Main Menu

Obat- obatan Psikoaktif Masih Banyak Beredar

Nur Hidayat
10-11-2012 00:21

Jakarta, GATRAnews - Penyalahgunaan obat-obatan terlarang bukan menjadi hal yang baru dalam pergaulan remaja ibu kota. Peraturan atau Undang-Undang (UU) yang telah dibuat pemerintah terhadap barang terlarang ini, belum mampu memberikan dampak yang signifikan. Obat-obatan yang mengandung zat psikoaktif seperti Riclona, Dumolyd, dan Calmlet, masih dijual bebas melalui dunia maya.

 

Obat yang diperuntukan untuk orang-orang yang mengalami gangguan emosi ini, disalahgunakan oleh para remaja untuk mendapatkan ketenangan dan kenikmatan sesaat. Padahal, jika dikonsumsi secara terus-menerus, obat-obat ini dapat menyebabkan insomnia jangka pendek, epilepsi, bahkan kematian. 

 

Hal ini juga dipertegas oleh Kabag Humas BPOM Nining. Menurutnya, peraturan produksi, distribusi, dan konsumsi obat-obat tersebut, diatur dalam UU. Diantaranya UU No.5 1997 dan UU No.35 tahun 2009, tentang psikotropika dan narkotika. "Hanya orang yang mempunyai spesifikasi tertentu yang diperbolehkan mengkonsumsi obat-obat tersebut," tegas Nining. 

 

Sedangkan peraturan tentang perdangan obat-obat tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Pemenkes) No.167/Kab/B VII/72, tentang pedagang eceran. "Selain mengatur siapa saja yang boleh mengkonsumsi, Pemenkes dan UU juga mengatur siapa saja yang boleh menjual. Jadi tidak sembarangan," tambah Nining. 

 

Nining juga menjelaskan, obat-obat seperti Dumolyd, Riclona, maupun Calmlet, bekerja dengan menekan saraf pusat, berbeda dengan obat biasa yang hanya menekan saraf tepi. Stimulan didepres sehingga menimbulkan efek negatif," kata Nining. "Karena alasan itulah pemakaian obat ini harus menggunakan resep dari dokter dan dilarang dijual secara bebas," lanjut Nining. "Pecandu merupakan korban, konsekuensinya mereka harus masuk panti rehabilitasi sampai betul-betul sembuh. Mereka adalah pesakitan yang harus ditolong," ungkap Nining. (*/IAM)

 

 

 

Nur Hidayat
10-11-2012 00:21