Main Menu

Menkes Diminta Masukkan Obat Hepatitis-C ”Murah” ke Fornas

Hendry Roris P. Sianturi
20-09-2016 15:06

Menteri Kesehatan Nila Moeloek (ANTARA/Hafidz Mubarak/HR02)

Jakarta, GATRAnews – Permasalahan penyakit Hepatitis-C semakin kusut. Di Indonesia, ada 3 juta pengidap Hepatitis-C dan setiap tahunnya menyebabkan kematian hingga 15.000 jiwa. Selama ini, pemerintah hanya memasukkan pegylated interferon dan ribavirin dalam sistem Formularium Nasional (Fornas), yang dinilai lebih mahal dan tidak ampuh.

 

 

Karena itu, Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dan Koalisi Obat Murah (KOM) menyampaikan surat kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F. Moeloek beberapa hari yang lalu. Tujuannya, agar Sofosbuvir masuk ke dalam Fornas Tambahan 2016

 

“Kami menyampaikan surat ini karena dilandasi keprihatinan kami melihat tingginya angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh infeksi Hepatitis-C yang sangat tinggi,” kata Aditya Wardhana juru bicara dari KOM seperti dalam rilis resmi yang diterima GATRAnews, Selasa (20/09).

 

Menurut Aditya, obat Sofosbuvir adalah obat Hepatitis C jenis Direct Acting Antiviral (DAA). Obat ini memiliki masa terapi lebih pendek dibanding Interferon. Selain itu, efek samping yang disebabkan oleh DAA juga lebih rendah. Harganya pun jauh lebih murah dari obat kombinasi Peggylated Interferon plus Ribavirin yang mencapai Rp. 80 juta.

 

“Harga Sofosbuvir versi generik dijual oleh produsennya antara Rp. 1,5 juta – Rp. 2,9 juta. Untuk penyembuhan Hepatitis-C diperlukan waktu antara 3 bulan sampai 6 bulan. Harga obat Sofosbuvir ini semahal-mahalnya akan mencapai Rp. 17,5 juta,” katanya.

 

Apalagi, sejak 1 Juli 2016, Sofosbuvir versi generik telah mendapat Nomor Ijin Edar (NIE) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dengan Nomer Ijin Edar DKI1640400317A1. “Hepatitis-C jenis DAA seperti Sofosbuvir, Sofosbuvir/Ledipasvir dan Daclatasvir yang tingkat kesembuhannya bisa mencapai hingga 99%,” ujarnya.

 

Dengan memasukkan Sofosbuvir ke dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), katanya, tentu pemerintah dapat menurunkan angka pasien Hepatitis-C yang diperkirakan mencapai 3 juta orang. Selain itu, pemerintah juga dapat menghemat pengeluaran anggaran negara. “Karena obat ini jauh lebih murah,” katanya.

 

Menurut Aditya, Sofosbuvir telah direkomendasikan oleh WHO sebagai pilihan utama pengobatan pada pasien infeksi Hepatitis-C karena memiliki efektifitas yang sangat tinggi. Oleh karena itu, PPHI dan KOM mendorong Kemenkes agar segera menggratiskan obat Sofosbuvir. “Kita terus dorong guna mengakomodir obat ini,” ujarnya.**


 

 

Reporter  : Hendry Roris P. Sianturi

Editor      : Bambang Sulistiyo

Hendry Roris P. Sianturi
20-09-2016 15:06