Main Menu

Kontroversi Keamanan Kafein 

Dani Hamdani
04-05-2016 11:45

Kontroversi Keamanan Kafein (Dok Majalah GATRA, April 2016)

[quote width="auto" align="left|right|none" border="blue" color="brown" title="Sahlini Dixit"] "Kami tidak menemukan bukti bahwa frekuensi konsumsi kopi, teh dan cokelat berkaitan dengan jantung berdebar-debar. Tidak minum ataupun minum, angkanya tidak jauh berbeda,"[/quote]

 

 

Baginya, kopi membuat ia selalu bersemangat. Kopi dianggap sebagai obat menghilangkan kantuk. Ia mulai minum kopi sejak duduk di bangku SMA, dan mulai ketagihan sejak bekerja. "Kalau enggak ngopi rasanya ada yang kurang," ujar wiraswastawan ini kepada GATRA, Jumat pagi pekan lalu.  

 

Selama ini banyak orang menduga, kopi menyebabkan jantung berdebar-debar. Sedangkan jantung berdebar-debar merupakan salah satu petanda penyakit tekanan darah tinggi alias hipertensi. Jika diabaikan, itu akan menimbulkan penyakit jantung, ginjal, dan stroke. Kafein, yang terdapat dalam cokelat, rokok, dan kopi, dituding sebagai penyebab semua penyakit tersebut, meski pengaruhnya bersifat individual. 


Padahal, tidak demikian menurut studi yang dilakukan Sahlini Dixit, peneliti pada Universitas California, Amerika Serikat. Bersama koleganya, Dixit melakukan meta-analisis terhadap berbagai studi yang melibatkan 1.388 partisipan. Sebanyak 46% pria dan sisanya wanita. Rata-rata mereka berumur 72 tahun.  

 

Dixit dan koleganya ingin melihat dampak pemberian minuman berkafein terhadap jantung berdebar. Partisipan terbagi dalam beberapa kolompok berdasarkan konsumsi minuman: hanya minum air putih dan minum minuman berkafein seperti kopi, teh dan cokelat. Kelompok peminum berkafein dibagi lagi berdasarkan frekuensi minum. 


Metode pemeriksaan denyut jantung dilakukan dengan holter, sejenis perangkat seperti elektrokardiogram (EKG) yang ditempelkan di dada. Bedanya, holter memiliki empat kabel yang ditempel di dada saja, sedangkan EKG 12 kabel. Perangkat ini akan mengecek denyut nadi selama 24 jam. Dalam sehari, biasanya jantung berdenyut rata-rata 100.000 kali.  


Holter tadi akan mencatat angka kejadian denyut jantung dalam empat kategori: premature ventricular complex (PVC), premature arterial complex (PAC), supra-ventricular tachicardy (SVT), dan ventricular tachicardy (VT). PVC adalah suatu kondisi bilik jantung berdenyut lebih dulu sebelum serambi bedenyut. Sehingga, sewaktu bilik berdenyut belum ada darah yang dipompa. Normalnya, darah dipompa dari serambi lalu ke bilik jantung.  


PAC adalah serambi berdenyut lebih dulu sebelum ada darah di serambi. Kemudian SVT, yaitu irama jantung lebih cepat daripada denyut bilik. Ini yang kerap menimbulkan gejala jantung berdebar dan pingsan. Yang terakhir, VT merupakan irama jantung berdenyut kencang pada saat darah belum tersedia di dalam bilik. Perbedaan kategori hanya bisa dilihat dari grafik seperti hasil EKG. 


Hasilnya, jumlah kejadian PAC, PVC, SVT dan VT tidak berbeda secara signifikan antara yang minum minuman berkafein dan yang tidak. Kejadian PAC pada relawan yang tidak minum kopi, misalnya, hanya dua kejadian per pekan. Sedangkan sisanya hanya 3 atau empat kejadian per pekan. Angkanya tidak jauh berbeda dari peminum teh dan cokelat dengan dari berbagai frekuensi konsumsi.  


Kemudian, Dixit dan kawan kawan juga melihat efek pada aritmia (irama jantung). Angkanya tidak berbeda jauh. "Kami tidak menemukan bukti bahwa frekuensi konsumsi kopi, teh dan cokelat berkaitan dengan jantung berdebar-debar. Tidak minum ataupun minum, angkanya tidak jauh berbeda," ujarnya seperti dilansir Journal of American Heart Association baru baru ini. "Rekomendasi yang meminta pengurangan konsumsi produk kafein untuk mencegah penyakit jantung yang berkaitan dengan ritme jantung, perlu dipertimbangkan kembali."  


