Main Menu

Jusuf Kalla Hadir Dalam Pertemuan Tingkat Tinggi di PBB Membahas Tuberkulosis

Aries Kelana
26-09-2018 10:28

Wakil Presiden Jusuf Kalla (Dok.Setwapres/AR)

 

Jakarta, Gatra.com - Pada hari ini, Kamis (26/9) digelar pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Markas Besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) New York, akan dilangsungkan Pertemuan Tingkat Tinggi. salah satu topik utama yang dibahas adalah kemajuan dan tantangan didalam program penanggulangan penyakit tuberkulosis seluruh negara di dunia.

Pertemuan ini merupakan hasil kesepakatan dari negara-negara anggota PBB pada bulan Februari 2018 yang lalu, untuk secara khusus mengadakan sebuah pertemuan tingkat tinggi yang membahas persoalan-persoalan yang dihadapi oleh negara-negara di dunia dalam program penanggulangan penyakit tuberkulosis.

Delegasi resmi Indonesia hadir ke agenda ini dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang didampingi oleh Menteri Kesehatan Nila F Moloek serta Menteri Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan dengan didampingi oleh Arifin Panigoro yang bertindak selaku ketua dari Stop TB Partnership Indonesia.

Direktur LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Indonesia AIDS Coalition, Aditya Wardhana,  juga turut hadir dari komponen masyarakat sipil dalam Pertemuan Tingkat Tinggi PBB di markas besar PBB di New york untuk penanggulangan penyakit TB.

Ia menegaskan bahwa komitmen dari pemerintah Indonesia dalam menanggulangi penyakit tuberculosis ini masih terbilang rendah dan masih sangat perlu ditingkatkan. Angka deteksi dini kasus baru ini belum seperti yang dibutuhkan oleh negara kita untuk bisa menanggulangi penyakit mematikan ini.

"Beberapa hal yang menjadi catatan dari LSM Indonesia AIDS Coalition adalah, yang pertama perlunya meningkatkan penemuan kasus baru khususnya pada pasien ko-infeksi Tuberkulosis dan HIV serta pasien tuberkulosis resisten obat (TB MDR). Sebab pasien TB dengan kondisi ini, memiliki tingkat keberhasilan terapi yang lebih rendah dan lebih rentan mengalami kematian," kata Aditya dalam rilisnya yang diterima Gatra.com, Kamis (26/9)..

Hal kedua yang disoroti oleh IAC, menurut Aditya adalah masih perlu ditingkatkannya komitmen pendanaan bagi program tuberkulosis ini. Selama ini, dana bagi penyakit yang sangat mematikan bagi rakyat Indonesia ini masih banyak bergantung pada dana bantuan luar negeri khususnya dana yang bersumber pada dukungan dari The Global Fund for AIDS, TB dan Malaria.

Perlu upaya lebih nyata guna memaksimalkan peran Jaminan Kesehatan Kesehatan sebagai salah satu pilar pembiayaan kesehatan terbesar di Indonesia sehingga Indonesia tidak selamanya bergantung pada dana bantuan luar negeri.

Hal lain yang juga disorot adalah peran keterlibatan dari komunitas pasien TB sebagai bagian penting dalam program penanggulangan AIDS.

“Melibatkan pasien TB hanya sebagai obyek yang perlu diobati tanpa mau mendengarkan apa kebutuhan mereka sebenarnya, telah menyebabkan angka putus pengobatan yang relatif tinggi di kelompok pasien TB. Kita mesti belajar dari respon penanggulangan AIDS dimana peran kelompok yang paling terdampak diakomodir dengan sangat baik, suara mereka didengarkan dan juga keterlibatan mereka serta organisasi berbasis kelompok pasien ini didukung.” Kata Aditya Wardhana.

Sampai saat ini Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan tingkat beban kesakitan (burden of disease) tertinggi nomor dua setelah India untuk kasus tuberkulosis. Tingginya tingkat angka kasus penyakit tuberkulosis di Indonesia, telah menyumbang angka sebesar 16% dari total global burden of disease akibat TB di dunia.

Tingkat kematian yang diakibatkan sendiri oleh penyakit ini mencapai angka 110 ribu pasien setiap tahunnya berdasarkan data WHO. Indonesia juga dicatat menjadi sebuah negara dengan angka kasus tuberkulosis resisten obat (TB MDR) dengan angka yang cukup tinggi di dunia.

Penyakit tuberkulosis juga dicatat masih merupakan penyebab angka kematian tertinggi bagi pasien dengan ko-infeksi HIV. Hal ini sangat mengkuatirkan karena pasien HIV atau yang biasa dikenal dengan istilah ODHA lambat laun mulai mendapatkan akses ke pengobatan AIDS yang lebih baik, namun tuberkulosis masih menjadi momok menakutkan yang mengintai nyawa pasien dengan HIV positif.


Aries Kelana

Aries Kelana
26-09-2018 10:28