Main Menu

Rumah Sakit, Garda Terakhir Gawangi Kesehatan

Anthony Djafar
12-07-2018 15:11

Wapres Jusuf Kalla meresmikan Rumah Sakit Islam (RSI) A Yani Surabaya, Jawa Timur.(Dok. Setwapres/re1)

Surabaya, Gatra.com - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan bahwa ada dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yakni pendidikan dan layanan kesehatan. Karena keduanya membentuk manusia ini secara utuh.


“Pendidikan tentu memberikan kita nilai tambah, dan juga tentu pekerjaan yang baik. Rumah sakit tentu memelihara kesehatan kita semua,” kata Wapres saat meresmikan Rumah Sakit Islam (RSI) A Yani Surabaya, Jawa Timur, Kamis, (12/7).

Wapres mengungkapkan, Indonesia dengan penduduk sekitar 260 juta, tentu memerlukan fasilitas yang besar untuk menjalankan layanan kesehatan secara baik kepada semua masyarakat.

“Karena itulah menteri kesehatan sibuk untuk mengurusi semua hal tersebut,” ujarnya.

Wapres memaparkan ada empat hal yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu pertama genetiknya. Ini tidak bisa diapa-apakan, tinggal bisa dikendalikan. Kedua lingkungannya, kalau daerah nyamuknya banyak, banjir, selokan tidak diatur, kotor banyak sampah berserakan, pasti banyak orang sakit.

“Ketiga, kebiasaan hidup, seperti apakah orang itu olahraganya teratur atau tidak. Itu juga akan menyebabkan tingkat kesehatan menurun. Terakhir baru rumah sakit. Kalau ke - 3 ini dilalui, baru masuk rumah sakit kalau (sakit), jadi gawang terakhir kesehatan itu rumah sakit,” katanya.

Di forum tersebut Wapres juga meminta Pemda, pihak RS dan BPJS untuk melakukan promosi program preventif terkait kesehatan, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan gerakan hidup sehat bagi masyarakat.

“Ini agar jumlah pasien di RS tidak meningkat, yang akan membebankan anggaran BPJS,” katanya.

Pemerintah dalam hal ini kata Wapres, Menteri Kesehatan juga menjalankan germas, gerakan hidup sehat, karena tanpa gerakan hidup sehat ini, berapapun biaya BPJS akan tergerus.

“Karena itu lah maka sering saya katakan, BPJS kalau mau hidup baik, terutama harus mendukung gerakan hidup sehat supaya jangan semua orang ke rumah sakit. Jadi bikin pertandingan olahraga senam, bikin pelajaran bagaimana bersih dan sebagainya, itu cara BPJS menghemat,” katanya.

Kedepannya, menurut Wapres, rumah sakit nantinya, lama kelamaan menjadi sebuah industri karena terjadi persaingan. Untuk itu layanan terhadap dokter, teknologi dan hospitality rumah sakit menjadi tolok ukur dalam persaingan.

“Ya persaingannya di layanannya. Hospitalitynya dan juga tiga hal itu,” kata Wapres.

Wapres berharap masyarakat Indonesia, terutama generasi mendatang semakin sehat.

“Negara yang maju harus produktif, dan produktivitas bisa tercapai jika manusianya sehat,” katanya.
Dalam acara tersebut, Wapres menekan tombol sirine menandai diresmikannya gedung Graha, kemudian meninjau beberapa ruangan dan fasilitas di RSI tipe B ini.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengapresiasi pembangunan Graha RSI Surabaya - A. Yani.

“RS swasta turut bantu Pemerintah memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat. Selama ini masalah pada manajemen kesehatan, kaitannya pada rujukan pasien,” kata Soekarwo.

Adapun Ketua Yarsis M. Nuh mengapresiasi kedatangan Wapres. Dikatakan pembangunan Graha RSI Surabaya - A. Yani sebagai upaya meningkatkan layanan kesehatan masyarakat, khususnya menengah ke bawah. Dan, juga menghormati para sesepuh yang membangun Yarsis dan RSI untuk menyambut 100 tahun NU.

RSI Surabaya - A. Yani didirikan tahun 1975 oleh salah satu sesepuh NU KH Zakky Gufron.

Dengan mengusung motto “New Brand, New Hope, New Spirit”, RSI Surabaya ingin mengubah citra RS Islam yang dianggap konvensional, menjadi modern dengan sarana dan prasarana yang terakreditasi.

Acara dihadiri oleh Dewan Pengurus dan Pembina Yarsis, Direktur RS se-Surabaya, dan Tokoh Agama, serta mitra kerja RSI dan masyarakat.

Wapres didampingi oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar, Staf Khusus Wapres Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah, dan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS dr. Maya Armiani Rusadi.

Editor: Anthony Djafar

 

Anthony Djafar
12-07-2018 15:11