Main Menu

Stroke Menyerang Remaja, Saatnya Jaga Pola Hidup

Annisa Setya Hutami
25-02-2018 16:13

Dua jenis stroke yakni iskemik dan hemoragik. (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Stroke tidak hanya menyerang kelompok dewasa akhir, tetapi kini juga telah menyerang remaja. Kelompok ini rentan terdiagnosis karena pola hidup yang buruk. Kurang olah raga dan konsumsi makanan menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi,  jarang memeriksakan kondisi tubuh.

 

Ketua Yayasan Indonesia Stroke Society, Adin Nulkhasanah mengatakan pada Sabtu (24/2) di acara Strike Back at Stroke, meskipun jumlah penderita terbanyak pada usia tua, namun terdapat peningkatan prosentase pada penderita usia muda. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran menjaga kesehatan.

 

“ Mereka tidak aware dan kurang olah raga. Anggapan stroke hanya menyerang usia lanjut masih tinggi, sehingga tidak ada kewaspadaan pada kalangan muda. Mereka terlalu sibuk dengan banyak kegiatan dan lupa check up kesehatan. Kalau orang tua sudah banyak yang rutin periksa kesehatan. Mungkin ini yang membuat makin bertambah penderita dari kalangan milenial,” ujar Adin.

 

Terdapat dua jenis stroke seperti iskemik dan hemoragik. Paling banyak kasus terjadi karena iskemik, penyumbatan pasokan pembuluh darah ke otak. Oleh karena itu, perlu mengetahui faktor resiko yang berasal dari hipertensi dan kolestrol tinggi. Menurut Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional, Mursyid Bustami, perlu pengendalian dan mengenali tanda. Bila mengalami hipertensi, dianjurkan konsumsi obat secara rutin.

 

“ Kendalikan faktor resiko, terutama melihat kekentalan darah. Apalagi disertai kondisi penggumpalan darah. Gejala penyumbatan ada yang mirip dengan pendarahan. Untuk memastikan, lakukan CT Scan untuk melihat pendarahan dan penyumbatan,” katanya.

 

Untuk menekan angka kematian akibat stroke, maka harus mampu mengatur tingkat stres. Ia menuturkan setiap kantor membutuhkan pengelolaan atau okupansi untuk mencegah penyakit degeneratif. Mengingat bahaya stroke yang dapat menyerang siapa saja dan tanpa memperlihatkan gejala signifikan.


 Reporter : ASH

Editor : Bernadetta Febriana

Annisa Setya Hutami
25-02-2018 16:13