Main Menu

Bappenas: Cegah Stunting dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan

didi
29-05-2018 10:55

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (GATRA/Ardi Widi Yansah/FT02)

Jakarta, Gatra.com – Kementerian PPN/Bappenas menyatakan pentingnya mencegah stunting (kate) dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, dalam jangka panjang, stunting menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3% dari produk domestik bruto (PDB) per tahun.

“Jika PDB Indonesia sebesar Rp13.000 trilyun, maka diperkirakan potensi kerugian akibat stunting dapat mencapai Rp260-390 trilyun per tahun (Bank Dunia, 2016),” ujar Bambang dalam keterangan yang diterima, Selasa (29/5).

Ketika dewasa, lanjut dia, anak yang mengalami kondisi stunting pun berpeluang mendapatkan penghasilan 20% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami stunting. Untuk itu, pencegahan stunting menjadi prioritas nasional pemerintah dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan 2019, mengingat saat ini, 1 dari 3 anak balita Indonesia menderita stunting. Pada 2018, pemerintah fokus melakukan pencegahan dan penurunan stunting di 100 kabupaten/kota prioritas.

“Angka tersebut meningkat menjadi 160 kabupaten/kota pada 2019. Dalam pelaksanaannya, penurunan stunting harus dilakukan dengan memperkuat koordinasi lintas sektor dan lintas kementerian/lembaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, penurunan stunting yang juga merupakan prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, harus sejalan dengan penurunan anemia, bayi dengan berat lahir rendah, bayi dengan berat badan di bawah rata-rata (underweight), anak dengan berat badan kurang untuk ukuran tinggi badannya (wasting), obesitas, serta peningkatan cakupan ASI eksklusif.

“Mencegah stunting sangat penting untuk mencapai SDM Indonesia yang berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang merata, serta memutus rantai kemiskinan antar generasi. Komitmen pemerintah daerah sangat penting dalam memastikan program penurunan stunting dapat direncanakan dan dianggarkan dalam dokumen perencanaan di daerah. Kepala daerah harus turun tangan untuk mengawal dan memantau pelaksanaan setiap kegiatan agar berjalan dengan baik dan tepat sasaran,” tegas Menteri Bambang.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan 37,2% atau sekitar 9 juta balita di Indonesia pada 2013 mengalami stunting.

Dampak jangka pendek dari kurang gizi tersebut adalah gagal tumbuh sempurna, berat badan lahir rendah, stunting, dan kurus, juga hambatan perkembangan kognitif dan motorik sehingga berpengaruh pada perkembangan otak dan keberhasilan pendidikan, serta gangguan metabolik sehingga risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, stroke, dan penyakit jantung menjadi meningkat.



Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Rosyid

didi
29-05-2018 10:55