Main Menu

Pesan Strategis APACT Meeting untuk Pemerintah

Umaya Khusniah
12-09-2018 01:27

APACT Meeting (Asia Pasific Tobacco and Health). (Dok.APACT 2018/RT)

Jakarta, Gatra.com - APACT Meeting (Asia Pasific Tobacco and Health) akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, mulai hari ini Rabu-Sabtu 12-15 September 2018.

 


Menurut Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, Ada beberapa pesan strategis dari APACT Meeting ini baik untuk masyarakat ataupun pemerintah. "Setidaknya ada tiga pesan strategis dari APACT Meeting ini," ujarnya melalui rilis yang diterima Gatra.com Selasa (11/9).

Pertama, degan diselenggarakannya APACT Meeting di Indonesia, memperlihatkan adanya kekuatan, keinginan, dan upaya yang kuat yang selama ini dilakukan masyarakat Indonesia dalam upaya pengendalian tembakau.

Padahal di sisi lain, pemerintah belum mengaksesi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). FCTC adalah kerangka konvensi pengendalian tembakau dalam skala global. Saat ini, FCTC telah menjadi hukum internasional. Ada 190 negara yang sudah meratifikasi hukum ini.

Kedua, kata Tulus, APACT Meeting merupakan bentuk dorongan pada Pemerintah Indonesia untuk melihat bagaimana kebijakan dan regulasi negara lain dalam melakukan pengendalian tembakau. Yang pada ujungnya untuk melindungi masyarakatnya dari dampak negatif konsumsi tembakau/konsumsi rokok.

Tulus mencontohkan regulasi yang diterapkan di Australia. Bungkus rokok tidak lagi menggunakan merek rokok, tetapi berupa bungkus putih (plain packaging). Upaya pemerintah Indonesia menggugat hal ini ke WTO, pun ditolak.

Menurut Tulus, Implementasi kebijakan dan regulasi yang dibuat Pemerintah Indonesia masih sangat minimalis. Hal ini karena begitu dominannya intervensi industri rokok dalam mempengaruhi pembuat kebijakan.

Ketiga, kata Tulus, momen APACT Meeting juga merupakan kesempatan bagi Pemerintah Indonesia untuk mendapat dukungan global di bidang pengendalian tembakau. Tentu karena salah satu dimensi pengendalian tembakau adalah upaya untuk menghadapi perusahaan rokok multinasional yang harus dihadapi secara bersama dan simultan.

Ia mencontohkan, salah satu invasi industri rokok multinasional adalah melakukan pembelian kepemilikan atas industri rokok nasional. Seperti PT HM Sampoerna yang telah dibeli PT Philip Morris Internasional. Atau anak perusahaan PT Gudang Garam yang juga telah diakusisi oleh Japan Tobacco Company.

"Melalui APACT Meeting ini, seharusnya Pemerintah Indonesia tidak tutup mata untuk lebih membuat terobosan regulasi dan kebijakan untuk pengendalian tembakau," ujar Tulus.

Saat ini kata Tulus perilaku konsumsi rokok di Indonesia sudah sangat membahayakan. Sebanyak 35% masyarakat Indonesia adalah perokok aktif dengan pertumbuhan jumlah perokok pada anak-anak dan remaja tercepat di dunia.

Tidak heran jika wabah konsumsi rokok telah mengakibatkan rantai kemiskinan yang makin akut. Bahkan menurut data BPS dan Riset Kesehatan Dasar, pola konsumsi masyarakat di rumah tangga miskin adalah sangat dominan yakni nomor dua setelah konsumsi beras.

Jadi menurut Tulus, sangat mendesak bagi Pemerintah Indonesia untuk memotong rantai kemiskinan dengan memisahkan konsumsi rokok pada rumah tangga miskin.

Kebijakan konkrit untuk melindungi rumah tangga miskin dan anak-anak plus remaja dari wabah konsumsi rokok kata Tulus yakni dengan menaikkan cukai rokok sampai maksimal (52 persen), larang iklan dan promosi rokok, larang penjualan rokok secara eceran/ketengan, dan tegakkan kawasan tanpa rokok.

"Mustahil bagi pemerintah akan bisa menekan jumlah masyarakat miskin, yang jumlahnya masih 30 jutaan, jika wabah konsumsi rokok masih dibiarkan seperti sekarang ini," pungkasnya.

Sebagai informasi, APACT Meeting adalah pertemuan internasional di bidang pengendalian tembakau (tobacco control). Pertemuan ini merupakan wadah berbagi pengalaman dan best practice dalam upaya pengendalian tembakau di negara-negara Asia Pacifik dan dunia.

APACT Meeting juga berfungsi untuk menyatukan kekuatan serta semangat bersama melawan invasi industri rokok raksasa, baik industri nasional dan atau industri multinasional.

APACT Meeting dihadiri oleh lebih dari 20 negara di Asia Pasific dan melibatkan 1.000 peserta. Acara ini menghadirkan puluhan nara sumber internasional, baik dari WHO dan atau LSM internasional.

APACT Meeting diselenggarakan setiap 3 (tiga) tahun sekali, dibawah koordinasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pelaksana nasional (host) acara ini adalah Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), dan YLKI menjadi salah satu co host-nya.

Opening Ceremony akan dilakukan pada Kamis, 13 September 2018 oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Nila Moeloek. Selain Menkes, juga akan hadir Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.


 

Umaya Khusniah

Umaya Khusniah
12-09-2018 01:27