Main Menu

Atlet Pun Rentan Terkena Penyakit KArdiovaskular

Aries Kelana
03-09-2018 17:51

Ilustrasi.(Reuters/re1)

Washington, Gatra.com -- Atlet tak menjamin hidupnya bakal sehat selamanya, karena rajin berolahraga. Beberapa kasus olahragawan meninggal di arena sudah muncul di sejumlah media. Rupanya, itu didukung juga oleh hasil riset. Studi teranyar yang dikerjakan ilmuwan dari University of British Columbia (UBC), Amerika Serikat, justru menunjukkan sebaliknya. Studi tersebut bilang, orang separuh baya yang berrisiko terkena penyakit kardiovaskular dan tidak diiringi gejala.

Riset yang terbaru yang dikutip situs sciencedaily.com (31/8), menyoroti betapa pentingnya bagi para atlet setengah baya untuk memeriksakan diri ke dokter mereka. Sebab banyak faktor risiko  terkena penyakit kardiovaskular. Seperti memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi atau riwayat keluarga penyakit kardiovaskular. 

Penyakit kardiovaskular mengacu pada kondisi yang melibatkan pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat yang dapat menyebabkan serangan jantung, nyeri dada (angina) atau stroke.

"Kita semua tahu bahwa olahraga itu baik untuk kita - itu dapat membantu mencegah berbagai masalah kesehatan dan penyakit, dari kanker hingga depresi," kata Barbara Morrison, penulis utama studi dalam situs BMJ Open Sport and Exercise Medicine.

"Namun, bahkan jika Anda benar-benar aktif, temuan kami menunjukkan bahwa Anda masih tidak bisa berlari lebih cepat dari faktor risiko Anda," ujarnya.

Ucapan Morrison didasarkan pada studi pada 798 "atlit master" – yang berusia 35 tahun ke atas yang melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat, setidaknya tiga hari seminggu. Para peserta termasuk berbagai atlet, dari pelari hingga pesepeda, atlet triatlon, pendayung dan pemain hoki.

Peserta diminta menjawab berbagai pertanyaan tentang kesehatan mereka, sejarah keluarga dan tingkat aktivitas fisik yang dikerjakan tiap hari. Mereka juga memeriksakan tekanan darah mereka dan mengukur lingkar pinggang.

Beberapa peserta juga mengambil bagian dalam tes latihan stres. Mereka dengan hasil abnormal menjalani pengujian lebih lanjut, seperti CT koroner angiogram, untuk menentukan apakah mereka memiliki penyakit kardiovaskular.

Hasilnya, dari 798 atlet, 94 (11%) ditemukan memiliki penyakit kardiovaskular yang signifikan. Sepuluh peserta ditemukan memiliki penyakit arteri koroner yang parah, seperti penyumbatan di arteri mereka 70% atau lebih, meskipun mereka tidak memiliki gejala.

Temuan studi itu dikerjakan berdasarkan penelitian sebelumnya yang menemukan atlit yang sudah berpengalaman memiliki insiden penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi daripada non-atlet pada usia yang sama dengan faktor risiko yang sama. Selain itu, dibandingkan dengan non-atlet, atlet berpengalaman biasanya memiliki lebih banyak plak yang diketahui mungkin menyebabkan serangan jantung.

Meski temuan tersebut mengkhawatirkan, Morrison menekankan bahwa itu tidak berarti atlet tuan harus berhenti berolahraga.

Morrison lalu menganjurkan para atlet untuk memeriksa kesehatannya ke dokter secara rutin, termasuk pemantauan tekanan darah dan kolesterol, terutama jika mereka memiliki riwayat keluarga serangan jantung atau stroke.

"Kabar baiknya adalah penyakit kardiovaskular dapat diobati," katanya. "Obat telah terbukti mengurangi risiko kematian, dan bahkan lebih pada orang yang aktif."


Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
03-09-2018 17:51