Main Menu

Remaja LGBQ Lebih Tinggi Kemungkinan Kena Diabetes

Bernadetta Febriana
29-07-2018 14:29

Ilustrasi -utterstock/FT02 Diabetes. (Sh)

Jakarta, gatra.com - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa remaja yang mempunyai orientasi seksual menjadi lesbian, gay, biseksual dan mereka yang masih belum jelas orientasinya (LGBQ) mempunyai kemungkinan untuk terkena penyakit diabetes tipe 2 lebih tinggi dibanding remaja heteroseksual.

Sebuah penelitian yang dilakukan Northwestern University Medicine golongan remaja homoseksual lebih besar kemungkinan mengalami obesitas dan melakukan sedikit aktivitas bagi tubuh.

Seperti dilansir Xinhua, penelitian ini menggunakan data dari 350.673 pelajar Amerika Serikat yang berusia antara 14-16 tahun, yang mana data itu dikumpulkan oleh Centers for Disease Control and Prevention. Ini merupakan bagian dari proyek Survey Tingkah Laku Remaja Yang Beresiko untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan faktor resiko diabetes yang ditentukan oleh orientasi seksual.

Penelitian ini menemukan bahwa remaja yang memiliki orientasi seksual sebagai homoseksual dan juga yang masih belum jelas orientasinya sedikit melakukan aktivitas tubuh dibandingkan dengan remaja yang heteroseksual. Dalam seminggu, remaja homoseksual sehari lebih sedikit melakukan aktivitas tubuh seperti olahraga dibanding remaja heteroseksual.

Seiring dengan hal tersebut, aktivitas yang tidak banyak memerlukan gerakan tubuh seperti anteng bermain game angkanya justru lebih besar di golongan remaja homoseksual dibanding remaja heteroseksual, sekitar lebih dari 30 menit sehari (dihitung hari sekolah tidak termasuk hari libur).

Sementara itu, remaja perempuan yang terindikasi sebagai lesbian juga biseksual dan mereka yang masih bekum jelas oprientasinya, punya kemungkinan 1,55 hingga 2,07 kali lebih obes daripada remaja perempuan yang heteroseksual.

Mengapa remaja dengan orientasi heteroseksual lebih punya kemungkinan untukmenjadi obes dan jarang beraktivitas yang bergunauntuk kesehatan tubuh, hal ini dikarenakan mereka masuk dalam golongan orang yang mengalami stress karena mereka merasa dirinya minoritas (minority stress) dan merasa dikucilkan.

“Banyak dari para remaja ini yang tidak banyak beraktivitas, seperti hanya di depan komputer atau hanya bermain game, karena itu adalah bentuk pelarian mereka akibat stress karena merasa dikucilkan dan menjadi minoritas akibat orientasi seksual mereka,” ujar Lauren Beach, ketua tim peneliti yang sedang melakukan penelitian postdoktoral-nya di Norwestern University.

Penelitian menunjukkan, lanjut Kauren, bahwa stress yang didapat karena merasa sebagai minoritas yang disingkirkan mempunyai dampak cukup luas terhadap fisik. Apalagi bila budaya dan lingkungan sekitar tidak bisa menerima pilihan orientasi remaja ini.

Maka dari itu, Lauren mengharapkan adanya kerjasama dari para orang tua, guru juga dokter supaya para remaja ini mengerti bahwa mereka harus hidup sehat dan aktif bergerak sehingga bisa terhindar dari obesitas dan penyakit diabetes.  Bagaimanapun, perasaan disingkirkan sebagai minoritas harus dihilangkan supaya mereka bisa hidup lebih baik, salah satunya adalah lewat dukungan keluarga.


Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
29-07-2018 14:29