Main Menu

Buku KIA Belum Dimanfaatkan Secara Maksimal

Aries Kelana
20-09-2018 06:49

Workshop buku KIA. (Dok.Nutrition Internastional /RT)

 

Jakarta, Gatra.com - Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sudah diterbitkan sejak 2004. Namun, kata Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Kirana Pritasari, MQIH, hingga saat ini, komitmen dalam pemanfaatannya di masyarakat masih belum sesuai harapan. Sehingga perlu penguatan terutama kelengkapan pengisiannya oleh petugas kesehatan, kader dan orangtua.

Itu terlihat dari data tahun 2016. telah mencetak dan mendistribusikan Buku KIA ke daerah sejumlah 94% dari jumlah sasaran ibu hamil, dan seluruh Puskesmas telah menerima Buku KIA yang didistribusikan Dinas Kesehatan Kab/Kota.

Data survei kesehatan nasional (Sirkesnas 2016) menunjukkan sebanyak 81,5% ibu hamil menyatakan memiliki Buku KIA. "Tapi, dari jumlah itu, 60,5% di antaranya yang bisa menunjukkan buku KIA," ujarnya seperti dalam rilisnya yang diterima Gatra.com (20/9).

Padahal, menurut Kirana, Buku KIA sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, karena berisi informasi kesehatan, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan meliputi imunisasi, gizi seimbang dan vitamin A.

Pesan penguatan pemanfaatan Buku KIA disampaikan pada Workshop Advokasi Pemanfaatan Buku KIA untuk Kesehatan Ibu, Anak, dan Gizi dalam memperkuat Suplementasi Vitamin A dengan tujuan untuk memperoleh komitmen, dukungan kebijakan dan implementasi untuk penerapan buku KIA di seluruh provinsi.

Acara tersebut berlangsung di Hotel JS Luwansa, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (19/9). Sebanyak 130 undangan yang berasal dari 34 provinsi.

Untuk memperkuat penggunaan buku KIA, Kirana memandang perlu keterlibatan lintas program terkait dalam mengoptimalkan pemanfaatan Buku KIA, terutama komitmen petugas kesehatan dalam penggunaan dan pengisian Buku KIA sebagai instrument dalam pemberian KIE dan pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

"Selain itu juga dibutuhkan kesadaran para ibu (orang tua) untuk menyimpan dan selalu membawa buku KIA saat melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan,” imbuh dr. Kirana.

Kemenkes menetapkan bahwa Buku KIA menjadi satu-satunya alat pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi yang dilahirkan berusia 5 tahun, termasuk pelayanan imunisasi, gizi, tumbuh kembang anak dan KB.

“Secara garis besar, terdapat dua elemen penting dari Buku KIA, yaitu media informasi dan media pencatatan (monitoring) di keluarga/masyarakat,” imbuh Kirana.  Buku KIA mengintegrasikan beberapa catatan kesehatan di komunitas seperti Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengukur pertumbuhan dan perkembangan bayi balita, kartu imunisasi, kartu ibu dan beberapa hal lainnya.

Buku KIA berisi informasi penting mengenai kesehatan ibu dan anak yang perlu dilakukan oleh ibu, suami dan keluarganya secara singkat dan padat, termasuk mengenai kewaspadaan keluarga dan masyarakat akan kesakitan dan masalah kegawatdaruratan pada ibuhamil, ba yi baru lahir dan balita, sehingga pada akhirnya buku KIA menyumbang penurunan angka
kematian bayi dan balita.

Kirana menyebutkan bahwa manfaat Buku KIA tidak saja pada sektor kesehatan, tetapi sudah diintegrasikan dengan sektor lain,di antaranya surat keterangan lahir untuk mempermudah mendapatkan akte, buku pegangan pendamping Program Keluarga Harapan, sebagai media pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak anak di PAUD, Bina Keluarga Balita dan lain-lain.


Aries Kelana

Aries Kelana
20-09-2018 06:49