Main Menu

Pakar: HIV/AIDS Akibat Seks Bebas dan Obat Terlarang

Tian Arief
28-10-2013 12:25

Surabaya, GATRAnews - Pakar penyakit tropik infeksi (HIV-AIDS) RSUD dr Soetomo Surabaya, Dr Erwin Astha Triyono SpPD KPTI FINASIM, menegaskan bahwa maraknya penyakit HIV/AIDS terjadi akibat seks bebas dan penggunaan obat terlarang, khususnya lewat jarum suntik.

"Tapi, seks bebas itu tidak selalu dilakukan remaja, karena banyak ibu rumahtangga yang terpapar HIV/AIDS akibat suaminya suka `jajan`," kata dosen Universitas Airlangga Surabaya itu, di Surabaya, Minggu (27/10).

Erwin, di sela-sela bakti sosial Dharma Wanita Persatuan Universitas Airlangga Surabaya untuk remaja, kepada Antara menjelaskan bahwa hal itu menunjukkan penderita HIV/AIDS tidak selalu dari "dunia hitam".

"Diskriminasi dan stigma dari masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS sebagai kelompok `hitam` membuat penderita menyembunyikan penyakit mereka," kata ahli penyakit dalam RSUD dr Soetomo/Unair itu.

Akibatnya, 90 persen pasien HIV/AIDS yang datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan parah, padahal HIV-AIDS bisa disembuhkan, asalkan pasien patuh pada dokter.

"Angka kematian karena HIV-AIDS saat ini hanya 20 persen, bukan 100 persen seperti yang dipercaya masyarakat, karena itu hindari berbagai hal yang berpotensi menyebarkan HIV, seperti seks bebas dan menggunakan obat terlarang (kasus narkoba jarum suntik)," katanya.

Oleh karena itu, jangan memberi stigma negatif pada ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS). "Jangan sembunyi, jangan diisolasi, jangan dikeluarkan dari sekolah. Jika sudah terlanjur tertular HIV, segera berobat. Mereka bisa diobati dan bisa hidup normal," katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Bakti Sosial Dharma Wanita Persatuan Unair, Atiet Eddy Rahardjo, mengatakan bakti sosial dalam bentuk sosialisasi pencegahan paparan HIV-AIDS akan dilakukan secara berkelanjutan pada siswa sekolah-sekolah pinggiran.

"Sekolah di pinggiran lebih memerlukan sosialisasi ini karena keterbatasan akses informasi. Tampaknya tidak banyak remaja yang mengetahui risiko HIV/AIDS terkait perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab," katanya.

Pada Mei 2012, Yayasan Rahima menyelenggarakan sebuah penelitian sederhana mengenai perilaku seksual remaja di Jawa Timur. Yayasan ini menyebar kuesioner kepada 473 pelajar berusia 15-17 tahun dari 18 sekolah setingkat SMA di Banyuwangi, Jombang, Lamongan dan Kediri.

Hasilnya, 73 persen responden pernah pacaran dan hampir sepertiga (31 persen) menjawab berpegangan tangan dan pelukan, 11 persen berpegangan tangan, pelukan, dan mencium pipi, serta 12 persen menjawab pegangan tangan, pelukan, cium pipi dan mencium bibir.

Selanjutnya, lima persen responden menjawab mereka melakukan semua hal di atas ditambah meraba-raba tubuh pasangan, dua persen responden mengatakan mereka tidak hanya meraba-raba tubuh pacar, tapi juga melakukan oral seks.

Sisanya sebanyak 39 persen responden menjawab "lainnya". Kriteria lainnya adalah ngobrol, berkirim SMS, jalan bareng, mengirim surat, hingga melakukan hubungan seksual. "Tampaknya, remaja perlu bekal tentang perilaku yang sehat dan bertanggung jawab agar terhindar risiko HIV/AIDS," katanya. (TMA){jcomments on}

Tian Arief
28-10-2013 12:25