Main Menu

Vaksin Flu Universal Yang Kebal Terhadap Banyak Strain Virus Flu Makin Mendekati Kenyataan

Aries Kelana
27-08-2018 16:51

Ilustrasi - Vaksin Flu (Shutterstock/FT02)

Pennsylvania, Gatra.com -- Vaksin flu universal yang melindungi manusia dari sebagian besar strain influenza makin dekat dengan kenyataan. Adalah ilmuwan dari Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania, Amerika Serikat yang mengembangkannya.

Kandidat vaksin flu, seperti yang dimuat dalam Jurnal Nature Communications pekan ini, diklaim dapat menimbulkan respon antibodi yang kuat terhadap struktur pada permukaan virus flu, yang disebut tangkai hemagglutinin (HA).

Selain itu, vaksin baru itu memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi vaksin flu universal, yang berbeda dengan vaksin flu selama ini. Vaksin flu selama ini hanya digunakan pada musim dingin atau penghujan. Kemudian, vaksin baru tersebut bisa diberikan beberapa kali dan bisa bertahan seumur hidup, seperti vaksin tetanus.

"Vaksin ini mampu melakukan sesuatu yang belum dapat dilakukan oleh sebagian besar kandidat vaksin flu lainnya," kata kata ketua tim peneliti Profesor Drew Weissman, ahli penyakit infeksi pada University of Pennsylvania.

Ujicoba tersebut baru dilakukan pada tikus. Dalam penelitian itu, tim periset mengamati bahwa setelah imunisasi, tanggapan antibodi yang kuat terhadap vaksin ini bertahan selama tiga puluh minggu percobaan pad atikus. Pada akhir periode ini tanggapan anti-tangkai bahkan lebih kuat daripada empat minggu setelah imunisasi.

Selain tikus, para peneliti berhasil mengulangi percobaan ini dalam musang dan kelinci, spesies lain yang biasa digunakan sebagai model hewan pengembangan vaksin. "Langkah selanjutnya adalah menguji ini pada primata," kata rekan Weissman, Profesor Scott Hensley.

"Jika itu berhasil pada manusia, itu bisa menjadi sesuatu yang setiap orang gunakan di masa depan untuk melindungi diri dari flu," tutur Hensley.

Selama ini, vaksin flu yang sebagian sudah dipasarkan dikembangkan dengan menggunakan protein virus merangsang sistem imun yang melindungi orang dari paparan virus. Namun pendekatan ini dianggap tidak bekerja dengan baik melawan virus influenza. Partikel virus flu bertabur dengan protein HA seperti jamur, yang digunakan vaksin flu musiman untuk mendapatkan tanggapan antibodi.

Masalahnya adalah bahwa respon antibodi ini hampir seluruhnya diarahkan terhadap bagian "kepala" terluar dari protein HA, yang cenderung bermutasi dengan cepat. Kecuali itu, strain flu yang lazim dalam satu musim flu sering digantikan oleh strain lain dengan struktur kepala HA yang berbeda di musim flu berikutnya.

Vaksin musiman yang menggunakan protein HA biasanya tidak menimbulkan banyak respon terhadap batang HA. Akibatnya, vaksin flu musiman memberikan perlindungan sementara dan tidak lengkap terhadap flu. Inilah sebabnya mengapa mereka perlu diperbarui setiap tahun.

Sedangkan vaksin flu temuan ilmuwan University of Pennsylvania ini tidak menggunakan protein HA – atau setidaknya, tidak secara langsung. Vaksin flu yang baru itu menggunakan molekul mRNA (messenger ribonucleic acid) yang menyandikan protein HA untuk menimbulkan respons antibodi.

Ketika disuntikkan ke penerima, RNA ini diambil oleh sel dendritik sistem kekebalan dan diterjemahkan ke dalam salinan protein HA oleh mesin pembuat protein di dalam sel-sel tersebut. Efeknya, protein virus itu melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk meniru infeksi virus flu nyata dan memunculkan respon antibodi pelindung yang sangat kuat.

"Ketika kami pertama kali mulai menguji vaksin ini, kami terpesona oleh besarnya respon antibodi," kata Hensley seperti dikutip situs sciencedaily.com (22/8).


 

Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
27-08-2018 16:51