Main Menu

Sosialisasi BPJS Kesehatan di Ibukota Dinilai Belum Berjalan Baik

Aries Kelana
17-10-2016 21:40

BPJS KEsehatan (ANTARA/Risyal Hidayat/HR02)

Jakarta, GATRANews -- Ibu Mana tinggal di bilangan Petamburan I, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lokasinya tidak jauh dari pusat keramaian di pusat perbelanjaan Thamrin City. bundaran Hotel Indonesia. Meski begitu, ibu 7 anak itutidak  melek informasi, seperti informasi mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Bersama keluarganya, istri pedagang kali lima itu mengaku belum memiliki kartu BPJS Kesehatan atau yang masih memegang Kartu Jakarta Sehat.



Itu diungkapkan ketika rombongan dari Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menggali informasi di daerah tersebut (17/10/2016). Beberapa di antaranya Hasbullah Thabrany, gurubesar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Zaenal Abidin (Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia), dan Subiyanto (anggota DJSN).

Ibu Mana mengatakan dirinya bersama keluarganya sampai sekarang tidak mengetahui program tersebut. Ini karena ia tak memiliki sarana komunikasi, seperti televisi dan radio. “Dulu pernah diminta dikumpulin KTP dan kartu keluarga (KK),” ujarnya. Tapi setelah itu ia tak menanyakan perihal itu lagi.

Selama ini jika sakit, ia mengandalkan bantuan dari seorang warga. Ia diantar ke puskesmas terdekat. Berbekal KK, ia mendapat pelayanan kesehatan gratis. “Nanti saya yang membayar uang sekadarnya ke orang itu,” katanya. Di puskesmas, ia sempat diminta egera mengurus, tapi ia bilang nanti. Ia tak tahu betapa pentingnya kartu BPJS Kesehatan -- yang termasuk dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selama ini, jika sakit, ia hanya mengandalkan obat-obat yang dijual di warung-warung.

Namun orang tersebut sudah meninggal dunia. Hasbullah dan Zaenal menasehatinya untuk segera mengurusnya karena penyakit datang tanpa direncanakan. Setelah disarankan, ia berjanji akan menemui ketua RT-nya.

Hasbullah melihat banyak warga yang tidak mendapat informasi cukup soal BPJS Kesehatan. Sosialisasi hingga belum sampai ke pelosok. “Kan aneh, di daerah yang dekat dengan pusat keramaian di ibukota ini, masih ada orang yang belum mengerti dan tidak mengurus BPJS,” katanya. Mereka ini polos dan tak tahu bagaimana mengurusnya.

Sementara itu, Zaenal meminta agar sosialisasi di kampung-kampung melalui pendekatan langsung kepada warga. “Sebab informasi yang disampaikan BPJS Kesehatan belum semuanya sampai ke mereka,” ujarnya. Ambil contoh, seorang warga peserta BPJS Kesehatanyang tidak tahu lagi jika di tempat ia membayar sedang mengalami gangguan koneksi. Mereka tidak mencoba lagi di tempat lain atau lain hari. Sehingga ia terlambat 2 bulan.

Selain soal BPJS Kesehatan, rombongan DJSN juga menggali soal jaminan pensiun pada mereka. Hasilnya, sebagian dari mereka juga tak tahu.


 

Penulis: Aries Kelana

 

 

 

Aries Kelana
17-10-2016 21:40