Main Menu

Perawatan Kaki Diabetes, Jauhi Amputasi

Rosyid
08-04-2017 15:08

Jakarta, GATRAnews- Penderita diabetes memiliki resiko dua hingga tiga kali lebih besar mendapat masalah di kakinya yang jika diabaikan bisa berujung amputasi. Ada banyak masalah yang bisa muncul mulai dari kesemutan, luka, infeksi, gangren hingga charcot neuropathy dan gangguan aliran darah tepi.

 

Dokter spesialis bedah ortopedi yang praktik di RS Pondok Indah-Puri Indah, dr Ihsan Oesman menyarankan agar penderita diabetes memberi perhatian lebih pada kaki.  Seederhana saja, misalnya dengan menjaga kebersihan, selalu menggunakan alas kaki dan menjaga kulit kaki tetap lembab. Perhatian yang sama diberikan pada kuku kaki. Prinsip dasarnya adalah jangan sampai timbul luka yang menjadi pintu masuk infeksi. "Kecuali jika sudah keluar nanah, segera pergi ke dokter untuk mendapat penanganan yang lebih tepat," terangnya.  

Dokter spesialis tulang kaki ini menyebutkan bahwa penanganan luka di kaki penederita diabetes melibatkan multi disiplin ilmu kedokteran, termasuk ortopedi kaki. Agar bisa ditangani dengan tepat penderita akan menjalani skrening mulai dari Anamnesis yaitu pemeriksaan keluhan utama, faktor resiko dan komplikasi. Dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium (DPL, LED, HbA1C). Lalu pemeriksaan fisik kaki penderita. Jika diperlukan akan dilakukan foto x-ray  kaki diabetes. Jika dicurigai ada masalah pada pembuluh darahnya akan dilakukan test ABI Score. Pada kondisi yang parah akan dilakan pemeriksaan USG Dopler,  CT Scan dan MRI untuk melihat jaringan dalam penderita secara detail.

"Jika ada masalah pada pembuluh darah, maka aneka terapi yang dilakukan dokter akan sia-sia. Pembuluh darahnya harus dibereskan dulu," terang dokter lulusan FKUI 2003 itu.  Caranya mulai dengan pemberian obat-obatan untuk mengikis plak di pembuluh sampai tindakan operasi bypass. 

Untuk penanganan luka pada telapak kaki ada beragam metode. "Bentuk tindakannya sangat spesifik, yang masing-masing orang bisa berbeda," terangnya. Ada yang harus dioperasi dulu jari-jari kakinya agar lurus baru bisa ditangani. Ada pula menggunakan total contact cast hingga menggunakan lapisan placenta," terangnya. Total Contact Cast membungkus kaki yang luka dengan gips tips yang dlengkapi padding tebal agar bagian luka tidak mengalami tekanan berlebih. 

Dokter Ihsan wanti-wanti agar luka tidak jadi gangren karena penangannya akan sulit. Prosesnya harus dilakukan diruang steril, organ yang rusak harus dievakuasi (dikeluarkan) dan pembuluh darahnya harus dipastikan bagus. Jika gagal, maka amputasi jadi pilihan untuk mencegah infeksi menyebar ke organ tubuh lain.

"Salah satu yang masih menjadi tantangan bagi dokter adalah diabetic neuroarthopaty atau charcot," kata dokter sempat menuntut ilmu di Korea Selatan itu. Kondi sini ditandai dengan kaki yang membengkak tanpa rasa nyeri, kulit terasa hangat dan warna kemerahan.  Menurut dokter Ihsan, sepertiga penderita kaki diabetes memiliki resiko charcot.  "Charcot pada kaki pemicunya diabetes. Dipicu aliran darah yang terlalu cepat sehingga proses distribusi makanan pada organ tubuh seperti otot, tulang menjadi terganggu. Karena kurang makanan, kondisi organ menurun," terangnya. Jika diabaikan resiko patah tulang dan memicu infeksi tulang, jenis infeksi paling berbahaya. 

Penanganan charcot lumayan kompleks. Dimulai dengan pemeriksaan apakah ada luka atau tidak. Jika ada lukanya akan ditangani lebih dulu. Jika sudah tidak ada luka akan dilakukan pemasangan total contact cast. Jika terjadi deformasi pada tulang yang berlebihan -misalnya sampai tidak bisa jalan- maka akan dilakukan operasi untuk mengkoreksi. Tapi jika deformasi masih belum berlebihan, maka cukup dengan sepatu khusus. 

"Hasil optimal hanya bisa dicapai jika tindakan dilakukan sejak awal," kata dokter Ihsan. "Karena 80 persen penderita kaki diabetes datang berobat dalam kondisi lanjut dan kompleks," tutupnya.   


Editor: Rosyid

Rosyid
08-04-2017 15:08