Main Menu

Badan POM Musnahkan Obat Tradisional dan Kosmetik 43 Milyar

Putri Kartika Utami
11-12-2017 18:04

Petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (Balai BPOM) Aceh memperlihatkan berbagai jenis kosmetik yang tidak memiliki izin edar di Banda Aceh, Aceh, Jumat (8/12). (Antara/Irwansyah Putra/AK9)

Jakarta, Gatracom - Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memusnahkan Obat Tradisional (OT) yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) dan kosmetika sepanjang tahun 2017.


Obat tradisional mengandung BKO dan kosmetika mengandung bahan berbahaya itu merupakan hasil temuan pengawasan produk di peredaran (post-market control) oleh Badan POM RI melalui Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

Selama periode Desember 2016- November 2017, Badan POM RI menemukan 39 OT mengandung BKO, 28 di antaranya tidak memiliki izin edar Badan POM RI (ilegal).

BKO yang teridentifikasi dalam produk OT itu didominasi oleh Sildenafil dan turunannya. Jenis ini berisiko menimbulkan efek kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, hingga kematian. BKO lainnya juga ditemukan adalah pereda nyeri seperti Fenibutazon.

“Kami telah menarik OT mengandung BKO dari peredaran dan memusnahkannya. Pada 2017 ini, pemusnahan telah dilakukan terhadap OT yang tidak memenuhi persyaratan senilai Rp 23,9 milyar,” jelas Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito di acara Aksi Peduli Kosmetika Aman dan Obat Tradisional (OT) Bebas Bahan Kimia Obat (BKO), di Jakarta, Senin (11/12).

Lanjut Penny, pembatalan nomor izin edar juga dilakukan terhadap OT yang sebelumnya telah memiliki izin edar Badan POM RI, namun teridentifikasi mengandung BKO setelah beredar.

Badan POM juga menemukan 26 jenis kosmetika mengandung bahan berbahaya. Temuan itu didominasi oleh produk kosmetika dekoratif dan produk perawatan kulit dengan jenis bahan berbahaya.

Kandungan bahan berbahaya itu seperti merkuri, bahan pewarna merah K3 dan merah K10. Ketiga bahan itu dapat berefek buruk bagi kesehatan. Merkuri bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan teratogenik mengakibatkan cacat pada janin, bahan pewarna merah K3 dan merah K10 juga bersifat karsinogenik.

Selain itu, ditemukan pula kosmetika mengandung BKO yang seharusnya tidak diperbolehkan terkandung dalam kosmetika, yaitu Klindamisin.

"Terhadap seluruh temuan kosmetika mengandung bahan berbahaya telah dilakukan tindak lanjut secara administratif, antara lain berupa pembatalan izin edar, penarikan dan pengamanan produk dari peredaran, serta pemusnahan,” ujar Penny.

Pemusnahan kosmetika itu, lanjutnya, senilai Rp 20,4 milyar. Beberapa pelanggaran di bidang kosmetika juga telah ditindaklanjuti secara pro-justitia oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Badan POM RI”, ujarnya.

Untuk mencegah penggunaan OT dan BKO maupun kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, Badan POM meluncurkan aplikasi Public Warning Obat Tradisional. Ini merupakan aplikasi berbasis android yang berisi daftar produk OT yang dinyatakan berbahaya oleh badan pengawas.

“Aplikasi ini akan memudahkan masyarakat dalam memilih produk OT yang aman untuk mereka konsumsi,” papar Penny.


Reporter: Putri Kartika Utami
Editor: Arief Prasetyo

Putri Kartika Utami
11-12-2017 18:04