Main Menu

Kantor Staf Presiden Rangkul Swasta dan LSM untuk Atasi Stunting

Hendry Roris P. Sianturi
04-07-2018 19:17

Pertemuan bersama antara pemerintah dan swasta dalam rangka Gerakan Nasional Pencegahan Stunting.(Dok. KSP/re1)

Jakarta, Gatra.com - Kantor Staf Presiden telah menginisiasi kemitraan pemerintah dan swasta dalam Gerakan Nasional Pencegahan Stunting. Inisiasi bersama tersebut berlangsung di Bina Graha, Kantor Staf Presiden, (04/07).

 

Adapun perwakilan swasta yang hadir antara lain, Agung Podomoro, Indofood Sukses Makmur, Bayer Indonesia, Charoen Pokphand Indonesia dan Japfa Comfeed Indonesia. Selanjutnya, perusahaan Darya-Varia Laboratoria, Tirta Investama, Merck Indonesia Tbk, Johnson & Johnson Indonesia, Procter and Gamble Indonesia, Unilever Indonesia, Gunung Sewu Group, Mayapada Healthcare Group, Sumber Alfaria Trijaya dan Siloam Hospitals Group.

Sementara, Deklarasi Gerakan Nasional Pencegahan Stunting ini juga melibatkan organisasi kemasyarakatan seperti Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Indonesia Heritage Foundation, Lazismu, dan Kopernik.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan bahwa, persoalan mengurangi tingginya angka stunting menjadi prioritas utama Presiden Jokowi. Jokowi bahkan telah mengadakan Rapat Terbatas 5 April lalu. Presiden Jokowi telah memutuskan untuk memimpin langsung gerakan ini, diikuti dengan program-program di tingkat kementerian, dengan langkah-langkah yang terfokus dan terintegrasi.

“Presiden Jokowi, memandang perlu digalang gerakan nasional untuk mengatasi permasalahan tersebut, karena sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Presiden Jokowi menginstruksikan untuk fokus pada 100 kabupaten dengan angka stunting paling tinggi, dan “dikeroyok” bersama-sama antara Kementerian dan Pemerintah Daerah,” kata Moeldoko.

Tahun 2018 ini, pemerintah memfokuskan pencegahan stunting pada 1000 desa di 100 kabupaten/kota dan pada 2019 di 600 desa di 60 kabupaten/kota. Ada tiga kelompok program intervensi pencegahan stunting yakni Pola Makan (Isi Piring itu Penting), Pola Asuh (Beri ASI itu Penting) dan Sanitasi (Bebas Cacing itu Penting). “Kuncinya ada pada kesadaran masyarakat dan perubahan perilaku,” katanya.

Moeldoko juga menekankan, pencegahan stunting merupakan investasi pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang. “Jika tidak, akan menjadi beban Indonesia ke depan, terutama karena bonus demografi kita akan berakhir pada 2030,” kata Moeldoko.

Ia menegaskan, pencegahan stunting adalah kerja besar. “Semua pihak harus ikut berperan. Pemerintah tak bisa sendirian, karena itu kami berterimakasih atas terlibatnya swasta dalam Gerakan Nasional Pencegahan Stunting,” katanya.

Nantinya, Kantor Staf Presiden sebagai fasilitator akan memetakan lokasi-lokasi prioritas yang memerlukan bantuan. Setiap perusahaan akan memilih lokasi yang tepat untuk dibantu dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Reporter: Hendry Roris Sianturi

Editor: G.A. Guritno

Hendry Roris P. Sianturi
04-07-2018 19:17