Main Menu

Awas Bujuk Rayu Pengobatan Sel Punca!

Nur Hidayat
03-02-2016 16:51

Kepala UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca RS Cipto Mangunkusumo. Dokter Ismail (ketiga dari kiri) (GATRA/Afwan)

Jakarta, GATRAnews - Masih beredarnya obat-obatan yang mengklaim menggunakan teknologi stem cell atau sel punca mendapat perhatian dari UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca RS Cipto Mangunkusumo. Dokter Ismail yang mengepalai lembaga itu menyarankan agar masyarakat tidak terbujuk dengan penawaran obat itu.

"Pelayanan sel punca sudah marak di Jakarta dan bersifat komersial. Belum tentu terapi yang didapt adalah benar-benar sel punca," kata Ismail kepada GATRAnews, Rabu (3/2). Pelayanan sel punca memang digadang-gadang menjadi salah satu terapi yang manjur bagi penderita berbagai jenis penyakit. Namun, Ismail menegaskan sel punca, di berbagai negara, masih dalam tahap penelitian. Contohnya di Amerika, sel punca masih belum jadi standar pelayanan.

Bentuk obat 'rasa' sel punca itu bermacam-macam yang beredar di lapangan. Ada dalam bentuk cair, krim dan dibungkus sachet. "Jangan iming-imingi konsumen. Sel punca nggak mungkin ada dalam sachet. Sel punca itu hidup. Penyimpanannya pun khusus. Kita berusaha ngasih penerangan," ujar Ismail.

Seperti pada obat 'rasa' sel punca berbentuk minuman. Jika ditelan dan terkena asam lambung, sel punca akan mati. Tentu sia-sia. Bahkan biaya yang ditawarkan tergolong mahal. Dari pemaparan Ismail, obat-obat yang diklaim mengandung stem cell itu dibandrol ratusan juta. Misal salah satu obat dari luar negeri yang menggunakan stem cell dari kelinci, satu suntikan Rp 200 juta. Ada juga produk dari Korea yang menawarkan Rp 150 juta.

Produk yang kebanyakan ditawarkan di dunia maya ini ternyata ampuh menarik minat masyarakat. Tapi Ismail mengingatkan, Indonesia tidak menggunakan stem cell dalam pelayanan stem cell yang masih dalam tahap penelitian. Pasalnya, mengacu pada teori Chimera, dikhawatirkan ketika menggunakan stem cell dari hewan akan tumbuh jaringan tidak diinginkan, seperti tumbuh kuping seperti kelinci. Untuk itu, kata Ismail, masyarakat harus bersabar dan kritis ketika mendapati tawaran pelayanan stem cell.


Reporter: AFB

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
03-02-2016 16:51