Main Menu

Awas, Infeksi Mengancam di Ruang Bedah

Aries Kelana
25-08-2018 21:33

Seminar infeksi ruang bedah. (Dok Johnson & Johnson / RT)

Jakarta, Gatra.com -  Infeksi dalam ruang bedah (SSI) masih menjadi momok dalam dunia kedokteran. Saat ini SSI masih sering terjadi di Indonesia, selama prosedur pembedahan berlangsung. Di Indonesia, persentase kelahiran SSI antara 5–8%. "Maka dari itu diperlukan pemblokiran SSI," kata Dr Adianto Nugroho, dokter spesialis bedah cerna pada Fakultas Kedokteran, seperti yang dirilis dalam rilis Gatra.com (25/8).

Itu terungkap dalam diskusi yang digelar di RS Siloam Karawaci, Tangerang. Acara yang diselenggarakan PT Johnson & Johnson Indonesia dihadiri sekitar 100 orang yang hadir, dokter, dokter bedah, dokter kandungan & kebidanan serta tenaga kesehatan yang terkait dalam Tim Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dari seluruh Indonesia.

SSI adalah infeksi luka yang disebabkan oleh proses yang terlihat 30 hari setelah operasi yang menyebabkan luka pada bagian tubuh manusia. Beberapa SSI yang terjadi relatif ringan, dapat dengan cepat diproses dengan cepat. Namun, jika dibiarkan, akan terjadi infeksi yang dapat menyebabkan seseorang menjadi resisten terhadap antibiotik dan bahkan berujung pada kematian.

SSI digunakan dalam beberapa prosedur, seperti bedah kolorektal, gastrointestinal, kardiovaskular, neurologi, kulit, ortopedi dan prosedur transfusi.

Berdasarkan data WHO (World Health Organization), di beberapa negara, dan ada 11% pasien yang sedang menjalani proses operasi / pembedahan.

Sedangkan di Afrika, 20% wanita yang melakukan operasi Caesar ann infeksi luka, yang berkembang negatif terhadap kesehatan mereka.

Sementara itu, Hari Paraton, Ketua Pengendalian Resistansi Antimikroba Kementerian Kesehatan, menjelaskan, salah satu hal yang penting yang dapat dilakukan untuk mencegah SSI berdasarkan pedoman yang mana yang membutuhkan operasi, di mana pasien diperlukan untuk Menjaga seluruh bagian tubuh untuk mengurangi jumlah pasien. operasi, dapat menurunkan beban dari SSI.

Selain itu, baik WHO, Pusat Pencegahan dan Pengendalian (CDC) dan American Cancer Society (ACS) juga dapat menggunakan benang antimikroba dalam beberapa jenis operasi untuk mengurangi jumlah SSI. “Para ahli untuk menggunakan benang yang sudah digunakan oleh triclosan sebagai salah satu prosedur operasi,” ujar Hari.

Selanjutnya, Prof Charles E. Edmiston, Jr, ahli bedah dari Wisconsin, Wisconsin, Amerika Serikat, setelah Hari. Ia juga menentukan status SSI sebelum menjalankan prosedur pembebanan.

"Dan berdasarkan metanalisis yang melibatkan 13 uji klinis terkontrol acak (RCT) yang terdiri dari 3.568 pasien, terbukti bahwa penggunaan benang antimikroba ini dapat membantu menurunkan SSI," kata Edmiston.

Salah satu masalah yang penting adalah edukasi. Edukasi yang penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya SSI sangat penting dan perlu diperhatikan. Namun edukasi seksi SSI tidak hanya dilakukan untuk para pasien kesehatan, tetapi juga untuk pasien dan keluarga.

"Kami berharap edukasi bagi SSI," ucap Costy Panjaitan, konsultan Pengendalian dan Pencegan Infeksi dan Pencegahan, Fakultas Humaniora, Universitas Indonesia. 


Editor: Aries Kelana

Aries Kelana
25-08-2018 21:33