Main Menu

Sebanyak 65% Jamaah Berisiko Tinggi, Menkes Ingatkan Jaga Kesehatan

Birny Birdieni
15-07-2018 09:31

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Moeloek. (Dok. Kemenkes/FT02)

Surakarta, Gatra.com- Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek mengatakan bahwa Kemenkes mengirimkan Tim Gerak Cepat (TGC) yang bertugas menindaklanjuti bila terjadi kegawatdaruratan pada Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 1439H/2018M.

 

Selain itu, di Arab Saudi ada fasilitas pelayanan kesehatan, yang dinamakan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang ada di Jeddah, Mekkah dan Madinah.

Menurut Nila, hal itu dikarenakan beratnya tantangan di sana. Selain faktor 65% kondisi jemaah haji Indonesia dalam risiko tinggi. "Udara di sana kan tinggi, sekitar 50 derajat Celsius”, ujarnya dalam rilis yang diterima Gatra, Minggu (15/7).

Sebagian besar jemaah haji pun berisiko tinggi, karena kategori lanjut usia atau menderita suatu penyakit, seperti Hipertensi dan Diabetes Mellitus. Untuk itu Nila mengingatkan agar masyarakat yang berniat untuk berangkat haji untuk mengecek kesehatan secara rutin jauh sebelum hari keberangkatan.

“Artinya supaya pada waktu berangkat, keadaan kesehatan kita baik karena memang dijaga. Kalau ada penyakit yang ditemukan dan bisa diobati, kita tangani," ungkap Nila.

Misalnya bagi penderita Hipertensi dapat ditangani dengan rutin minum obat. "Hal-hal seperti ini perlu diingatkan, karena seringkali obatnya ketinggalan atau ditinggal”, kata Nila mengingatkan.

Selain melakukan pencegahan dini jauh sebelum keberangkatan, Kemenkes juga mengirimkan tim preventif promotif yang akan senantiasa mengingatkan jamaah tentang kesehatannya. “Terutama bagaimana untuk menghadapi agar tidak heatstroke karena (suhu) udara di sana tinggi," ujarnya.

Kemenkes tidak hanya mengirimkan tenaga kesehatan dari Indonesia saja. Tetapi juga mempekerjakan tenaga kesehatan musiman di Arab Saudi, terutama untuk Wukuf.

“Contohnya, nanti pada saat wukuf. Semua jamaah haji kan harus wukuf di Arafah. Kalau yang tergeletak di RS kan harus tetap membawa mereka ke Arafah. Kita bawa (jamaah sakit) naik bus, diposisikan satu-satu dibawa ke Arafah, lalu kembali ke RS, itu namanya Safari Wukuf”, pungkas Nila.

 


Editor : Birny Birdieni 

 

Birny Birdieni
15-07-2018 09:31