Main Menu

Terobosan Obat Kanker Payudara Trastuzumab Subkutan

Annisa Setya Hutami
11-07-2018 18:44

Ilustrasi. (Shutterstock/RT)

Jakarta, gatra.com- Perusahaan bioteknologi, Roche merilis sebuah terobosan pengobatan kanker payudara. Obat Trastuzumab yang awalnya hanya tersedia dalam formulasi infus intravena, kini berkembang menjadi injeksi subkutan.

Formulasi ini meringankan efek setelah proses penyuntikan sehingga tidak menyebabkan tangan bengkak. Bahkan telah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 23 Mei 2018.

" Sebelumnya tenaga medis harus mencari letak pembuluh vena terlebih dahulu ketika hendak melakukan injeksi. Sekarang sudah lebih mudah dan mengurangi resiko," ujar perawat onkologi RS Dr. Soetomo Surabaya, Mursini.

Pemberian formulasi baru ini dikhususkan pada jenis kanker payudara jenis HER 2 positif. Meskipun begitu, Investigator Penelitian SafeHER, Nugroho Prayogo mengatakan tetap diimbangi dengan kemoterapi. Ditambah dengan metode subkutan ini, pemulihan menjadi lebih cepat dan tidak invasif.

" Pada kondisi Her 2 positif, kanker menjadi lebih agresif bila dibandingkan jenis Luminal A dan Luminal B. Tidak bisa hanya dengan kemoterapi saja atau dengan Trastuzumab saja. Keduanya harus dijalankan," katanya pada Rabu (11/7).

Nugroho menuturkan Trastuzumab mampu menghilangkan enzim hyaluronidase yang merusak jaringan antara sel-sel di bawah kulit. Dapat disuntikkan dalam jumlah banyak namun harus melalui pengawasan dokter. Hal ini karena obat tersebut memiliki efek samping pada jantung. Sehingga tidak dianjurkan bagi penderita hipertensi dan penyakit kardiovaskular lainnya.

"Di Indonesia, jumlah pasien kanker payudara berkisar 42 persen. Oleh karena itu kita harus lakukan terobosan. Perbanyak penelitian di dalam negeri. Obat yang berasal dari negara lain terkadang tidak cocok digunakan di Indonesia. Perlu melihat beberapa aspek seperti perbedaan tinggi dan berat badan serta kondisi tubuh," ucap Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, Abdul Kadir.


 Reporter : ASH

Editor : Bernadetta Febriana

Annisa Setya Hutami
11-07-2018 18:44