Main Menu

Peneliti Israel: Probiotik Tak Selamanya Baik Untuk Tubuh

Aries Kelana
07-09-2018 07:59

Ilustrasi Probiotik bubble. (shutterstock_1139589920/RT)

Tel Aviv, Gatra.com -- Sejumlah dokter dan beberapa studi sebelumnya menganjurkan untuk mengonsumsi probiotik. Tujuannya untuk menyeimbangkan bakteri baik dan jahat di dalam tubuh. Namun riset teranyar justru melihat, probiotik juga bisa berdampak negatif. 

 

Menurut Eran Elinav, peneliti dari Weizmann Institute, Israel, sangat jarang studi mengenai efek negatif probioti. Maka ia dan peneliti Tel Aviv Medical Center, Tel Aviv, Israel, merancang dua penyelidikan yang dinilai paling komprehensif tentang probiotik hingga saat ini. Temuan mereka sekarang dipublikasikan di jurnal Cell.

"Kami ingin menentukan, apakah probiotik, seperti yang Anda beli di supermarket, melakukan kolonisasi saluran pencernaan seperti yang seharusnya, dan kemudian apakah probiotik ini memiliki dampak pada tuan rumah manusia," ujarnya seperti dilansir situs medicalnewstoday.com (7/9).

Selain itu, sebagian besar penelitian sebelumnya yang menyelidiki probiotik menilai spesies bakteri di usus peserta dengan menganalisis sampel tinja, tetapi jenis ukurannya dinilai tidak ideal.

Untuk memperbaiki metode tersebut, dalam penelitian pertama, para ilmuwan mengukur bakteri usus secara langsung, menggunakan endoskopi dan kolonoskopi. Sebanyak 25 orang diambil sampelnya, tetapi hanya 15 orang yang maju ke tahap berikutnya.

Lalu, tim membagi relawan menjadi dua kelompok: satu mengambil probiotik generik, sementara yang lain mengambil plasebo. Tak lama setelah itu, bakteri usus mereka dinilai lagi, dan kemudian, dianalisis untuk ketiga kalinya, 2 bulan sesudah dilakukan intervensi.

Dalam studi pertama, periset menemukan bahwa beberapa individu hanya mengeluarkan probiotik (disebut resister). Sebaliknya, beberapa individu lain justru memiliki mikroba baru yang negatif dan menguasai jaringan usus mereka (disebut persister).

Selanjutnya, mereka membandingkan analisis tinja dengan pengambilan sampel langsung dan menemukan bahwa hanya ada korelasi parsial. Sampel tinja, tampaknya, belum tentu proksi yang dapat diandalkan untuk menilai flora usus.

"Meskipun semua sukarelawan kami yang mengonsumsi probiotik menunjukkan adanya probiotik (bakteri baik) dalam tinja mereka, namun hanya beberap dari mereka yang menunjukkan dominasi probiotik," ujar Eran Segal, rekan Elinav.

Dalam studi kedua, tim peneliti memberikan serangkaian antibiotik yang bertujuan membunuh bakteri, kemudian mereka diminta mengonsumsi probiotik.

Untuk keperluan ini, sebanyak 21 peserta dilibatkan dan mengonsumsi antibiotik. Setelah minum antibiotik, mereka terbagi menjadi tiga kelompok: kelompok peminum probiotik, kelompok peminum plasebo, dan kelompok yang tak mendapat intervensi apa pun.

Kemudian, ilmuawan melakukan transplantasi mikroekom fecal autologous (aFMT) berdasarkan bakteri mereka sendiri yang dikumpulkan, sebelum mereka meminum antibiotik.

Walhasil, relawan yang mengonsumsi probiotik standar mengalami rekonolisasi. Namun, proses pengambialihan probiotik sehingga bakteri baik tumbuh kembali berjalan lamban – malahan bisa berbulan-bulan.


Aries Kelana

 

 

Aries Kelana
07-09-2018 07:59