurologi di University of California, mengatakan bahwa temuan tersebut menantang semua hal yang pernah dia ketahui setelah berpuluh-puluh tahun di lapangan. "Saya hampir berpikir kita harus berhenti melakukan penelitian dan mulai menggunakan tubuh dan otak kita lebih banyak lagi," dia menyindir.

"Orang-orang ini menginspirasi - mereka minum anggur, minum kopi, menambah berat badan, tapi mereka berolahraga dan menggunakan otak mereka. Mungkin itu bisa memberi tahu kita sesuatu," katanya.


EditoR: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
20-02-2018 13:54