Main Menu

Rabies Merebak di Nusa Tenggara Timur. Puluhan Ribu Vaksin Disiapkan

Aries Kelana
05-09-2018 20:34

Ilustrasi (bali.litbang.pertanian.go.id/yus4)

Sikka, Gatra.com -- Rabies merebak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah orang yang digigit anjing dan sakit terus meningkat. Di Kabupaten Sikka misalnya, menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka,Hengky Sall, pada tahun ini, hingga September ini, tercatat 14 gigitan anjing secara keseluruhan. "Sedangkan di bulan September, sampai hari ini , sudah tercatat 5 gigitan rabies,” kata Hengky Saly kepada Gatra.com (5/9). Pada tahun lalu, menurut Hengky Saly, ada sebanyak 24 gigitan, 11 di antaranya terkena gigitan anjing rabies.

 

Salah satu korban yang terkena gigitan anjing rabies adalah Egy. Bocah berumur 5,5 tahun berasal dari Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang. Ia sudah terkena virus rabies melalui gigitan anjing rabies. Namun nyawanya tidak tertolong pada Minggu (2/9). “Korban meninggal di RSUD TC Hillers Maumere. Ia digigit anjing pengidap rabies, sekitar 5 bulan lalu,” kata Hengky Saly.

Kemudian ada 2 orang anak yang tengah dirawat karena kena gigitan anjing rabies di desa Nitakloang, kecamatan Nita pada bulan April lalu. Mereka itu adalah Bernando Elon Hiban (3,8) pada dan Kristina Apriliani (7) di bagian mulut. “ Kami terus mengikuti, memantau kondisi kesehatan mereka yang sementara ditangani pihak medis ,” kata Saly.

“Kami terus berupaya meminimalisir dengan mencoba memutus mata rantai penyebaran, sambung Saly. Di setiap pos perbatasan petugas siaga mencegah masuknya anjing yang dibawa warga.

Meskipun begitu, ia mengaku kesulitan memberantas rabies di wilayahnya. Ketersediaan vaksin anti rabies terbatas. “Tahun ini kami mendapatkan bantuan 36.000 vial vaksin anti rabies dari APBN. Sementara dari APBD tidak dialokasikan. DPRD Sikka hanya menyetujui alokasi anggoran APBD untuk vaksin untuk ternak babi yaitu hock kolera ,” jelas Hengky Saleh.

Kondisi itu tentu memrihatinkan. Sebab, populasi anjing di Sikka juga terus meningkat. Pada saat ini sedikitnya terdata 50.000 ekor. Jumlah tersebut meningkat 2 kali lipat dibandingkan tahun 2016. 

Sementara itu, Kementerian Kesehatan mengalokasikan 17.500 untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur, menyusul kematian Egy tadi.


Reporter: Antonius Un Taolin 

Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
05-09-2018 20:34