Main Menu

Peluang dan Tantangan Pengobatan Herbal

Edward Luhukay
14-04-2014 10:44

Yashim Seiff, Jeng Ana, & Sjamzurizal (Dok. GATRAnews)Jakarta, GATRAnews - Tren pengobatan alternatif menggunakan tanaman obat (herbal) kian menjamur sejak beberapa tahun terakhir. Banyak yang telah melirik herbal. Khasiat herbal pun semakin diakui. Sayangnya, di balik tingginya minat masyarakat terhadap pengobatan herbal, selalu saja muncul persoalan. Satu di antaranya yakni dengan tampilnya pengobat herbal gadungan yang hanya berniat mengeruk keuntungan secara materi.

"Para oknum pengobat herbal inilah yang membuat pengobatan herbal terkadang masih dipandang sebelah mata," kata Ina Soviana, herbalis yang kerap disapa dengan panggilan Jeng Ana.

Belakangan, menurutnya, para pengobat herbal yang tidak professional dan kurang bermutu, bermunculan. Oleh karenanya, Jeng Ana kerap melakukan peningkatan terhadap layanan maupun kualitas herbal racikannya. Di sisi lain, Jeng Ana mengklaim selalu meminta kepada para pasiennya untuk membawa hasil cek laboratorium. Hal ini perlu dilakukan, katanya, guna menepis keraguan pasian akan pengobatan herbal yang dilakukannya.

"Cek laboratorium itu tidak hanya saya minta pada saat memulai pengobatan, tapi juga setelah pengobatan berjalan. Dengan cara ini pasien bisa melihat hasil dari penyembuhan yang dilakukan. Alhamdulillah cara ini sangat berhasil. Mayoritas pasien saya sembuh, dan akhirnya terjadilah efek gethok tular (kabar dari mulut ke mulut --Red.). Dengan demikian masyarakat semakin mencintai herbal Indonesia," jelasnya.

Langkah Jeng Ana ini diapresiasi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) Yashim Seiff. Menurutnya, dengan keharusan cek laboratorium, tak hanya menepis keraguan pasien terhadap pengobatan herbal, tapi sekaligus juga membuktikan bahwa pengobat herbal dapat bersinergi dengan dunia medis kedokteran modern. "Mereka bisa saling mengisi dan tak perlu saling menjatuhkan satu sama lain," harapnya.

Meski demikian, sesuai dengan aturan standar yang diterapkan ASPETRI, para pelaku pengobatan tradisional, tak terkecuali herbalis, tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat kedokteran modern. Salah satu tujuannya adalah agar tidak ada pelanggaran ranah profesionalitas. Jika melanggar aturan ini, maka ASPETRI bisa memberikan sangsi administratif hingga memberikan usulan kepada lembaga terkait untuk menutup praktek pengobat yang bersangkutan.

ASPETRI sendiri merupakan satu-satunya wadah organisasi pengobatan alternatif yang diakui oleh pemerintah lewat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tujuan utama ASPETRI adalah untuk melakukan pembinaan sekaligus peningkatan mutu layanan pengobatan alternatif ramuan Indonesia. Karena itulah ASPETRI memiliki kewenangan untuk memberikan sertifikasi dan pelatihan yang dilakukan secara berkala.

"Saat ini ASPETRI memiliki sekitar tiga ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua anggota ASPETRI memiliki layanan yang tersandard sesuai dengan ketentuan organisasi, sehingga mereka diharapkan dapat memberikan layanan berkualitas. Karena itulah bagi masyarakat yang ingin melakukan pengobatan herbal harus melihat dan mengamati apakah si pengobat sudah menjadi anggota ASPETRI atau belum. Maksudnya tidak hanya penting secara kualitas pelayanan dan ramuan, tapi juga secara legalitas bisa dipertanggungjawabkan," jelas Yashim.

Sementara, mantan kepala Pusat Kesehatan Mabes Polri Kombes (Pol) Sjamzurizal menegaskan, peluang pengobatan herbal Indonesia sangat cerah. Karena itu dirinya mendukung langkah ASPETRI yang akan terus membenahi profesionalitas para pelaku pengobatan ini.

Menurutnya, bila melihat ketersediaan bahan baku di Tanah Air, peluang memproduksi dan memasarkan produk herbal sesungguhnya sangat luas. Karena itu ia menyarankan kepada herbalis seperti Jeng Ana untuk tidak hanya menjadi pelaku aktif yang secara langsung bersinggungan dengan pasien, tetapi juga harus menjadi pelaku aktif memproduksi obat-obatan herbal.

"Indonesia memiliki ribuan spesies tanaman yang patut dibanggakan. Mulai dari temulawak (curcuma xanthoriza), kencur, jahe, pegagan hingga sambiloto. Bila diolah, bahan-bahan itu berkhasiat meningkatkan nafsu makan dan stamina serta membantu menyembuhkan berbagai penyakit, mulai penyakit hati, reumatik dan radang, serta menurunkan kolesterol. Nah, herbalis seperti Jeng Ana harusnya bisa mengambil peluang yang sangat bagus ini. Saya informasikan, pasar jamu per tahun mencapai Rp 2,9 trilyun," demikian Sjamzurizal. (EL) {jcomments on}

Edward Luhukay
14-04-2014 10:44