Main Menu

Ada 13 Ribu Tanaman Bahan Jamu Tradisional Butuh Promosi

Mukhlison Sri Widodo
17-02-2018 18:53

Festival Jamu di Pasar Ngasem, Kota Yogyakarta (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com -  Potensi sumber daya alam dan pasar jamu tradisional dari Indonesia amat besar. Namun jamu masih kurang promosi dan kurang menarik untuk generasi saat ini.

Ketua Dewan Pembina Daerah Gabungan Pengusaha (DPD GP) Jamu Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta Bambang Purnomo menuturkan Indonesia memiliki kekayaan sekitar 13 ribu tanaman herbal yang berpotensi menyembuhkan berbagai penyakit.

“Saat ini tantangannya mengenalkan lebih jauh khasiat tanaman-tanaman itu lewat jamu tradisional yang sudah menjadi kebudayaan bangsa ini,” kata Bambang di sela Festival Jamu yang digelar di Pasar Ngasem, Kota Yogyakarta, Sabtu (16/02).

Bambang menjelaskan, saat ini promosi jamu tradisional perlu didukung pemerintah guna mengenalkan jamu pada generasi zaman sekarang.

Apalagi, Bambang melihat peluang menggarap pasar jamu tradisional masih terbuka lebar, termasuk karena dua pabrik jamu kenamaan tutup. Selain promosi, pelatihan pengemasan jamu tradisional agar lebih menarik juga dibutuhkan.

“Terus terang saja, menghilangkan rasa pahit di beberapa jamu tradisional guna memenuhi keinginan pasar sekarang sangat sulit. Ini sepenuhnya  berhubungan dengan bahan baku,” katanya.

Saat ini sekitar 30 pengusaha jamu tradisional di DI Yogyakarta telah bergabung dengan GP Jamu. Bambang menyatakan, kebanyakan mereka adalah pedagang jamu gendong yang menjajakan jamu secara berkeliling.

Festival Jamu dilaksanakan oleh DPD Persatuan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) DI Yogyakarta. Ajang pertama ini menampilkan 55 pedagang jamu. Selain memamerkan produk, sebanyak 2.500 gelas jamu dibagi gratis ke pengunjung.

“Festival ini berupaya mengenalkan jamu-jamu tradisional ke generasi muda. Banyak kendala yang dihadapi, namun dengan promosi terus menerus, kami pikir jamu akan semakin dikenal,” kata Sekjen Putri DI Yogyakarta Widihasto Wasana Putra.

Hasto mengatakan festival ini akan menjadi agenda rutin tahunan sebagai upaya mendukung eksistensi jamu tradisional dan menarik wisatawan. Tahun depan festival rencananya digelar di Candi Prambanan.

Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan, tantangan terbesar jamu tradisional dalam merebut pasar generasi sekarang adalah dalam hal rasa dan kemasan.

“Data kami menunjukkan, saat ini jamu atau obat herbal menjadi pilihan masyarakat modern. Jadi kami mencoba menghasilkan produk yang memiliki rasa manis dengan kemasan menarik yang mudah dikonsumsi,” kata Irwan  sebagai pendukung utama festival ini.

Selain pasar nasional yang terbuka luas, pasar internasional juga masih terbuka untuk produk jamu tradisional. Tanpa merinci berapa nilai eksport tahunan, is mengatakan produk-produknya jamunya sudah diterima di negara-negara Asean.


Reporter : Arif Koes

 

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
17-02-2018 18:53