Main Menu

SKM Bukan Konsumsi Anak

Sandika Prihatnala
06-07-2018 18:08

Ilustrasi SKM. (Shutterstock/RT)

Jakarta, Gatra.com - Pakar gizi menilai susu kental manis cenderung berdampak buruk sehingga tak layak dikonsumsi anak-anak. Kementerian Kesehatan melakukan pendekatan persuasif untuk memberikan pemahaman yang tepat.

 

Susu kental manis menjadi pergunjingan hangat lantaran beberapa pakar gizi tidak merekomendasikannya untuk anak-anak. Susu dengan tekstur kental dan menggunakan tambahan gula ini dinilai tak layak dikonsumsi oleh anak-anak karena berpotensi merusak gigi serta menimbulkan obesitas.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja mengeluarkan surat edaran bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000/2018 tentang "Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya". Inti dari surat edaran tersebut untuk melindungi konsumen, terutama anak-anak, dari informasi yang tidak benar dan menyesatkan. Poin poin utama yang diatur meliputi aspek periklanan, marketing, dan juga klaim dari produk yang bersangkutan.

Sebelum edaran itu keluar, BPOM sebenarnya sudah mengeluarkan Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 tahun 2016 dengan menyebut susu kental manis (SKM) sebagai produk susu berbentuk cairan kental yang dihasilkan dengan cara menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula sehingga mencapai tingkat kepekatan tertentu.

Dalam wawancara kepada Gatra, Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy, mengatakan bahwa pada proses pembuatan SKM ada perubahan cairan susu segar sebanyak 50% ditambah gula 45%-50%. Karena itu, kandungan gizi SKM jauh menurun dibandingkan dengan gizi pada susu segar. Karakteristik dasar SKM pun memiliki kadar lemak susu tidak kurang dari 8% serta kadar protein tidak kurang dari 6,5%. Selain itu, banyak risiko kesehatan yang mungkin diakibatkannya.

''Faktanya, di negara maju SKM tidak dijadikan minuman tunggal tetapi sebagai campuran, menjadi kopi susu, cokelat, produk biskuit, milkshake. Hanya kalangan menengah ke bawah Indonesia yang masih mengonsumsi SKM sebagai minuman tunggal,'' katanya.

Menurut Doddy, SKM tidak cocok untuk anak di bawah usia tiga tahun yang membutuhkan lemak tinggi. Untuk itu, pihaknya saat ini berusaha menjelaskan kepada industri susu dengan pendekatan persuasif. Fokusnya, konsumen memahami bahwa SKM tidak tepat jika dijadikan minuman tunggal.

Ia secara khusus menyoroti penayangan iklan SKM yang masih menunjukkan cara mengonsumsi SKM dengan dicampur air panas lalu diminum. ''Padahal, setelah itu mereka tidak nafsu makan. Jadi menganggu pola makan atau pola diet mereka juga,'' ujarnya.

Senada dengan Doddy, psikolog Erfianne Cicilia menyebut tingginya tingkat konsumsi SKM tak lepas dari pengaruh iklan yang menyasar konsumen, khususnya anak. Peninjauan kembali terhadap pemahaman yang salah merupakan langkah yang harus diambil. ''Segala yang kita lihat secara visual, kita dengar, rasa, dan kecap akan diproses di otak dan membuat kita berpikir inilah yang terbaik,'' katanya. Pengaruh iklan, tambahnya, berdampak besar bagi anak-anak karena belum dapat mencerna pesan.

Bahaya SKM Terhadap Kesehatan Gigi

Yang kurang diketahui publik, karies pada gigi merupakan penyakit akut yang menyerang anak. Karies atau lubang gigi merupakan infeksi gigi yang jika tidak dicegah membuat gigi rapuh dan mudah patah. Lubang gigi pada anak di usia dini berdampak pada hilangnya gigi susu serta penyempitan rahang anak sehingga gigi permanen tumbuh berantakan. ''Gigi menentukan kualitas hidup anak karena merupakan pintu masuk secara keseluruhan bagi nutrisi yang dikonsumsi anak,'' kata dokter gigi Annisa Rizky dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Menurut Annisa, karies dapat dicegah dengan memberi nutrisi terbaik serta membatasi konsumsi gula pada anak. Sebaliknya tidak memberikan makanan-makanan yang mudah menempel pada gigi seperti bahan yang terdapat dalam SKM, karena meningkatkan produksi asam dan memberikan lingkungan bagi pertumbuhan bakteri.

Sementara itu, menurut pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Saptawati Bardosono, SKM diperuntukkan sebagai tambahan saat mengolah menu, sehingga hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit, semisal untuk ulenan roti, campuran minuman. Karena padat kandungan kalori dari gula, dan lemak, jika anak-anak mengonsumsinya dalam jumlah banyak dikhawatirkan kelebihan asupan kalori yang berdampak pada obesitas.

Untuk mendukung tumbuh-kembang anak, menurutnya dibutuhkan asupan gizi yang lengkap dengan jumlah yang seimbang. Asupan tersebut dapat diperoleh dari makanan sehari-hari yang beragam jenisnya. Sementara untuk kebutuhan protein susu, Saptawati merekomendasikan susu segar untuk anak.

''Susu segar kaya kandungan kalsium dan protein, juga sedikit lemak tetapi banyak vitamin dan mineral, terutama vitamin D,'' katanya kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA. Susu segar dapat mendukung pertumbuhan tulang dan gigi serta otot.

Saptawati menyayangkan susu segar untuk konsumsi ataupun bahan baku sulit diperoleh dan jumlahnya sangat terbatas. Menurut data Direktorat Jenderal Industri Agro, Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, kebutuhan susu nasional untuk industri pengolahan susu (IPS) sekitar 3,7 juta ton dengan pasokan bahan baku susu dalam negeri 0,85 juta ton (22,95%) dan sisanya dari bahan impor 2,85 juta ton (77 %).

Sementara angka konsumsi susu penduduk Indonesia baru sekitar 16.62 kg per kapita per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang tingkat konsumsi susunya sebanyak 36,2 kg per kapita per tahun.

Meski begitu, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, menilai tak ada masalah dengan peredaran SKM, karena telah mendapat persetujuan BPOM dan termasuk produk dengan nutrisi seperti protein dan lemak. Selain itu, SKM juga memiliki kandungan energi untuk pertumbuhan serta keseimbangan gizi masyarakat, termasuk buat anak di atas usia 1 tahun, khususnya selama dikonsumsi secara proporsional.

''Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dalam usia pertumbuhan, anak-anak masih membutuhkan gula sebagai sumber energi. Intinya dikonsumsi secara proporsional akan menyehatkan,'' katanya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA

Mengenai gangguan tumbuh-kembang anak, menurutnya, tidak dapat ditujukan kepada salah satu produk makanan dan minuman saja. Pola makan sehat mesti dilihat secara keseluruhan dan bukan dari konsumsi tertentu. Faktor kebiasaan justru lebih berpengaruh terhadap kerusakan gigi pada anak. Contohnya saja, jarang menggosok gigi dan menjaga kebersihan.

Walau aman, Gapmmi menyarankan masyarakat agar mengonsumsi SKM sesuai dengan saran penyajian. Di dalam kemasan susu kental manis tercantum cara penyajian yaitu empat sendok makan SKM dengan kurang lebih 140 ml air matang panas atau dingin.


Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
06-07-2018 18:08