Main Menu

Perki: Pelayanan Penyakit Jantung di Indonesia Belum Merata

Januar
15-04-2016 18:39

Acara konferensi pers Asmiha 2016 yang diselenggarakan Perki (GATRAnews/Januar Rizki)

Jakarta, GATRAnews - Penyebab kematian akibat penyakit kardivaskular (jantung) merupakan tertinggi di dunia termasuk Indonesia. Sayangnya, pelayanan kesehatan pada jenis penyakit jantung ini masih belum merata kualitas di Indonesia. Pernyataan tersebut diutarakan Ketua Annual Scientific Meeting of Indonesia Heart Association 2016, Dr Daniel Tobing dalam acara peringatan 25 tahun Asmiha di Hotel Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Jumat (15/4).

Pertemuan Asmiha merupakan pertemuan ilmiah ahli jantung yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki). Sejumlah ahli jantung termuka baik dari Tanah Air maupun luar negeri mengetengahkan temuan-temuan ilmiahnya dalam Asmiha. Tak terkecuali para dokter di daerah yang mempresentasikan hasil inovasi karyanya yang ditemukan di lapangan. 

Daniel menjelaskan tidak meratanya pelayanan terlihat dari sisi kuantitas dokter antara perkotaan dan desa. Ia menjelaskan dokter yang ahli dalam penyakit kardivaskular cenderung memilih bekerja di kota daripada desa. "Banyak dokter lebih memilih (bertugas) di perkotaan daripada desa. Indonesia memiliki modalitas yang berbeda-beda dalam layanan kardiovaskular, termasuk di dalamnya kompetensi para dokter belum merata," kata Daniel. 

Daniel melanjutkan saat jumlah dokter kardiovaskular masih terbatas. Jumlah dokter kardiovaskular saat ini sebanyak 860 dokter. "Jumlah dokter yang masih kecil dibandingkan jumlah penduduk dengan rasio 300 dokter untuk 100.000 penduduk menjadi tantangan tersendiri," kata Daniel. 

Selain tenaga medis, fasilitas kesehatan juga menjadi kendala. Daniel mengatakan kesenjangan fasilitas kesehatan antara primer seperti puskesmas dengan tersier, rumah sakit, sering terjadi. 

Ia mengimbau kepada pemerintah segera memperbaiki layanan kesehatan primer agar standarnya sama dengan tersier. "Kami mengimbau kepada pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan fasilitas kesehatan di layanan primer. Selain itu, pemerintah juga harus memberikan pelatihan secara teratur untuk tenaga kesehatan," kata Daniel. 


Reporter: Januar Rizki

Editor: Nur Hidayat

Januar
15-04-2016 18:39