Main Menu

Hari Aids Sedunia; IAC Tuntut Pemerintah Tingkatkan Komitmen Tanggulangi ODHA

Andya Dhyaksa
01-12-2016 17:53

Jakarta, GATRAnews - Hari ini, 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS Sejagat. Sebuah moment penting untuk mengingatkan umat manusia serta meneguhkan kembali komitment untuk secara konsisten menanggulangi epidemi AIDS yang telah menyebabkan kematian jutaan penduduk di dunia. 

 

Saat ini, berdasarkan permodelan yang dikeluarkan oleh badan PBB untuk HIV dan AIDS yaitu UNAIDS, di Indonesia terdapat 690 ribu penduduk yang sebenarnya telah terinfeksi HIV. Namun, dari jumlah ini angka orang yang mengetahui status HIV-nya masih kecil sekali, yaitu baru sekitar 30%.

 

Dari angka estimasi tersebut, data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa jumlah ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) yang saat ini menerima terapi pengobatan Anti Retro Viral (ARV) baru sekitar 8% atau sekitar 65.825 ODHA. Ini adalah angka yang paling kecil diantara negara-negara di kawasan Asia Pacific.

 

LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC), sebagai mitra pemerintah dalam mengerjakan program penanggulangan AIDS, tak pernah lelah menyuarakan pentingnya pemerintah untuk melipat gandakan upayanya dalam mendorong setiap warganegara untuk menjalani tes HIV. Selain itu, sedini mungkin para penderita ODHA mengakses pengobatan ARV bagi orang yang telah terinfeksi virus ini.

 

“Angka 8% adalah sebuah angka yang menjadi alarm bagi bangsa kita. Jika pemerintah tidak sesegera mungkin meningkatkan angka cakupan ini, maka Indonesia akan menjadi negara yang paling tertinggal dalam upaya pengendalian epidemic AIDS di wilayah Asia dan Pacific.” kata Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif IAC dalam keterangan tertulis yang diterima GATRAnews hari ini.

 

Tidak bisa dipungkiri, pemberian subsidi bagi pengobatan ARV telah turut menyumbang kontribusi yang besar bagi menurunnya angka kematian pada ODHA yang disebabkan infeksi virus HIV ini. Selain itu, ODHA yang mendapatkan pengobatan ARV berkualitas telah terbukti tidak akan menularkan penyakitnya kepada orang lain.

 

“Hal ini diperkuat dengan hasil banyak studi internasional yang telah dipublikasikan secara meluas bahwa obat ARV juga berperan sebagai alat pencegahan yang paling efektif,” kata Aditya.

 

Selain itu, ARV juga bermanfaat bagi pengendalian infeksi dan penularan penyakit ini. Karena itu, sangat penting untuk tetap memberikan subsidi penuh bagi obat ARV serta memastikan bahwa akses kepada obat ARV ini bisa tersedia secara merata di seluruh pelosok Indonesia. “Kami juga menuntut pemerintah untuk secara serius dan bersama-sama melakukan upaya konsisten bagi pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV,” kata Aditya.

 

Yang juga tidak kalah penting, menurut Aditya, IAC mengharap pemerintah juga menyediakan akses bersubsidi penuh bagi upaya tes laboratorium penunjang keberhasilan terapi, seperti tes Viral Load. Hal ini demi mengetahui keberhasilan terapi ARV yang dijalankan oleh ODHA, sehingga ODHA termotivasi untuk patuh pada pengobatannya.

 

Komitment pemerintah dengan memberikan subsidi penuh bagi obat ARV sehingga ODHA bisa lebih mudah mengaksesnya adalah sebuah kunci bagi penanggulangan epidemi AIDS di Indonesia. Ini merupakan tantangan besar bagi Menkes untuk yakinkan Kemenkeu serta DPR guna memberikan persetujuan peningkatan alokasi subsidi ini. Sehingga jumlah orang yang mengkonsumsi ARV bersubsidi semakin besar.

 

“Variasi obat ARV bersubsidi yang beredar bisa semakin banyak, serta tes-tes monitoring keberhasilan pengobatan juga bisa disediakan secara meluas. Gagal dalam upaya di titik kritis ini akan menyebabkan Indonesia akan menanggung beban berat kedepannya, khususnya bila ancaman virus HIV kebal obat ARV menjadi kenyataan. 


Penulis: Andya Dhyaksa

Editor: Dani Hamdani

 

Andya Dhyaksa
01-12-2016 17:53