Main Menu

Ini Bahayanya Jika Ibu Hamil Terpajan Lithium

Aries Kelana
19-06-2018 22:45

Ilustrasi ibu hamil.(Shutterstock/re1)

Mount Sinai, Gatra.com -- Sebagian ibu hamil kerap mengalami depresi atau gangguan bipolar. Dokter pun tak jarang memberikan terapi lithium sebagai obat anti psikosis. Padahal lithium bukan zat kimia yang aman bagi tubuh. Lithium bisa membuat janin cacat. Itu berdasarkan hasil penelitian ilmuwan School of Medicine, Mount Sinai, Amerika Serikat.


Para peneliti itu, seperti dilaporkan situs sciencedaily.com (18/6/2018), menemukan peningkatan risiko kelainan janin setelah terpajan lithium dalam trimester pertama kehamilan. Studi ini akan dipublikasikan online di The Lancet Psychiatry.

"Perempuan harus diberitahu tentang risiko malformasi pada bayi yang terpajan pada trimester pertama, tetapi juga tentang risiko kekambuhan yang sangat tinggi untuk penyakit mental baik selama kehamilan dan selama periode pascapartum," kata ketua tim peneliti Profesor Veerle Bergin.

Bergin dan koleganya melakukan studi meta-analisis dari 727 kehamilan dengan paparan lithium dibandingkan dengan kelompok kontrol 21.397 kehamilan pada ibu dengan gangguan mood yang tidak menggunakan lithium. Data diambil dari enam lokasi penelitian di Denmark, Kanada, Belanda, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat. Para peneliti juga mengukur hasil persalinan dan rawat inap rumah sakit neonatal dalam 28 hari setelah kelahiran.

Hasilnya, hampir satu setengah kali lebih banyak bayi yang terpapar lithium selama trimester pertama mengalami malformasi besar dibandingkan dengan kelompok tidak terpapar (7,4 persen dibandingkan dengan 4,3 persen).

 Di samping itu, risiko untuk masuk rumah sakit kembali pada bayi baru lahir juga 2 kali lebih banyak pada bayi yang terpapar lithium dibandingkan dengan kelompok yang tidak terpapar, yaitu: 27,5% berbanding 14,3%.

Namun, paparan lithium tidak terkait dengan komplikasi kehamilan atau hasil persalinan lainnya, seperti pre-eklamsia, kelahiran prematur, diabetes kehamilan, atau berat badan lahir rendah.

Terapi litium secara luas direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama untuk gangguan bipolar, yang mempengaruhi sekitar 2 persen populasi dunia. Lithium membantu mencegah depresi berat dan mania. Di Amerika Serikat, gangguan bipolar lebih sering diobati dengan obat anti-psikotik daripada lithium.

Bergin mengatakan bahwa lithium hanya efektif mengatasi kekambuhan pada pasca kelahiran. “Kalaupun diberikan pada saat hamil, harus dengan dosis rendah,” ujarnya.segera pascapersalinan."


Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
19-06-2018 22:45