Main Menu

Ini Lima Mitos Kanker Darah Yang Tak Perlu Dipercaya

Aries Kelana
06-09-2018 22:43

Lim ZiYi dan Collin Philips Diong. (Parkway Cancer Center)

Jakarta, Gatra.com -- Leukemia merupakan salah satu jenis kanker darah yang paling ganas. Tidak heran, banyak orang yang sudah parah bila orang dekatnya terkena leukemia. Mereka menganggap umurnya tidak akan panjang atau lebih dari dua tahun.

 

Karena begitu lekatnya dengan kematian, banyak berkembang berbagai mitos soal leukemia. Mitos-mitos itu terungkap dalam jumpa pers yang digelar di restoran Kembang Goela, Semanggi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9). Beberapa mitos yang disampaikan beberapa pembicara tersebut.

Mitos pertama yang mengatakan bahwa leukemia sama dengan kanker darah. Padahal, faktanya kanker darah adalah sebuah terminologi dengan cakupan yang lebih luas. “Leukemia hanya salah satu tipe kanker darah, dan bukan satu-satunya kanker darah itu sendiri,” kata Konsultan Senior Hematologi Parkway Cancer Center (PCC), Singapura,  Dr. Lim Zi Yi. Leukemia merupakan tipe kanker darah yang mengganggu fungsi sel darah putih, akibat pertumbuhan sel darah putih abnormal yang terlalu cepat.

Ia  menambahkan, kesalahpahaman ini muncul karena leukemia adalah tipe yang paling banyak didengar publik. Selain leukemia, sebenarnya ada dua tipe kanker darah lainnya, yaitu limfoma (kanker kelenjar getah bening) dan myeloma. Lalu limfoma mempengaruhi kerja kelenjar getah bening dan sistem limfatik yang berfungsi mengurangi kelebihan cairan dalam tubuh dan memproduksi sel imunitas.

Sedangkan, myeloma mempengaruhi sumsum tulang dan dapat tumbuh di berbagai bagian tubuh yang memiliki sumsum tulang seperti tulang panggul dan tulang belakang. Karena dapat tumbuh di beberapa bagian pada saat bersamaan, myeloma sering disebut pula sebagai ’multiple myeloma’.

“Secara umum, kanker darah merujuk pada tipe kanker yang mengganggu produksi dan fungsi sel darah. Pada kebanyakan kasus, sel abnormal, atau kanker, tumbuh tidak terkontrol sehingga mengganggu pembentukan sel darah sehat," sambung YiZi. Akibatnya, sel darah tidak bisa menjalankan fungsinya, seperti mencegah infeksi atau pendarahan.

Mitos kedua, orang tua yang mengidap kanker darah pasti akan mewariskannya pada anak. Banyak orang percaya bahwa kanker darah adalah sebuah penyakit turun-temurun, di mana kemungkinan terjangkit akan lebih besar jika orang tua yang bersangkutan juga mengidap kanker darah.

”Dengan pengecualian sejumlah kasus yang amat langka, kanker darah bukan penyakit warisan dan tidak akan diturunkan oleh pasien ke anak mereka,” kata Konsultan Hematologi PCC Dr. Colin Phipps Diong.

Kelainan atau mutasi kromosom yang terdeteksi pada pasien kanker darah terjadi secara spontan dan tidak diwariskan oleh orang tua. Berbeda dengan kanker tipe padat, kanker darah memiliki keterkaitan rendah dengan kebiasaan merokok. Bahkan, tak banyak faktor risiko yang diketahui untuk kanker darah. "Beberapa faktor risiko yang sudah terbukti dapat memicu kanker darah adalah paparan terhadap kemoterapi, radiasi, atau zat kimia tertentu yang digunakan di industri petrokimia seperti benzena,” sambung Dr. Phipps.

Mitos ketiga, kanker darah baru bisa terdeteksi pada stadium akhir. Dalam banyak kasus, pasien terlambat mengetahui bahwa mereka memiliki kanker darah. Tak jarang, pasien justru mengetahui hal ini ketika mereka melakukan pemeriksaan untuk penyakit lain. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pemahaman tentang kanker darah dan gejalanya, serta pentingnya melakukan pemeriksaan medis rutin yang mencakup pula pengecekan jumlah sel darah.

Sayangnya, kanker darah bisa saja ditemui di pasien yang tidak mengalami gejala apapun. Namun, tidak selalu demikian. "Sejumlah pasien menunjukkan gejala-gejala seperti demam berkepanjangan, keringat dingin di malam hari, kelelahan yang tak kunjung hilang, penurunan berat badan secara drastis yang tak direncanakan dan, terkadang, pembengkakan kelenjar getah bening,” kata Phipps.

”Jika hasil cek darah Anda menunjukkan ketidaknormalan, dan Anda mengalami gejala-gejala yang saya sebutkan, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter.”

Dokter kemudian akan melakukan serangkaian tes lanjutan, termasuk biopsi sumsum tulang belakang, untuk memastikan diagnosis keberadaan kanker darah.

Mitos keempat, kanker darah sama dengan hukuman mati. Banyak yang mengira kanker darah dekat dengan kematian. Tapi tak semuanya benar. Berkat berbagai terobosan di ilmu kedokteran, kanker darah – bahkan limfoma tipe Hodgkin yang dulunya mematikan – kini telah menjadi sebuah kondisi yang dapat disembuhkan.

”Saat ini, kanker darah termasuk ke dalam penyakit yang memiliki kemungkinan besar untuk disembuhkan. Tingkat kesuksesannya telah meningkat pesat, didukung oleh kemajuan di bidang kemoterapi dan pengobatan lainnya,” kata Dr. Colin Phipps Diong.

”Namun, semua ini tergantung pada apakah pasien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kondisi spesifik dirinya. Ini adalah faktor kunci yang utama, selain mendapatkan diagnosis awal yang tepat. Untuk kasus limfoma tipe Hodgkin, tingkat kesembuhan berkisar antara 75%- 96%, tergantung pada stadium mana kanker tersebut didiagnosis dan diobati.”

Mitos kelima berbunyi hanya keluarga yang dapat menyumbangkan sumsum tulang belakang, dan prosesnya amat menyakitkan. Transplantasi sumsum tulang belakang, yang dikenal juga dengan transplantasi sel punca (stem cell) alogenik, adalah salah satu perawatan yang paling efektif untuk mengobati kanker darah. Sel sumsum tulang belakang yang sehat akan diambil dari donor, dan kemudian ditanamkan pada pasien kanker darah.

”Berlawanan dengan mitos yang beredar, pasien bisa mendapatkan sel punca dari donor yang tidak memiliki hubungan darah, atau bahkan mendapatkan sel punca hematopoetik (haemotopoietic stem cells/HSC) dari stok darah tali pusat yang tersimpan di bank darah tali pusat,” kata ZiYi.


Aries Kelana

 

Aries Kelana
06-09-2018 22:43