Main Menu

Klaim BPJS Kesehatan Tekor Rp 2 Trilyun!

Nur Hidayat
12-08-2016 10:37

Pelayanan BPJS kesehatan (Gatra/Rifki M. Irsyad/yus4)

Jakarta, GATRAnews - Hasil evaluasi dan monitoring Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) akan kinerja BPJS Kesehatan Semester I Tahun 2016 menemukan bahwa rasio klaim biaya manfaat terhadap pendapatan iuaran periode sama defisit 2,09%. Hingga 30 Juni 2016, pendapatan iuran mencapai Rp 32,873 trilyun sedangkan nilai klaim mencapai Rp 33,561 trilyun.

"Masih ada tunggakan iuran sebesar Rp 2 trilyun. Perlu kolektibilitas iuran, khususnya dari peserta mandiri," ungkap Plt Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Andi Zainal Abidin Dulung di Jakarta, Kamis (11/8).

Andi menjelaskan, keberlangsungan BPJS Kesehatan selama berjalan 2,5 tahun operasional ini masih tergantung pada Pemerintah. Catatan penting DJSN, rasio likuiditas hanya 18,49%. Dengan demikian kewajiban sebesar 81,51% tidak tercover.

Menurut Andi, anggaran BPJS Kesehatan saat ini masih ditopang dari Penerima Bantuan Iuran (PBI). "Akan baik kalau peserta perusahaan tercover semua. Harus ada jalan gotong royong dan surplus agar yang sehat menopang yang sakit," ungkapnya.

Adapun Anggota DJSN TB. Rachmat Sentika mengatakan kalau BPJS kurang kreatif dan inovatif dalam upaya menambah jumlah kepesertaannya. Pada Semester I 2016, pertumbuhan kepesertaan BPJS Kesehatan hanya bertumbuh 6,46% atau sekitar 10.122.626 jiwa saja. Dengan demikian cakupan peserta baru mencapai 64,5% atau sekitar 166.912.913 jiwa. "Butuh usaha kreatif untuk dorong agar peserta BPJS tidak dari PBI," ujar Rachmat.

Padahal masih besar potensi keanggotaan dari Badan Usaha Milik Negara dan Swasta. Untuk pekerja formal, dari potensi 50 juta peserta baru tergarap 20 juta orang. Sedangkan potensi dari BUMN bisa mencapai 9 juta peserta.


Reporter: BBI

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
12-08-2016 10:37