Main Menu

Dokter Ini Teliti Melasma, Si Bintik Hitam di Wajah, Hasilnya...

Mukhlison Sri Widodo
08-05-2018 14:43

Dosen Fakultas Kedokteran UII, Betty Ekawati Suryaningsih. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Bintik-bintik hitam di kulit wajah sering kali membuat resah perempuan karena mengganggu penampilan.

 

Meski mahal, terapinya kerap tak sesuai harapan, bahkan ada penderita yang sampai hendak bunuh diri.

Kelainan yang disebut melasma itu ternyata dipengaruhi faktor genetik dan paparan matahari.

Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Betty Ekawati Suryaningsih menjadikan melasma sebagai objek penelitian untuk gelar doktornya di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Riset tersebut berjudul "Polimorfisme Gen Reseptor Melanokortin-1 (MC1R) dan Gen Reseptor Antagonis Interleukin-1 (IL-1RA) pada Melasma: Studi pada Populasi Wanita Suku Jawa di Yogyakarta".

Betty menjelaskan, melasma adalah kelainan hiperpigmentasi dengan predileksi pada wajah dan terdistribusi simetris. 

Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita dengan usia reproduktif dan individu bertipe kulit III-V.

"Penelitian yang sudah saya lakukan adalah genetik pada level zigot, dimana bahan penelitian saya ambil dari darah pasien dan melihat Gen MC1 R pada penderita," kata Betty ketika dihubungi GATRA.

Melasma sering memberi dampak negatif pada kualitas hidup penderita dalam berhubungan sosial. Pada kasus melasma berat, Betty menyebut, penderita bahkan sampai mau bunuh diri.

"Kelainan ini sangat sulit diobati dan biayanya mahal. Meski sudah diobati hasilnya sering tidak memuaskan penderita dan dokter yang menanganinya," kata Betty yang juga dokter spesialis kulit dan kelamin di beberapa rumah sakit di Yogyakarta.

Betty menjelaskan, patogenesis melasma sifatnya multifaktorial. Fektor genetik dan paparan matahari diduga jadi peran utama.

Riset Betty hendak mengetahui hubungan faktor genetik dengan kejadian, derajat keparahan, dan tipe melasma pada wanita suku Jawa di Yogyakarta.

"Mengapa wanita suku Jawa? Karena kebanyakan pasien saya di Yogyakarta adalah wanita bersuku Jawa," kata dia menjawab pertanyaan satu penguji di ujian doktoralnya, pada Rabu (25/4), yang berseloroh jika pilihan  suku itu terkait pemilu hingga membuat Betty dan hadirin tertawa.

Dalam riset ini, Betty meneliti pada sampel kelompok penderita melasma 79 orang dan non-melasma juga 79 orang. 

Dia mengaku tantangan terbesar riset ini adalah meminta kesediaan pasien untuk diambil dan dites darahnya.

Lewat serangkaian metode dan analisis, antara lain skrining polimorfisme gen, penelitian Betty menyimpulkan ada hubungan antara polimorfisme gen MC1R Val92Met dengan kejadian melasma.

"Genotip heterozigot Val/Met, paparan matahari, dan umur jadi faktor risiko untuk melasma pada wanita suku jawa di Yogyakarta," kata dia.

Selain itu, ada pengaruh gen tersebut terhadap derajad melasma. Genotip homozigot mutan Met/Met jadi faktor protektif untuk keparahan melasma sedang. 

Namun polimorfisme gen itu tidak memiliki hubungan dengan tipe melasma.

Dari penelitiannya, Betty punya saran pada perempun paruh baya agar tak diserang banyak melasma. "Wanita yang berumur 40 tahun perlu menggunakan tabir surya," ujarnya.

Kendati telah ditahbiskan sebagai doktor ke-3992 UGM, Betty tetap hendak melanjutkan riset tersebut.

"Saya akan melanjutkan penelitian melasma ini.  Untuk penelitian lanjutan saya akan melihat pada level somatik, di mana bahan akan diambil dari kulit penderita yang terkena melasma yang akan dilakukan kultur," ujar istri pejabat eselon II Dirjen Pajak, Edy Slamet Irianto, ini.

Ia mengakui riset lanjutan ini tidak mudah. "Ada kendala terutama adalah dari pasien apakah bersedia untuk dilakukan biopsi atau pengambilan jaringan kulit wajah meskipun dengan teknik yang sehalus mungkin. 

Kendala berikutnya adalah dari komite etik penelitian," kata dia.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
08-05-2018 14:43