Main Menu

PKJS UI : Konsumsi Rokok Akibatkan Anak Stunting

Muchammad Egi Fadliansyah
25-06-2018 17:22

Guru Besar FKM UI, Prof. Hasbullah Thabrany. (Dok.Humas FKUI/RT)

Jakarta, Gatra.com - Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) meluncurkan hasil penelitiannya yang membuktikan bahwa konsumsi rokok pada orang tua mengakibatkan anak stunting. Menurut hasil penelitian tersebut, Kejadian yang paling banyak ditemui di keluarga miskin ini merupakan temuan yang mengejutkan dan penting untuk segera ditindaklanjuti.

 

Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI sekaligus penanggung jawab penelitian tim riset PKJS, Teguh Dartanto, PhD melakukan pengamatan pada berat badan dan tinggi anak-anak (<= 5 tahun) pada 2007, kemudian melacak mereka pada 2014 secara berurutan untuk mengamati dampak perilaku merokok orang tua dan konsumsi rokok pada stunting.

Secara mengejutkan, ditemukan anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan orang tua perokok kronis serta dengan perokok transien cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat dalam berat dan tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di rumah tangga tanpa orang tua perokok.

“Penelitian ini menegaskan anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak merokok akan tumbuh 1,5 kg lebih berat dan 0.34 cm lebih tinggi daripada mereka yang tinggal dengan orang tua perokok kronis. Ini menunjukkan bahwa perokok aktif/kronis cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil. Dengan memperhitungkan faktor genetik dan lingkungan dari anak,” katanya dalam peluncuran hasil penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, di Hotel Four Points, Jakarta, Senin (25/6).

Oleh karena itu, tambahnya, penelitian ini menegaskan adanya bukti kuat dan konsisten secara statistik bahwa anak yang memiliki orang tua perokok kronis memiliki probabilita mengalami stunting 5.5% lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua bukan perokok. Selain itu, kondisi stunting ini akan menyebabkan penurunan kecerdasan/kognitif anak.

“Temuan menarik lainnya adalah peningkatan pengeluaran rokok sebesar 1% (butir persen/percentage point) akan meningkatkan probabilitas rumah tangga menjadi miskin naik sebesar 6%.” Ujarnya.  

Dengan demikian, temuan PKJS-UI ini memberikan bukti berharga bahwa mengendalikan konsumsi rokok tidak hanya akan mengurangi prevalensi perokok tetapi juga akan membuat masa depan Indonesia lebih baik dengan menekan stunting; menjaga anak-anak lahir dengan kondisi yang baik, fisik dan kognitif.

Tim Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) telah melaksanakan studi yang membuktikan efek konsumsi rokok terhadap kemiskinan dan kejadian stunting di Indonesia. Penelitian yang menggunakan dataset longitudinal (1997 – 2014) dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) ini membuktikan bahwa perilaku merokok telah berdampak pada kondisi stunting anak-anak mereka yang ditunjukkan pada tinggi dan berat badan.

Dalam penelitian ini diperlihatkan, konsumsi rokok sekitar 3,6% pada 1997 telah melonjak 5,6% pada 2014, sedangkan konsumsi lainnya menurun secara signifikan selama 1997-2014. Artinya, peningkatan konsumsi rokok sekitar dua persen telah digantikan oleh penurunan pengeluaran beras, protein, dan sumber lemak, serta pendidikan. Pengeluaran rumah tangga untuk daging dan ikan menurun sekitar 2,3 persen selama 1997 – 2014. 

Padahal, seperti yang ditunjukkan dalam banyak penelitian, jenis pengeluaran ini akan sangat mempengaruhi perkembangan masa depan anak-anak dalam hal berat badan, tinggi badan, dan kemampuan kognitif. 

Sedangkan survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), sampai saat ini konsumsi rokok pada keluarga miskin masih sangat tinggi di Indonesia. Menurut Kasubdit Kerawanan Sosial BPS, Ahmad Avenzora, dilihat dari catatan statistik barang konsumsi di Indonesia bahwa belanja makanan bergizi di bawah belanja rokok.  

“Ini artinya, jika belanja rokok dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali, kesempatan keluarga miskin untuk belanja makanan bergizi akan jadi lebih besar, dan inilah syarat utama menghindari stunting. Dari sini terlihat tarik menarik yang kuat antara konsumsi rokok, kejadian stunting, dan kemiskinan,” katanya.

Di kesempatan yang sama Guru Besar FKM UI, Prof. Hasbullah Thabrany mengemukakan, apabila kejadian stunting adalah peristiwa penting yang harus segera ditangani pemerintah. Karena rokok menjadi salah satu penyebabnya, maka menurutnya, sangat penting pemerintah segera mengambil tindakan mendesak dalam pengendalian tembakau yang juga berfungsi untuk menekan stunting.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan masyarakat dalam musim pemilihan pemimpin nanti untuk memilih pemimpin yang peduli pada masalah rokok kaitannya dengan stunting. “Mengingat pentingnya, sudah seharusnya stunting menjadi bagian dari agenda politik oleh setiap calon pemimpin dalam berkampanye,” tambahnya.


Reporter : MEF

Editor : Sandika Prihatnala

 

Muchammad Egi Fadliansyah
25-06-2018 17:22