Main Menu

Peneliti Amerika Serikat Kembangkan Vaksin Kanker Pencegah Kekambuhan

Aries Kelana
11-09-2018 13:29

Ilustrasi - Vaksin Kanker (Shutterstock/FT02)

San Diego, Gatra.com -- Para ilmuwan ari Scripps Research Institute di San Diego, California, Amerika Serikat telah mengembangkan vaksin baru yang - bersama dengan terapi yang ada - tidak hanya dapat mengobati melanoma agresif, tetapi juga mencegah kekambuhannya. Melanoma adalah sejenis penyakit kulit.

 

"Terapi ini menghasilkan respon yang lengkap - respon kuratif - dalam perawatan melanoma," kata Profesor Dale Boger, yang memimpin penelitian bersama peraih Nobel Profesor Bruce Beutler.

Vaksin tersebut dikembangkan setelah para peneliti menguji tiga pilihan terapi yang berbeda dalam model tikus yang terkena melanoma agresif. Semua tikus menerima jenis imunoterapi kanker yang dikenal sebagai anti-PD-L1 (programmed death-ligand 1) dan menerima varian vaksin lain yang berbeda.

Boger dan tim membagi 24  tikus menjadi tiga kelompok: kelompok pertama mendapatkan vaksin kanker PD-L1 saja, kelompok kedua diberi vaksinPD-L1 ditambah molekul yang disebut diprovocim, dan kelompok ketiga diterapi vaksin PD-L1 dan adjuvan lain yang berupa zat kimia yang dikenal sebagai tawas.

Diprovocim adalah senyawa yang dapat meningkatkan terapi dengan memperkuat respon imun. Senyawa ini sangat menarik bagi para peneliti untuk mengembangkan terapi baru, karena mudah untuk mensintesis dan memodifikasinya.

Walhasil, para periset menemukan bahwa 8 tikus yang menerima vaksin ditambah pengobatan diprovocim di samping terapi anti-PD-L1 memiliki tingkat kelangsungan hidup 100% selama 54 hari.

Sebaliknya, tikus yang menerima imunoterapi ditambah vaksin saja tidak bertahan hidup lama. Mereka yang menerima anti-PD-L1 plus vaksin memiliki tingkat ketahanan hidup 25 selama periode yang sama.

"Sangat menyenangkan melihat vaksin bekerja secara bersamaan dengan imunoterapi kanker seperti anti-PD-L1," kata Boger seperti dikutip situs medicalnewstoday.com, Selasa (11/9).

Hasil studi tersebut dipublikasi dalam Jurnal PNAS (Proceeding of National Academy of Sciences).


Aries Kelana

 

Aries Kelana
11-09-2018 13:29