Hasil studi Dixit menjadi salah satu pembahasan di sesi ilmiah pertemuan Perhimpunan Kardiologi Indonesia, di Hotel Rizt Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Ahad pekan ketiga April 2016. 

 

Kopi tanpa Gula dan Creamer

Dalam pertemuan itu, Sunu B. Rahardjo, dokter spesialis penyakit jantung, yang mendalami jantung berdebar dan berpraktek di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Slipi, menanggapi studi tersebut. Menurutnya, jantung berdebar pada peminum kopi, teh dan cokelat lebih dipengaruhi faktor psikis. Sebab, jantung bedebar yang dialami peminum hanya terjadi pada beberapa jam setelah meminum kopi dan berlangsung satu hingga dua hari saja. 


Sunu mengambil contoh pada studi dokter David Robertson, farmakolog pada Universitas Vanderbilt, Tennessee, Amerika Serikat. Dalam riset yang melibatkan lebih dari 18 relawan, Robertson dan koleganya membandingkan antara konsumsi air putih (A), tidak peminum kopi sebelumnya tapi diberi minum kopi (B), peminum kopi ringan (kelompok C) dan peminum kopi berat (D).

 

Kelompok B-D diberikan minum kopi 250 miligram. Kemudian tensi mereka diukur dan dilihat tekanan darah sistolik dan diastolik. Sistolik adalah tekanan darah saat jantung bekerja memompa darah, sedangkan diastolik pada saat jantung beristirahat.  


Penelitian selama dua pekan ini menunjukkan hasil: tensi peminum kopi naik setelah dua jam minum kopi. "Sesudah itu tensinya kembali normal," katanya. Itu pun hanya berlangsung satu-dua hari pertama. Sunu menduga, peningkatan tensi berkaitan dengan hormon efinefrin dan nor-efinefrin. Efinefrin berfungsi menarik kontraksi pembuluh darah, sedangkan nor-efinefrin sebaliknya.  


Sunu bilang, yang membuat kopi aman diminum lantaran terdapat antioksidan di dalamnya. Antara lain, asam klorogenik, asam fenolik, dan deterpanes. Antioksidan ini bertugas menetralkan efek kafein. Asam klorogenik misalnya, memberi efek meningkatkan homosistein yang berfungsi sebagai antioksidan di dalam tubuh.  


Toh, tidak dimungkiri adanya beberapa kasus orang berdebar dan mag lambung seusai menyeruput kopi. Diduga, asam lambung meningkat dan mengalir ke atas sehingga menimbulkan heart burn, yakni dada seperti terbakar. Jantung berdetak kencang adalah salah satu gejalanya.

  
Namun, tidak semua minuman berkafein baik bagi tubuh. Minuman cola juga mengandung kafein, tetapi di dalamnya terdapat gula yang berisiko terhadap diabetes. Kopi yang baik, kata Sunu, adalah kopi yang tidak dicampur gula dan creamer.

 

Zat-zat tambahan itu bisa memicu bertambahnya kolesterol dalam darah. Penambahan creamer untuk mengurangi efek negatif kafein dianggap tidak beralasan.  

 

Begitu pula kafein yang terdapat dalam energy drink. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengungkapkan bahwa minuman berenergi yang mengandung kafein akan memberikan efek negatif yang mematikan.  


Pertanyaannya, seberapa banyak kopi yang dianjurkan? Sunu bilang, itu tergantung bagaimana tubuh menoleransi jumlah kopi yang diserap tubuh. Ada orang yang hanya sanggup minum dua gelas sehari, ada pula yang sanggup tujuh gelas sehari. 

 

Menanggapi studi tersebut, ahli gizi Institut Pertanian Bogor, Profesor Ali Khomsan, mengatakan bahwa minum kopi bisa memberikan efek diuretik. Peminum akan sering buang air kecil. Efek diuretik baik untuk kesehatan karena bisa mengurangi risiko penyakit batu ginjal.  


Selain itu, kafein juga membuat orang terjaga sehingga orang tidak mudah mengantuk. Meskipun begitu, Ali mengingatkan agar penderita hipertensi tidak minum kopi karena dapat memperparah penyakitnya. "Minum juga secukupnya," katanya kepada GATRA.  


Aries Kelana 

Kesehatan, Majalah GATRA, No 26 Beredar Kamis, 28 April 2016 

Dapatkan di toko buku terdekat, lewat GATRA KIOSK atau Toko Buku digital lain. 

 

Dani Hamdani
04-05-2016 11:45