Main Menu

Dokter Perlu Lakukan Uji Molekuler Pada Pasien HIV/AIDS Yang Terkena Pneumonia

Aries Kelana
07-09-2018 11:45

Ilustrasi.(Shutterstock/re1)

Jakarta, Gatra.com -- Meningkatnya kasus HIV-AIDS (human immunodeficiency virus-acquired immune deficiency syndrome) secara global memicu kewaspadaan akan peningkatan infeksi

oportunistik.


Salah satunya infeksi Pneumocystis jirovecii, dulu dikenal sebagai Pneumocystis carinii yang mengakibatkan sejenis radang paru pneumonia (PjP).

Survei epidemiologik menunjukkan bahwa PjP terdistribusi di seluruh dunia dan dapat menyerang berbagai usia. Hingga saat ini data kasus PjP di Indonesia sangat terbatas, hanya berdasarkan gejala klinis pasien saja.

Jamur ini tersebar di mana-mana, menyebar melalui udara, menyerang sistem pernapasan atas. Gejalanya, kata Doktor dra. Corry Riana Tjampakasari DMM, MBiomed, staf di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menyebabkan demam yang tidak terlalu tinggi, sesak napas terutama saat beraktivitas dan batuk non produktif.

Infeksi PjP merupakan kasus yang sulit ditangani terkait rendahnya sensitivitas uji diagnostik terhadap penyakit ini. Selain itu, kata Corry Riana, terjadi peningkatan kasus resistensi P. jirovecii terhadap antibiotik trimetropim-sulfametaksazol sebagai antibiotik lini pertama.

“Hingga saat ini di Indonesia belum terdapat data demografis, epidemiologi molekuler maupun data resistensi mengenai kasus infeksi PjP, kata Corry Riana dalam disertasinya yang dipertahankan di depan tim penguji Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Gedung IMERI, Salemba, Jakarta Pusat.

Sementara itu, pemeriksaan kultur laboratorium masih dalam tahap penelitian. Sampai saat ini diagnosis PjP mengandalkan pemeriksaan mikroskopis, namun pemeriksaan ini sulit diinterpretasikan dan mempunyai prediktif negatif yang tinggi,” imbuhnya dalam abstrak studinya yang diterima Gatra.com, Jumat (7/9). Maka, Corry pun tertarik untuk mengembangkan uji diagnostik PjP pada ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) terduga pneumonia melalui pendekatan secara molekular.

Analisis uji molekuler menggunakan metode real-time PCR (polimerase chain reaction) menunjukkan bahwa angka infeksi oleh P. jirovecii sebesar 20%.

“Hasil yang kami peroleh ini merupakan data terbaru karena data yang selama ini dilaporkan hanya berdasarkan gejala klinik pasien,” imbuh Corry.

Hasil penelitian ini menunjukkan pula bahwa pasien dengan jumlah sel limfosit T CD 4+ antara 200-349 merupakan pasien terbanyak ditemukan yaitu 80%.

Berdasarkan uji molekuler terhadap gen resistensi ditemukan gen resisten sebanyak 7 dari 12 pasien (58,33%). Tingginya angka kejadian resistensi ini merupakan masalah yang harus diwaspadai.

Diketahui pula bahwa walaupun telah diobati dengan antibiotik genotipe resisten ini menunjukkan penurunan kondisi klinis.

Sebanyak 7 varian ditemukan dalam penelitian ini terdiri dari 30 strain P. jirovecii, dimana beberapa pasien terinfeksi oleh 2 strain yang berbeda. “Strain-strain yang diperoleh berkerabat dekat dengan strain dari negara Iran, India dan Korea,” sambung Corry.

Dengan diperolehnya metode pemeriksaan untuk diagnosis P. jirovecii pada pasien HIV-AIDS, Corry berharap para klinisi dapat menegakkan diagnosis kasus PjP tidak hanya berdasarkan gejala klinis, melainkan juga dengan molekuler, sehingga pemberian terapi menjadi adekuat dan dapat menekan resistensi terhadap antibiotik.


Aries Kelana

 

Aries Kelana
07-09-2018 11:45