Main Menu

Cara Produsen Farmasi Cegah Pemalsuan Obat

Rosyid
15-12-2016 00:12

Jakarta, GATRANews - Pertumbuhan  industri farmasi Indonesia diperkirakan mencapai Rp 78 triliun pada 2017 naik 5 - 6 persen dibandingkan tahun 2016. Namun sejumlah masalah masih menghadang termasuk masalah klasik pemalsuan obat.
 


Obat palsu semakin sulit dibedakan dari aslinya, bahkan produsennya sendiri tidak bisa membedakan jika hanya dengan mata telanjang. Pemeriksaan terpaksa harus dilakukan di laboratorium untuk menentukan apakah obat itu sudah dipalsu atau tidak.

Hal itu terungkap pengurus Gapungan Pengusaha Farmasi Indonesia bertemu media, Rabu (14/12) di Jakarta. Bahkan ada anekdot yang diceritakan Kendrariadi Suhanda, Wakil Sekretaris Jendral Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, dimana pengusaha pemilik merek obat yang dipalsu salah menentukan obat yang asli dan palsu. "Ketika diminta menunjukkan mana obat produksinya sendiri yang asli, dia malah mengambil yang palsu," tuturnya sambil terkekeh.

Pemalsuan obat sudah terjadi puluhan tahun dan sangat sulit diberantas. Pada dasarnya ada tiga jenis pemalsuan obat. Yang pertama, obat diganti zat yang tidak memiliki khasiat misalnya tepung terigu. Ada juga yang memiliki zat berkhasiat tapi kadarnya tidak sesuai. Ada pula yang memiliki kadar zat berkhasiat dengan kadar yang pas, tapi menggunakan merek orang lain.

"Packaging adalah pintu pertama untuk melakukan pemalsuan obat. Karena itu sekarang packaging farmasi dibuat secara khusus untuk mencegah pemalsuan. Salah satunya adalah dengan memberi ornamen khusus yang sangat sulit ditiru," kata Teddy Iman Soewahjo, Ketua Harian Indonesia Pharma Materials Management CLub (PMMC).

Namun pemalsuan obat tidak serta merta hilang, karena kemudian diketahui ada oknum-oknum di industri farmasi yang menyelundupkan kemasan berornamen itu keluar pabrik dan diselewengkan oleh pemalsu obat.




Editor: Rosyid

Rosyid
15-12-2016 00:12